Duka dalam pelukan

meylancholia
Jul 20, 2017 · 2 min read

Duka datang pagi-pagi sekali. Sudah sejak lama jendela-jendela yang sepi di pelukan pagi itu tak menerima kabar dari jauh.

Setahun lalu kuingat, duka datang malam-malam usai magrib. Satu persatu kisah kakak beradik ber 8 itu kini sisa menunggu suka-duka lainnya yang datang, entah pagi-pagi sekali, entah tengah hari, sore-sore sendu, usai maghrib atau Dini hari.

Pagi-pagi sekali usai isak sekali dan panjang itu, semua kembali ke kesibukan masing-masing. Salah satu dari mereka akhirnya pulang padaNYA. Pagi-pagi sekali mereka kakak beradik ber 8 itu mengemasi isak mereka setelah duka menyambangi. Kepala mereka penuh kenang menggenang perihal masa kecil, perihal masa muda dan perihal kehilangan demi kehilangan sebelumnya. Beberapa dari kakak beradik ber 8 itu memang sudah sejak lama hidup terpisah , 3 orang anak lelaki tertua memilih merantau dan mengenai pinak di rantauan. Salah satu yang paling jauh merantau telah lebih dulu mengirim kabar dukanya setahun lalu, ia tak pernah sekali pun menengok pusara Atta dan Indo sebelum akhirnya menyusul keduanya. Lalu salah satu anak laki-laki lainnya tiba dengan duka pagi tadi. Satu persatu duka barangkali akan datang, berkali-kali dan entah kapan lagi. Esok, lusa, Bulan depan atau tahun depan.

Usai isak panjang, mereka kakak beradik ber 8 yang tinggal ber 5 itu kembali ke kesibukan masing-masing. Piring-piring dan gelas berbunyi bergesekan itu berarti anak perempuan ke 5 memilih menyibukkan diri dengan piring-piring yang sudh dicuci bersih sedari semalam, namun dicuci kembali hingga kilap. Derik lantai berbunyi beberapa kali, sepertinya yang ke 6 sedang menyibukkan dirinya dengan membersihkan seisi rumah. Ia memilih menyibukkan dirinya dengan membersihkan seisi rumah. Kakak laki-laki pertama yang sudah mulai berkurang pendengarannya, rabun penglihatannya hanya menatap nanar ketika diberitahu adiknya mengirim duka. Ia bergegas menuju sawah, aktivitas bertahun-tahun yang ia lakukan semenjak pensiun. Anak ke 7,entah bagaimana ia memeluk duka. Ia sedang menemani anak laki-lakinya mengejar impiannya. Kupikir ia tidak akan pernah baik-baik saja menerima kabar duka, dari 8 ia yang paling tidak bisa menahan tangis dan ia ibuku. Sementara yang ke 8 ia pun terpisah kota bersama suaminya. Barangkali ia pun tengah menyibukkan dirinya memeluk duka.

Mereka memeluk duka dengan menyibukkan kerja tubuh mereka. Sementara hati mereka merapal lebih banyak doa untuk yang telah pergi. Isi doa-doa mereka kini bertambah, untuk kelapangan, kemudahan dan kebahagiaan mereka yang telah lebih dulu mengirim dukanya. Tangan-tangan mereka kesepian ingin menyentuh saudara mereka yang pergi pagi tadi, pelukan-pelukan mereka merana ingin memeluk kali terakhir saudara mereka, tangis mereka tertahan di isakan panjang.

Begitulah kadang duka tiba tanpa aba-aba,dan tiba-tiba kau tak ingin menjadi apa-apa selain pelukan.

Semoga tenang disana, Ta'.


Tulisan ini saya tulis untuk Om saya yang berpulang Juni lalu. Ia kakak dari Ammak ( ibu saya)

)

    meylancholia

    Written by

    Mafia Soda Gembira

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade