Tambah Lagi
Aku tahu kita semakin miskin waktu tengah malam menutup gordennya dan pintu kulkas masih membeku; saat terbuka yang tersisa hanyalah roti tawar tempo kemarin, sayur-mayur dari tepi Kebayoran, dan susu basi. Jarang sudah ada cokelat batangan. Lalu pintunya kututup sekali lagi, tanpa memencet lampu agar nyala mati, nyala mati, begitu seterusnya.
Aku tahu kita semakin miskin karena kepalaku melongok ke dalam lemari persediaan makanan--yang dulu aku cintai atas permen Tango dan snek bambu runcing--karena itu, aku terkesiap atas stok mi instan yang menipis; bumbunya mengeras, kripik-kripik tak beraneka rasa, sampai bubuk adonan panekuk yang tidak akan pernah terpakai, meskipun nantinya jadi-jadianku adalah istri rumah tangga yang baik dan penurut.
Aku tahu kita semakin miskin saat ada teman yang biasa-biasa saja menyeletuk: sepatumu ada yang lepas, di tengah anak-anak tangga. Sekujur tubuhku tak sempat menggerutu ataupun mengutuk almari pakaian yang berantakan; penuh dengan acak-acak celana jins berbordir nama terkenal secara asal-asalan dan kaus tak bermerk. Aku ingin menyablon kaus sendiri.
Aku tahu kita semakin miskin waktu rak kayu yang tertata sedemikian rupa di kamarku aus akan buku masa kecil. Tak butuh waktu sebentar, buku-buku di ruangan lain yang tidak pernah dibaca pun turut berpindah tangan. Ke mana, ke saluran got, barangkali. Para kaset juga berpulang, padahal aku bisa menonton Holly Golightly mencicipi bagel, atau croissant, di pagi hari--menatap jendela Tiffany's & Co. dengan penuh damba dan keinginan yang lama, berkali-kali.
Aku tahu kita semakin miskin di garasi rumah dan tukang parkir selalu meninggalkan lantai keramik; lapangan yang terlalu luas untuk tidak dimainkan sofbol. Belum tahu caranya memarkir, tetapi kendaraan itu bersepi; tidur sendiri, diterangi temaram kamar dan asap knalpot dari bengkel. Tomat, cabai rawit, dan mengkudu tumbuh di sela-sela sisinya, seperti parade milik hutan dan kebun.
Aku tahu kita semakin miskin--aku kira--dengan cinta yang terjun dari kesempitan balkon dan kelonan yang melompat-lompat waktu jam tidur berlangsung. Ibadah yang jarang dilaksanakan bersama; makan malam mengundang jin dan kawan-kawannya. Album foto yang kehabisan tempat, berdebu, zaman tua. Sesungguhnya semua ini memang duniawi, materialis, tetapi, ya, tetap cinta di tempat: aku harap.
3 Sept 2018
20.42
A.M.
