Menulis, itu sudah cukup

Saya adalah orang yang sangat enggan menulis. Bagi saya menulis adalah pekerjaan yang sangat membingungkan, bagi saya apalagi bagi orang lain yang membaca tulisan saya. Pada akhirnya tidak ada yang mengerti apa yang ingin diutarakan, termasuk saya sendiri. Menulis adalah hal yang tidak menjunjung tinggi privacy, karena selalu ada bukti atas apa yang ingin diutarakan. Bahkan, untuk ukuran tulisan pribadi-pun di era digital ini, bisa jadi sangat rentan sekali untuk “tidak menjadi pribadi” lagi. Alhasil, saya sangat suka berbicara saja, termasuk berbicara sendiri misalnya.

Hal yang saya banggakan dari berbicara sendiri adalah saya dapat menyimpan semua apa yang ada di otak saya, sendirian. Tidak ada bukti, tidak ada jejak, semuanya aman terkendali di otak sendiri. Tetapi, lama kelamaan otak ini, yang katanya memiliki memori tak terbatas, punya keterbatasannya juga. Bukan dari memorinya yang terbatas, tetapi dari si empunya otak ini membatasi kemampuan otaknya sendiri. Alhasil, semua memori dari hasil perenungan bersama tembok-tembok kamar, menghilang seiring waktu.

Saya pikir ini adalah poin titik balik dari apa yang saya yakini sedari dini, bahwa privacy lebih penting dari isi. Ya, bodoh memang. Ego saya akan sebuah privacy untuk diri sendiri, menyebabkan segala isi pemikiran punah tak berbekas.

“Ingatan boleh tajam tapi ingatanmu takkan selamanya, maka menulislah.”

Paling tidak ini yang saya baca dari situs web yang berisikan petuah-petuah motivator terkenal. Maka, membacalah saya. Membaca quote orang yang paling saya kagumi, Pramoedya.

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Benar, sangat benar. Menulis itu memang lebih abadi, paling tidak ketika dirimu menulis dan tidak dibaca orang, tetapi engkau sudah menulis untuk dirimu sendiri. Menulis itu bagi saya untuk menumpahkan segala pikiran, gagasan, dan curhatan. Semenjak menulis apapun yang saya ingin tulis, saya lebih ringan, lebih punya pelampiasan lain selain bicara dengan tembok kamar, dan lebih tidak gampang sakit akibat stress. Ini yang penting. Kalau tidak menulis, rasanya pikiran penuh semua mengganjal di otak ini.

Banyak orang yang takut untuk menulis, karena banyak yang tidak suka kritik. Come on, masa kalah sama saya yang tulisannya begini saja masih berani menulis di media sebesar ini. Sesimpel ini, kalau ingin menggapai sesuatu maka berjalanlah, kalau ingin senang ya tertawa saja, kalau ingin sedih silakan menangis, dan apabila ingin menulis ya menulislah. Itu sudah cukup.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.