to be real human.
Selamat Pagi!
Tidak ada yang spesial di pagi hari yang dipenuhi dengan tugas menumpuk. Ya tugas akhir yang tak kunjung menuju perangkat survey, cucian yang belum disentuh dari kemarin, bunga wisudaan yang kulihat semakin hari semakin mengering tepat di pojok meja belajar kamar.
Tapi…
Satu hal yang menarik, tentang pikiran random dan berkeliaran yang terkadang susah kupahami sendiri. Tapi sekarang bukan hanya pikiran dikepala namun dicampur aduk dengan yang namanya hati.
Akhir-akhir ini kurasakan ada yang mengganggu. Pagi siang sore malam.
Ditemani selimut merah pekat, terbangun, semakin kusadar ada yang mencuri diam-diam dan aku kecolongan walaupun baru sekali, tapi aku takut akan berkali-kali atau bahkan selamanya. Kepala dan hati sekarang sudah tidak bekerjasama lagi.
Dari bangun tidur, terdiam lalu memahami. Kenapa harus begini? mungkin begini rasanya terkurung dan menjadi manusia yang seutuhnya.
Bingung, benci, sedih, senang, rindu, marah, ego, sayang, terus harus bagaimana. Kemudian terlontar dua kata: “hah Yaudahlah”.
Penyakit lama — kebiasaan.
Setidaknya satu hal yang kupelajari dari peristiwa yang tidak cukup penting juga kuceritakan.
Aku hanya paham satu hal tentang menjadi ‘hidup’. Can I live forever?. Inginnya, tapi tentu saja tidak mungkin. Kamu dan saya pun suatu ketika akan mati karena takdir.
Karena untuk menjadi manusia seutuhnya adalah untuk merasakan, membiarkan dan tidak melawan rasa. Karena sejatinya semua manusia adalah baik, yang banyak ada terkadang hanya manusia yang telah kehilangan rasa, khususnya dalam merasakan kasih sayang dan cinta.
We just can feel it, we cannot see the feel of the heart through the cover of our body. We’re really nothing, to be human is to love and feel the soul really deeply.
Selamat menjadi hidup! selamat menebar kasih dimanapun kita berada. Tetap berikan cahaya untuk dunia. Hope that is real as always!

- 27.07.2017
