Cuitan Masyarakat tentang Online Learning Platform di Indonesia

Metha Dwi Karina
Nov 6 · 7 min read
Photo by John Schnobrich on Unsplash

Online Learning Platform

Mempelajari sesuatu kini bisa dilakukan di mana saja, kapan saja. Pertemuan fisik muka dengan muka antara pengajar dan yang diajar bukanlah suatu keharusan. Cukup dengan bantuan koneksi internet, kita bisa belajar menggunakan ponsel pintar di genggaman tangan. Dengan adanya metode pembelajaran secara online, melalui aplikasi ataupun website, dalam bentuk video, forum, e-book, dan lain-lain, memungkinkan para pembelajar untuk mendapatkan akses pendidikan dengan lebih mudah.

Berdasarkan data Google Trends, geliat startup online learning mulai bergairah di tahun 2011 seperti Khan Academy, Udacity, Coursera, dan Udemy. Keempat kelas online ini menawarkan materi berbentuk video, yang mungkin menambah daya tarik para pembelajar. Khan Academy, yang berdiri di tahun 2008, kini diakses oleh seluruh dunia, dimana Indonesia menjadi negara urutan ke-41 yang paling banyak mencari informasi mengenai startup ini.

Tren Pencarian Online Course secara Global
Indonesia Menjadi Negara Urutan ke-41 yang meng-googling Khan Academy

Di Indonesia, startup Zenius Education yang didirikan oleh Sabda PS melangkahkan jejak pertama yang cukup dini di tahun 2009, hanya berselang satu tahun dari Khan Academy. Ketertarikan masyarakat untuk mencari informasi mengenai Zenius pun sudah tumbuh di tahun yang sama, yang kemudian bersaing dengan masuknya Quipper dari Inggris di tahun 2013, dan Ruangguru, startup besutan Iman & Belva, di tahun 2014.

Tren Pencarian Online Course Indonesia

Jika kita mengacu ke data Google Trends di atas, Zenius tampak jauh mengungguli Ruangguru. Data tersebut masuk akal, mengingat Zenius Education merupakan platform berbasis website dimana pembelajar harus memasukan kata kunci Zenius di mesin pencari. Sementara itu, Ruangguru adalah platform berbasis aplikasi seluler (mobile app), dimana pembelajar akan mencari Ruangguru di appstore atau playstore. Mengutip katadata.co.id (08/2019), Ruangguru sudah mencapai 15 juta pengguna, sementara jumlah pengguna yang mengakses zenius.net mencapai 11.9 juta per Maret 2019 yang lalu (kontan.co.id).

Cicit Cuit Netizen

Sebagai salah satu eWOM (electronic Word of Mouth), media sosial memiliki peran penting dalam penyebaran informasi, dan membangun opini publik secara luas. Selain itu, percakapan di media sosial bukan hanya bisa menjadi alat bantu pemasaran, namun juga sebagai data yang diharapkan bisa mewakili isi kepala masyarakat mengenai topik tertentu. (Sernovitz, 2012)

Berdasarkan pemahaman di atas, kita akan memanfaatkan data percakapan di twitter yang diolah oleh Drone Emprit, selama dua minggu (6–20 Agustus 2019) untuk mengetahui bagaimana Ruangguru, Zenius dan Rumah Belajar di mata netizen Indonesia. Di sini, kita akan fokus untuk membahas tiga startup buatan anak bangsa, Zenius, Ruangguru, serta satu produk online learning besutan pemerintah, yaitu Ruang Belajar.

Selain tiga brand di atas, masih banyak startup education lainnya seperti Quipper, Pahamify, Klassku, Edmodo, Kahoot dan Kelase.

Ruangguru paling populer dari segi jumlah percakapan (mention)

Melalui drone emprit, kita bisa mengukur popularitas berdasarkan jumlah tweet yang menyebutkan brand tertentu. Semakin sering dan semakin banyak orang yang menyebut brand-brand ini, maka setidaknya masyarakat tahu, sadar, bahwa ada pembelajaran secara online seperti ini di Indonesia. Selain mentions, kita juga bisa melihat dari segi potensi jangkauan (potential reach) dari percakapan-percakapan tersebut. Setiap cuitan, berpotensi dibaca oleh akun-akun lain, setidaknya oleh para pengikut (followers) sang pencuit.

Selama 2 minggu di bulan Agustus, Ruangguru menjadi yang terpopuler, dicuitkan lebih dari 13 ribu kali oleh 11 ribu orang/akun. Dari sekian banyak mentions, nama Ruangguru berpotensi menjangkau lebih dari 8.5 juta orang dalam 2 minggu. Di posisi kedua, Zenius dibicarakan lebih dari 3 ribu dengan 4 juta potensi jangkauan. Percakapan Rumah Belajar besutan pemerintah berada di paling buncit, dengan total 88 mentions, 0.5% share of voice-nya di industri online learning platform di Indonesia. Artinya, sedikit opini dan atensi yang terbentuk di twitter. Bisa jadi karena belum banyak pengguna aktif twitter yang tahu, atau sedikit yang terkesan dan berkenan membahasnya di media sosial.

Mungkin di antara pembaca akan ada yang merasa perbandingan ini tidak apple-to-apple karena Ruangguru dan Zenius adalah platform berbayar, sementara Rumah Belajar tersedia secara gratis. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun fungsi ketiganya sama. Bukan bermaksud untuk mengecilkan produk pemerintah, tapi untuk melihat sebenarnya apa saja yang diperbincangkan mengenai Rumah Belajar.

Percakapan Terbentuk Dari Aceh sampai Papua

Berdasarkan lokasi akun user, ternyata percakapan mengenai Ruangguru, Zenius, dan Rumah Belajar tersebar luas. Zenius diperbincangkan mulai dari Aceh sampai Maluku Utara. Lokasi akun user terjauh untuk Ruangguru ada di Teluk Bintuni, Papua, dan Aceh bagian utara. Sementara Rumah Belajar dibicarakan terjauh di Aceh, namun tidak terdeteksi percakapan di Indonesia Bagian Timur.

Distribusi Mention Zenius
Distribusi Mention Ruangguru
Distribusi Mention Rumah Belajar

Sayangnya, distribusi percakapan ketiga platform secara volume masih didominasi oleh wilayah Jawa. Tentu ada beberapa faktor yang bisa kita asumsikan:

  1. populasi pengguna Twitter terbesar adalah di Jawa
  2. awareness masyarakat di luar Jawa tentang tiga aplikasi ini masih rendah
  3. akses terhadap media sosial dan koneksi internet di luar Jawa lebih rendah dibandingkan pulau Jawa

Zenius, seperti namanya, terlihat fokus pada pembelajar yang ingin “Jenius”

Top Retweet Zenius

Top retweet Zenius adalah tentang math battle antara Sabda PS dan influencer Zenius, Jerome Polin, mahasiswa Jurusan Matematika Terapan Waseda University dengan follower 434 ribu di twitter. Konten-konten youtube yang ia buat seputar math battle, tips beasiswa, belajar bahasa Jepang, dan pengalamannya di Jepang.

Selain itu, percakapan Zenius yang banyak di-retweet adalah seputar fun-fact dalam pelajaran sejarah di sekolah. Bukan topik yang popular yang banyak disukai oleh siswa pada umumnya. Meski demikian, karena berbentuk fun-fact dimana ada informasi baru/unik dari suatu sejarah, maka retweet-nya pun mencapai ratusan.

Video Jerome vs Sabda

Ruangguru tampak merangkul audience yang lebih luas melalui tren yang popular

Sementara itu, konten Ruangguru cenderung mengikuti selera pasar yang lebih luas dan telah membuahkan hasil, menjadikan Ruangguru sebagai brand dengan popularitas tertinggi. Dengan menggaet Iqbaal Ramadhan sebagai brand ambassador, Ruangguru mendapatkan exposure yang sangat luas dari popularitas Iqbaal, sekaligus impresi positif dari Iqbaal yang berprestasi di bidang akademik. Strategi ini juga berhasil membuat masyarakat mengasosiasikan sang idola remaja, bukan hanya dengan Dilan atau Minke, tetapi juga dengan Ruangguru. Terbukti, Top Retweet tentang Ruangguru datang dari candaan @sheggario mengenai Iqbaal di Ruangguru. Di samping itu, audiens Ruangguru juga dekat hype K-POP, dan dimanfaatkan oleh akun twitter official @Ruangguru, menghasilkan 241 retweets dan 291 likes.

Top Retweet Ruangguru

Hal lain yang bisa diperhatikan dalam top retweet mengenai Ruangguru datang dari @Tretanmuslim, mengindikasikan pandangan yang cenderung negatif terhadap built in Ruangguru di beberapa stasiun TV. Dari cuitan Tretan dan beberapa balasannya, dapat dilihat bahwa frekuensi kemunculannya mengganggu penonton.

Dapat dipahami, bahwa Ruangguru menggunakan TV sebagai alat advertising mereka karena TV masih menjangkau audiens terbesar dibandingkan platform lainnya. Namun, opini masyarakat membangun asumsi bahwa jangkauan TV sudah mencapai batasnya, dan frekuensinya sudah terlalu banyak sehingga memunculkan potensi sentimen negatif. Tentu hal ini masih bersifat asumsi, yang perlu dibuktikan dengan riset lebih lanjut.

Contoh percakapan mengenai built-in Ruangguru di TV

Pilih Ruangguru atau Zenius, siswa punya preferensi masing-masing

Dari data yang disajikan Drone Emprit, audiens memanfaatkan twitter untuk meminta pendapat, online learning platform mana yang sebaiknya mereka pilih. Ada yang berpandangan Zenius tutor nya seru, penjelasannya singkat, padat dan jelas, sementara Ruangguru menyajikan animasi sehingga tidak membosankan. Satu hal yang sama, yaitu semangat para siswa dalam mencari cara terbaik untuk belajar :)

Rumah Belajar milik Kemendikbud butuh atensi lebih

Dari 85 mentions tentang Rumah Belajar yang terbilang rendah dibandingkan dua pemain edutech sebelumnya, sulit sekali menemukan opini masyarakat di dalam percakapannya. Top retweet berisi textbook based learning content, dan informasi sosialisasi Rumah Belajar di daerah. Bagaimana penerimaan masyarakat terhadap produk pemerintah ini? Tentu perlu riset lebih lanjut untuk hal ini.

Top Retweet Rumah Belajar

Penutup

Tulisan di atas memang minim membahas masalah di dunia pendidikan, lebih banyak mendeskripsikan apa yang masyarakat bicarakan tentang beberapa online learning platform di twitter. Hal yang bisa kita petik, kita bisa membaca dari data bahwa besar ternyata antusiasme siswa untuk belajar melalui online learning. Teknologi ini sudah diterima di kota-kota besar, menjadi komplementer bagi para guru di sekolah. Pertanyaan selanjutnya, apakah mungkin teknologi ini menjadi substitusi di daerah-daerah yang masih kekurangan guru? Mungkin saja akan (atau sudah) ada percontohannya. Tentunya, berjalan paralel dengan percepatan pemerataan pembangunan dan akses internet ke seluruh penjuru negeri.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade