Secangkir Kopi di Depan Pintu

natani
natani
Aug 23, 2017 · 3 min read

Diawali dengan melihat kebahagiaan orang lain, lalu berakhir mempertanyakan diri sendiri.

Sudahkah kamu bahagia?

Pernah pada suatu hari hujan, aku berpikir mengapa hidup yang kujalani terkesan seperti sesuatu yang … hmm, dipaksakan?

Saat itu aku sedang mengingat-ingat masa lalu, masa kecilku, proses hidupku, segala kenangan yang tiba-tiba muncul lalu terbayang kembali. Seperti kaset lama yang diputar.

Hujan memang selalu seperti itu. Aku benci, perasaan itu.

Setelah aku mengenangnya dengan baik, aku menyadari beberapa hal. Misalnya proses memilih hingga menjalani hidup ini, bagiku hanya sebuah keterpaksaan saja. Semua merupakan andil orang tua. Semua berdasarkan pertimbangan, secara langsung maupun tidak langsung, dengan konsep sosialnya.

Sampai pada suatu hari, aku menyadari, aku tidak benar-benar bahagia. Sangat jelas sekali kenangan itu nampak. Saat itu aku berumur 22 tahun dan mulai masuk ketahap akhir kuliahku. Setelah kesadaran yang entah benar atau salah itu muncul dipikiranku, aku memutuskan untuk mencari kebahagiaanku sendiri, dan bagiku itu dapat diperoleh dengan kebebasan. Juga uang.

Aku memutuskan pergi lagi, selalu begitu. Selalu pergi, selalu menghindar. Aku pergi jauh dari rumah, dan melakukan apa yang aku anggap benar dan membuatku lebih bahagia. Seperti narkotika rupanya uang dan kebebasan itu, membuatku kecanduan. Melakukan hal-hal yang dahulunya dianggap salah di dalam konsep sosial, sekarang seakan-akan semua mendukung dan didukung.

Sampai pada akhirnya kesedihan itu muncul, kesenangan milik pribadi yang macam narkotika itu sudah habis dimakan waktu. Bosan dan akhirnya merasa kesepian. Tiap hari yang kulakukan hanya membunuh rasa sepi itu. Tapi entah mengapa makin buruk jadinya.

Aku tau, sebenarnya banyak yang bisa kulakukan selain meratapinya, misalnya berkumpul dengan teman-teman atau paling tidak berjalan sendiri menyusuri kota, seperti biasa. Tapi, manusia mana yang dapat sebersyukur itu? Manusia lagi-lagi cepat bosan dan menggantungkan segala kebahagiaannya pada suatu keinginan. Apabila keinginannya tidak terpenuhi, sudah pasti dia tidak bahagia.

Seperti pada kasusku ini. Setelah kebebasan ku dapatkan, aku tak segera menggunakannya dengan membabi buta, hanya mencicipi segala macam kemungkinan yang datang, baik atau buruk. Lalu tibalah pada suatu ketika dimana hal yang tidak pernah terbayangkan terjadi. Aku jatuh cinta.

Hal yang sangat kuhindari setelah berbagai kejadian menimpaku hidup-hidup. Menelan seluruh kebahagiaan dalam hidupku sebelumnya. Dimana aku pernah berjanji tidak akan mencintai barang setetespun.

Tapi tidak dengan perempuan ini. Bagiku dengannya semua menjadi nyata. Aku diingini, aku dicintai, aku benar-benar merasa hidup, berhasrat, bersemangat dan menjadi diriku kembali, oleh orang yang aku ingini. Perlu diulang kembali, oleh-orang-yang-kuingini.

Dia merupakan sosok ideal dambaanku. Benar-benar idaman. Caranya membawa diri, caranya bertutur, caranya memperlakukanku, benar-benar tidak pernah kulihat dan kurasakan sebelumnya. Memang aku selalu tertarik pada hal-hal yang tidak umum, kalau kata orang. Dan akhirnya aku benar-benar jatuh cinta. Dan bejatnya, aku benar-benar tidak mau kehilangan lagi.

Seperti anak kecil yang diberikan boneka oleh bapaknya, dan tidak akan melepaskannya walaupun saat tidur ataupun mandi, begitulah jika diumpamakan. Aku mulai menggantungkan segala kebahagiaanku, dipundak seorang wanita yang usianya 3 tahun lebih muda daripadaku. Terdengar egois dan sakit memang, tapi itulah yang kurasakan. Rasa dari seseorang yang selalu diambil paksa kebahagiaannya.

Tetapi, seerat-eratnya menggenggam seekor burung agar tidak lepas, akhirnya akan mati juga. Dia senang kebebasan, dia tak tahan dengan segala perlakuanku dan mungkin juga bosan. Aku berusaha sekuat mungkin untuk membuatnya bertahan karena komitmen bodoh yang kubuat. Ya, komitmen bodoh berupa, “aku berjanji tidak akan mencintai sebegini besar lagi kepada siapapun, cukup satu ini. Dan tidak ada seorangpun lagi, cukup satu ini.”


Tidak ada yang abadi, apalagi manusia, tidak ada yang membosankan. Aku salah satunya. Itulah mengapa aku banyak ditinggalkan. Paling-paling mentok hingga mereka mencapai puncak sukses, lalu pergi. Itulah yang selalu aku dapat.

Bagaimanapun, apa yang diberi harus diambil. Entah kapan dan dengan cara apa. Apapun yang dia katakan padaku dulu, kini hanya tinggal menunggu waktu ajalnya. Tidak banyak yang bisa kuharapkan. Seolah-olah hanya 1 orang yang bertanding di lapangan ini, sedangkan yang lain sedang bertanding dengan hal lain.

Mungkin memang benar, kami tidak sama-sama bersyukur telah memiliki satu sama lain, selalu ada hal yang kurang, memang sungguh kami ini manusia yang masih mencari.

Kesepian datang lagi. Tidak dengan bentuk yang sama. Ini lebih dalam. Bahkan lebih pekat terasa saat aku ada bersamanya. Kesepianku dulu tidak sesakit ini, karena kesepianku dulu tidak menimbulkan harap dan kenangan.

Aku ingin bertahan, aku masih mencintai kebahagiaanku. Aku ingin tahu batas kekuatanku untuk bertahan di kesepianku yang pekat ini. Seperti secangkir kopi hitam yang kau buat lalu habis kau hisap, kemudian kau taruh di depan pintu.

.

Ya, kau kembalikan aku lagi di depan pintu. Aku terbuang, habis, dan hanya bisa diam, menunggu. Aku hanya bisa mengingat bibirmu..

)

    natani

    Written by

    natani

    i have too much imagination to just be one gender

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade