Perspektif: Abon Ayam

menyederhana
Nov 6 · 5 min read

191106

Tidak pernah ada lebih dari satu pikiran yang bisa terus menerus sejalan, sepakat, dan sepaham dalam menghadapi pilihan. Tiap-tiap isi kepala dan perasaan seseorang selalu unik. Selalu aneh. Selalu beda dari yang lain. Selalu, entah hanya sepersekian persen pun itu. Se. La. Lu. Maka, tiap ada yang bilang saya “berbeda” saya merasa hal tersebut lumrah-lumrah saja. Tapi ternyata, makin jauh menempuh perjalanan, makin saya sadar bahwa, yaa mungkin memang pikiran saya seaneh itu.


2013. Ada teman SMA saya yang nyeletuk, “Alhamdulillah yaa Ai’ sekarang jilbabannya sempurna, udah nggak copot-copot dan upload foto nggak pakai kerudung lagi. Suka deh, makin istiqomah dengan hijrahnya.”

Detik itu adalah kali pertama saya mendengar kata istiqomah diucapkan secara langsung ditujukan untuk saya, maka saya cuma bisa membatin, Ini istiqomah darimananya yah? Perasaan dari dulu juga saya berjilbab karena gerah banget dengerin cat calling kalau lagi ngangkot/ngebis, bukan cuma karena patuh sama aturan agama. Kalau kayak gitu dihitung istiqomah juga?

Cuma ya, jujur, saya merasa senang-senang saja ada yang bilang begitu ke saya, sederhananya, karena saya berani ambil tindakan dan ternyata ada yang apresiasi. Tapi, semisal pun nggak diapresiasi juga saya tetap senang. Soalnya? Ya karena sikap yang saya ambil itu ternyata baik untuk saya dan banyak menghindarkan saya dari keburukan di kedepan-kedepannya.

Awal 2017. Ada segerombolan teman wanita saya yang tiba-tiba mendekat dan salah satunya menepuk bahu saya. Teman saya berkata, “MasyaAllah ukhti,” sambil memegang jilbab saya yang kala itu memang saya biarkan terjulur begitu saja. Kemudian ia melanjutkan, “Kok bisa sih pake yang kaya gini?”

Drngan santai saya menjawab, “Iya nih telat mulu soalnya jadi pake yang instan. Ini juga ngga panas kok bahannya. Adem.”

Kemudian salah seorang lain di gerombolan itu berkata, “Maksudnya tuh panjang panjang gitu lho kerudungnya, terus gamisan. Kan nggak gampang untuk gitu,” dan mereka pun berlalu, meninggalkan saya yang bengong cukup lama di tempat.

Lhah padahal saya beneran pakai gamis dan jilbab instan (yang memang panjang) gini karena saya merasa ini nggak ribet (untuk dipakai asistensian jam 06.00 pagi, yang seringnya saya mepet bangunnya)— gamis polos warna netral kan bisa dipadu padankan dengan jilbab apa saja, jilbab instan juga tinggal slusup langsung on. Toh jilbab yang saya pakai juga mayoritas dari dulu seringnya saya biarkan terjulur. Toh, lagi, dari lama juga saya (rasanya) sudah berpakaian yang menutup aurat.

Jadi apa bedanya dengan saya yang biasanya?

Akhir 2018. Saya mulai sesekali mengunggah tulisan saya di story instagram. Saya bukan penulis, melainkan saya hanya orang yang menulis. Saya menulis tentang apa saja yang benar-benar terasa ingin saya tulis. Maka mulailah beberapa orang ramai mengutip tulisan saya kala berada dalam forum atau sekedar berdialog sehari-hari dengan nada berseloroh. Beberapa orang lantas beralih melabeli saya sebagai pecinta puisi, kopi, dan senja (saat yang saya tulis adalah prosa dan semua orang terdekat saya juga tau kalau saya nggak suka kopi), beberapa yang lain masih haqqul yaqin melabeli saya sebagai “ukhti” sebab tulisan saya sering menyisipkan hal-hal yang berbau religius (di saat saya sendiri sebenarnya malah merasa bahwa saya adalah seseorang yang cenderung spiritualis). Padahal aslinya saya sudah konsisten menulis sedari saya SMP dan tulisan saya seringnya memang seputar yang begitu-begitu saja — cenderung personal berbalut fiksi atau, yaa, sejenis tumpahan-tumpahan abstraknya isi kepala saya gitu.

Saya tuh nulis, ya nulis aja, sebab, sekali lagi, saya ini orang yang menulis, bukan seorang penulis. Saya menulis seperti sedang melakukan perjalanan yang saya sendiri juga kadang nggak tau tujuannya apa. Namun jika di tengah perjalanan saya menemukan atau malah ditemukan (oleh) sesuatu maka tentu saya akan menerima dan mengambil sebaik-baik manfaat darinya.

Jadi apanya yang berubah-ubah? Saya tetap diri saya yang konsisten menulis dengan begitu-begitu saja juga kok.

Menjelang kuarter akhir 2019. Pada suatu forum, saya datang mengenakan rok, berkaos kaki, berjilbab menutup dada, seperti biasanya, hanya saja memang lengan baju saya lumayan mudah tersingkap kala itu. Ada seorang muslimah yang melirik ke arah pergelangan tangan saya lamat-lamat sambil memegang pergelangan tangan wanita lain yang pergelangannya tertutup lalu berkata, “Wah sekarang kamu hijrah yaa fulanah,” kepada wanita tersebut, tapi tetap sambil menatap ke arah saya.

Kemudian, saat saya sedang mengunggah unggahan milik Mbak Kalis, muncul pula banyak pernyataan di dm saya yang senada dengan, “Ada baiknya yang diangkat itu penekanan dalam adab berumah tangganya, coba lihat lagi syariatnya.” Saya bilang, “Bagian mananya yang tidak sesuai syariat?” katanya tidak ada. Terus saya tanya lagi, “Lah terus?” Maka dijawablah saya dengan, “Persepsi orang tuh bisa beda-beda dan dibolak balik, maka lebih baik berhati-hati.” Dan saya nanya lagi di percakapan itu, “Hehe, sudah baca belum mas draftnya?” Maka jawaban yang diberikan mengisyaratkan bahwa percaya dengan pendapat alim ulama adalah salah satu keutamaan.

Dan yang paling akhir, saat tengah mengobrol via telepon, ada teman saya yang nyeletuk bertanya, “Jadi Ai’ hijrah atau enggak?” di tengah perbincangan yang saya rasa aneh karena tau-tau bisa menanyakan hal demikian.

Semisal semua ini terjadi di grup Line, mungkin saya sudah mengunggah stiker animasi Brown yang penuh dengan tanda tanya dan memasang mimik muka, “HAH gimana???” gitu. Sebab rasanya diri ini juga nggak pernah memproklamirkan atau bahkan sekedar mengisyaratkan kalau saya (memiliki pemahaman atau setidak-tidaknya sudut pandang yang sama dengan segenap kaum yang berlabel sedang/sudah) hijrah.

Lagi pula, definisi hijrah itu sendiri memang apa menurut orang-orang? Bukankah secara harfiah hijrah artinya berpindah? Berpindah dari waktu ke waktu. Berpindah dari yang kemarin ke sekarang. Berpindah dari yang kurang baik menuju baik.

Lha bukankah tiap orang ki yo hijrah to nda? Tiap hari, jam, bahkan detik, semua orang berhijrah menurut takaran dan keyakinannya masing-masing. Setiap saat kita selalu berpindah dan bertumbuh — entah dalam perkara apapun itu.

Baru saja dua minggu yang lalu. Ada seorang teman yang bercerita mengaku sedang mengalami quarter life crisis di hidupnya, termasuk salah satunya di bidang kepercayaan dan keagamaan. Di tengah cerita saya diceletukin, “Kamu tuh enak ya Ik. Udah nemu.” Terus saya tanya balik, “Lhah darimana kamu tau saya udah menemukan?” Sambil tertawa orang ini bilang, “Kelihatan aja dari tulisanmu kalau kamu ngelakuin sesuatu tuh nggak bisa asal ngelakuin. Kelihatan kalau kamu udah nyari dan udah nemu.”

Sambil tertawa juga saya menjawab, “Lhoh aku nggak nemu, aku tuh ketemu, atau lebih tepatnya, aku ditemukan. Aku ditemukan saat aku nggak nyari. Malah kayaknya, aku tuh nggak pernah nyari. Ya mung ketemu, ditemukan aja… Terus ya hidup itu kan soal proses. Kita berproses terus, bertumbuh terus, belajar terus. Gitu kan?” — karena emang gitu nggak sih?

Ibarat Rasulullah SAW yang ditanyai Malaikat Jibril tentang kapan datangnya hari kiamat, saya selalu meerasa, “Yang ditanya tidak lebih tau daripada yang sedang bertanya.” sebab kita ini kan pembelajar, nggak pernah benar-benar tau akan segala sesuatu. Maka bukankah tiap langkah yang kita ambil (semestinya) adalah proses untuk saling belajar sekaligus saling jadi lahan belajar?


Manusia dengan segala (yang dianggapnya sebagai) kehormatan, norma, dan label-labelnya — cak, aseli, aku ki paling ndak mashok mashok o tenan perkara ngene iki.

Bagaimana bisa sih sistem otak manusia mengkotak-kotakkan segala sesuatu dalam sempitnya label yang sedemikian rupa, saat nurani mereka sendiri mengaku bergejolak kala hak personifikasi mereka dirampas?

Hidup kan tidak hanya soal hitam atau putih. Bukan karena ada abu-abu, melainkan karena ada banyak warna lain — biru misalnya. Anggaplah saya ini biru di antara hitam, putih, dan abu-abumu.

Biru benhur? Biru langit? Biru dongker? Atau biru apa?

Birunya hariku? Atau birunya hatiku kala mendengar itu semua?

— sebab identitas saya adalah nilai, bukan label.

Flight idea?

Iya ini sengaja.


Mohon maaf apabila usaha nyelimur saya gagal. Sering memang saya ngerasa kepala ini isinya abon ayam, di saat normalnya terisi segenap axon dan dendritnya neuron.

Semangat ya abon-abonku, perjalanan (insyaAllah) masih panjang dan makin hari akan makin sulit ditempuh nantinya, jadi janganlah engkau cepat magrok ok? Xixixi.

*mengelus elus kepala sendiri*

*sebab kalo dielusin orang lain nanti makin banyak pertanyaan yang ditujukan dan harus dijawab abon-abonku*

*dan ya emang mau dielusin siapa juga???*

Wassalam.

    menyederhana

    Written by

    where my armor ends & my skin begins

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade