Sebab itu Saya Menulis
Tentunya apabila sudah pernah membaca mengapa saya menulis di story sebelumnya, kalian mengerti alasan mengapa saya menulis. Pastinya bukan hanya itu, seiring dengan berjalannya waktu saya punya motivasi lain (in moment) selain yang pernah saya ceritakan. Pada saat-saat tertentu saya ingin menulis karena memang itu pelampiasan, di saat yang lain saya ingin menulis karena terpaksa, seperti keadaan saya saat ini.
Saya tahu, saya bukan orang yang dapat mengutarakan apapun dengan jelas lewat lisan maupun tulisan. Saya termasuk perempuan yang pendiam, tidak akan bicara bila tidak ada perlunya. Terkadang saya sangat malu untuk mengutarakan pendapat saya, karena takut pendapat saya ditolak mentah-mentah oleh si pendengar, padahal saya tahu bahwa tidak semua orang bisa menerima pendapat orang lain karena mereka memiliki keyakinan sendiri-sendiri. Hal tersebut membuat saya tidak biasa mengungkapkan pendapat. Lalu pelampiasannya? Ya menulis ini, walaupun hanya untuk diri saya sendiri.
Dalam keadaan terpaksa seperti saat ini, saya mendadak jadi menulis sangat sering (bukan untuk permasalahan pekerjaan). Bukan karena apa-apa, tetapi semua aspirasi saya terkantongi dengan rapat tanpa bisa keluar. Bukan karena subjeknya, bukan juga karena objeknya, tetapi lebih cenderung karena diri ini sudah tak bisa bertutur kata ketika berhadapan dengan orang lain *tssaaaahh. Apalagi dengan orang yang lebih tua, seakan-akan saya sudah tahu apa yang mau mereka katakan saat saya mengutarakan pendapatnya. Kadang saya merasa memiliki bakat membaca pikiran yang sangat terasah, tapi sayangnya itu salah.
Saya muak berkutat dengan pikiran saya sendiri. Mulai gila rasanya. Bahkan saya sendiri kehilangan kata-kata ketika berbicara dengan pacar saya. It’s insane! Hanya ada satu cara bagi saya untuk memuntahkan segala pikiran dan gerundelan saya. Menulis. Menulis, dan Menulis. Membaca sebanyak-banyaknya lalu menulis lagi. Entah apa yang ditulis dan entah apapun hasilnya. Jika tidak, mungkin akan benar-benar gila. Gila sepenuhnya.