Adinda Mauradiva
Sep 1, 2018 · 5 min read

Kita Bukan Seni, pun Jogja dari Surabaya dan Sekali Lagi

Kau berkata pada suatu malam kalau ingin meninggalkan Surabaya barang sebentar saja. Kau peluk aku dari belakang, menyelimutiku lebih erat saat tanganku memilah kue kering yang akan dilahap mulutku. Kita berbaring santai di karpet usang sambil menonton serial kartun lawas kesukaanku di teve; tetapi kau menginginkan kita menjadi seni.

Maka pada sore hari itu---di jadwal yang sudah aku tidak ingat lagi dengan tiket yang barangkali sudah terbawa angin---kita berusaha mencegat kereta yang hampir setengah jalan menarik diri dari rel Stasiun Gubeng, terus melambaikan tangannya kepada lapak jajanan murah, bubungan asap kretek, kakek-kakek yang ketinggalan jam kereta, dan tentu saja Surabaya. Kau bilang tidak usah berbekal apa-apa, tidak juga kue kering itu; hanya siapkan berlapis-lapis kain sampai menjuntai dari resleting tas yang kosong melompong dan kehangatan tubuh. Kita melompat ke dalam kereta; menyapa sebentar masinis yang seumur hidupnya menghisap cerutu; menyusuri lorong yang seakan tidak ada habisnya; akan menggapai tali pegangan kereta (kau menuntun tanganku terlebih dahulu), sebelum kursi A, B, C, dan D menawarkan pangkuannya kepada kita persis di depan tutup pintu toilet yang jebol. Bau pesing mengantarkan kita sepanjang jalan menuju ("Kota yang mana?" tanyaku, dan kau jawab, "yang selain Surabaya," aku tahu), tetapi kursi yang terletak di pojok belakang itu mempersilakan kita untuk duduk---dengan matahari yang tidak berbeda dari Surabaya terus berputar; mengejar kereta yang kita tumpangi, tidak mau ketinggalan---menyinari setengah wajahku serta separuh wajahmu, dan aku pikir kita bisa saja terlihat seperti pasangan yang baru menikah.

Matahari bulat masih belum puas bermain kejar-kejaran waktu kaki-kaki kita sudah pegal menggelantung, seperti monyet. Kereta lumayan lengang dengan koridornya yang absen oleh pramugari pesawat; biasanya mengantarkan Pop Mie dan aneka rasanya. Menghadap ke jendela, menonton pohon konifer yang tertiup angin puting beliung, dedaunan pisang sebelum petang datang, gubuk-gubuk reyot milik yangkung dan yangti---semuanya seburam film romansa yang dipercepat---aku mengistirahatkan betis, tumit, dan jari-jari kaki di lututmu, menyandarkan pundakku yang tegang akibat tidak berpindah selama tujuh, delapan jam di kulit kursi yang bercampur bau antara ketiak dan parfum murahan. Menatap jendela yang tengah-tengahnya terembun napas, aku memikirkan banyak hal sambil bertopang dagu. Aku rasa kau baru akan membuka, "Apa yang kau kira, apa yang (akan) terjadi?" tetapi gawai yang kau sembunyikan di celah kursi kulit berbau apak bergetar, dan akhirnya kita bertatapan:

"Ada yang menanyakan tentang kita."

"Jangan bilang itu dia?"

Kau menggeleng, aku menghela napas. "Bukan kita juga sebenarnya, tetapi kita ini ada di mana."

"Kau, 'kan. Luar kota?"

"Tidak. Aku jawab, 'sedang ada di rumah.'"

Rumah. Setelah kau bilang begitu: rumah; tertidur di lipatan siku; kau tidak akan menyaksikan matahari hari ini mulai berguling-guling dari kuning cerah ke oranye lembut kejingga-jinggaan, merah dan ungu berbaur, senja klasik; aku akan kembali bersila atau menekuk kaki, tidak menyuruhmu untuk bangun. Untuk melihat apalagi, langit sudah menggelap sekarang---bermata indigo---kemudian kedua alisku berkerut karena untung saja kau belum menebak apa yang selalu kupikirkan, sebentar-sebentar sempat kutanyakan tentang ekspedisi kita. Kau ingin kita menjadi seni, tetapi kepalaku belum sampai ke sana; masih memutari rumah yang setengah hari lalu di cengkraman kita, di pembaringan karpet sebelum teve berantena dengan remah-remah kue kering cokelat kacang berceceran di mana-mana. Kau berkata ini rumah, jika saja gerbong kereta ini membolehkan punggungmu yang penuh oleh goresan merah di bawah tulang belikat untuk menginap. Jangan harap matras akan digelar, juga suplai bantal dan guling. Ada koper, tas selempang, dan ransel pendaki gunung, tetapi lantai yang telanjang akan tetap berdebu, dingin---meskipun lengan kekasih telah melayang nun jauh di alam satunya.

Kita---atau aku---terbangun oleh ketergesaan, mungkin keterburuan para penumpang. Grasa-grusu. (Apa yang mereka kejar, kereta yang terlambat? Sudah berhenti. Keponakan tidak bakal ada yang menunggu jam segini. Selingkuhan, iya.) Barang-barang mereka yang disegel, barangkali oleh-oleh bandeng asap, diturunkan; sekeliling ruangan sudah sangat gelap, di luar. Aku menoleh saat sebuah tepukan---seharusnya aku merasa familier---mendarat di pundakku. Kau berdiri di samping toilet yang pintunya terdobrak; sedari tadi beranjak dari tempat duduk di seberang; sehingga kau meraba jelas kekecewaan yang tumpah di sekitar wajahku, tanpa sinar matahari, karena yang membangunkanku bukanlah pegangan kencangmu saat ada tanjakan atau polisi tidur, melainkan keramaian orang-orang asing.

Turun dari kereta, mengabaikan keluarga yang menyambut di peron, ke jalan raya kota---tanpa permisi, lupa menyebut namanya, melintasi angkringan yang sudah pernah aku tongkrongi. Beberapa jam dan desa dari Surabaya. Dari rumah. Kita tidak pernah mencari penginapan, tidak perlu, karena kau ingin kita menjadi seni. Kau mencegat langkahku sebelum aku tersandung bakpia busuk atau kerajinan yang terbuat dari kerang, dan bertanya:

"Kau mau ke mana?"

"Aku tidak tahu. Di mana senimu?"

"Itu besok. Kita berangkat ke sana sore-sore."

"Aku mau sekarang."

"Kita makan dulu?"

"Sekarang, Yan. Kalau tidak ...,"

"Ya. Kalau tidak, aku mengerti."

Aku ingat betul kalau besok tinggal hari ke-5 berakhirnya bulan puasa. Kita turun dari angkot merah, menengadah menghadap langit yang bersemburat merah jambu; belum dikumandangi adzan maghrib. Di depan atau belakang pagar putih itu---catnya mengelupas---berjejer dagangan kaki lima berupa es dawet, kolak pisang, atau hanya sirop. Kupandangi emak dan dasternya ("Jangan tambahkan gula banyak-banyak," kataku,) lalu pergelangan tanganmu menggaet entah bagian tangan mana saat aku sempat lupa apa yang membawa kita kemari; jika bukan kau sendiri dan seni.

Seperti tiket kereta, seni ini mungkin sudah terhanyutkan oleh arus got yang bukan kali Jagir. Pertama kali mengunjungi, aku tidak bisa mengerti apa yang akan membuat kita menjadi seni. Terowongan parasut ataupun plastik panjang untuk masuk (kau juga berhati-hati memegang tanganku di sana; takut terjerembap di tanah) bisa digunakan sebagai penampung pakaian kotor, yang biasanya celana panjangmu sehabis mengecat sesuatu. Kayu yang biasa; berderit sekenanya, akan menarik saat kau menginjaknya, mentransformasikan lantai untuk berdansa kepada lagu-lagu The Spaniels. Pigura, lukisan abstrak, ornamen ... ada ruang di tamu; gampang, nanti akan kau tempel, gantung, atau apapun di sana.

Kau sedang mengamati. Lukisan di ruangan yang paling besar; maka aku menghampirimu. Menyilangkan tangan di dada. Aku tidak melihat apa-apa, tetapi:

"Inikah yang kau maksud dengan seni?"

"Inilah yang aku maksud dengan rumah."

"Rumah? Ini? Di sini?"

"Bukan. Denganmu, semuanya rumah."

Aku tertawa. Lalu kita berdua---kita, yang ia inginkan untuk menjadi seni---sekadar menatap lebih lama lagi, untuk semua karya di sini, hampir saja menutup telinga pada adzan untuk berbuka. Hampir saja tidak jadi meminum es dawet yang dijual oleh emak berdaster tadi. Hampir saja, meskipun sepenuhnya sadar, menyebut kota selain Surabaya sebagai rumah; padahal sebenarnya bisa terjadi di mana saja. *

11–18 Jun 2018

A.M.

Adinda Mauradiva

Written by

An idea of a roman writer; opinions on things that matter--or do not matter; essays on thinking, and this is where I write.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade