meylancholia
Jul 20, 2017 · 2 min read

Desember duaribu enambelas silam.

Desember dan segala yang dikisahkan hujan.
Ibuku beranak empat dengan seorang anak perempuan berambut lurus dan tiga lelaki yang bertubuh kerempeng.
Barangkali karena ayah kami hanya seorang kuli keruk tanah yang harus hidup bertahun-tahun di tanah orang untuk mahar ketiga anak laki-lakinya kelak.

Ayah mengajarkan perihal kepingan-kepingan kata yang bisa saja membuat kami luluh lalu luka.
Anak laki-laki harus memiliki langkah yang panjang, begitu ia memeluk ketiga anak laki-lakinya dengan kata.
Dan anak perempuan tertua haruslah bisa menjadi yang terbaik, begitu ia mengecupkan kata padaku.

Desember abu-abu dan lengang di kepala.
Jam-jam sibuk pulang kerja tak lagi di tandai warna langit jingga
Mereka pulang ketika langit mengabu gelap dan kelam.
Aku dan desember kesekian.
Mematung dan menanti di beranda sabar.
Kenang berulang-ulang menjadi genangan yang mengharuskanku berhenti berlari.
Tahun-tahun menungguku penuh hal menyedihkan yang hanya mampu ku utarakan kata.
Sementara biarlah yang tak ku utarakan menguap kelangit menjadi serupa doa.

Kau datang dengan jatuh Cinta yang paling Cinta.
Membawa dadaku ingin hidup di dadamu.
Membawa mataku ingin menyelam di samudera luas pandangmu.
Aku tenggelam mengarungi samuderamu dan lalu kau menghilang dan meninggalkan ku dalam lautan dalam perasaanmu.

Ini desember dan selamat sekali lagi ku merayakan perayaan patah hati
Seperti yang selalu ayah kecupkan bahwa kata itu kadang terlalu kejam membawamu pergi, sayang.


Ini desember dua ribu enam belas.

)

    Mafia Soda Gembira

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade