Galau…

Kata ini selalu melekat pada diriku. Aku memang mudah rapuh, tak perlu lama untuk mengenal bagaimana karakterku. Karna memang mimik wajah dan bahasa tubuh tak bisa berbohong, Walau pikiranku berusaha mati-matian menganggap semuanya baik-baik saja. Entah sejak kapan “galau” tersemat di sapaan orang- orang terhadapku hingga saat ini. Pikiran ku menolaknya, namun batin ku mengiyakan. Saat ini aku tak tau berpijak di atas mana. Apa aku di batang pohon yg kokoh, atau hanya di ranting saja. Terkadang menangis membuatku merasa semakin penat dan sesak. Hingga ingin ku lupakan apa yg sedang ku pijak. Ingin ku pasrahkan pada waktu, untuk memperjelas tempat ku berdiri ini. Namun ketakutan selalu mengiringi.

Aku takut.

Aku belum siap.

Namun, Aku tak mau menjadi budak galau. Aku juga takut kalau nanti aku tak sekuat yg ku bayangkan, Untuk menebus segala kesalahan yg ku perbuat pada diriku sendiri.

(Bersambung)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.