Di Bawah Langit Sore

di manakah kekuatan ketika aku membutuhkannya? aku mencari di wajah-wajah orang asing, berjalan cepat, bersenggolan bahu, membawa pikiran masing-masing. aku melihat ke dalam mata mereka, berusaha menemukan apa saja yang bisa kujadikan alasan.

tetapi yang kudapat justru kecemasan mereka yang menular, menjangkit menambah panjang pencarianku. tidak ada yang peduli sama sekali, ketika di tengah ramai itu seseorang sedang menghilangkan dirinya sendiri dan lebur menjadi debu jalanan yang tidak dianggap. apalah arti satu, jika angka-angka lainnya berterbangan di kepala mereka.

kakiku melanjutkan perjalanan, sambil kulihat langit yang ditutupi daun-daun kuning dan dahan-dahan ramping. di sela-selanya, cahaya menyembul sedikit-sedikit, seperti berusaha mengatakan sesuatu.

sore semakin tinggi dan merias dirinya sebagai pengingat yang baik. menunjukkan betapa langit tidak pernah berbohong. ia memiliki empat wajah dan selalu kuhitung pergantiannya dengan hati-hati. aku tahu, ketika di atas kepalaku sore sedang cantik-cantiknya, berarti di sudut lain badan langit, malam sedang menjulang di tengah-tengah.

tak terasa telah kutahan basah di pelupuk pandanganku. sore mulai mendung. hatiku memanas. ujung jariku semakin dingin. kakiku berhenti melangkah. tanyaku tak lagi mencari, sebab jawaban ternyata lebih jauh dari yang kutelusuri, meski sangat dekat kuingat dalam tubuhku sendiri.

hatiku ngilu, langit turut membagi kelu. ibu, anakmu rindu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.