Berdamai pada sepi

meylancholia
Jul 10, 2017 · 2 min read

Kadang untuk menghadapi sepi, kau hanya perlu duduk berlama-lama merasakan malam, menyaksikan pendar cahaya Bintang, kota atau Bulan, mengatur nafasmu dan memikirkan hal-hal Indah.

Saya melakukannya sebagai cara lain untuk tetap waras di peluk sepi. Saya kota dan kesepian sangat berteman baik. Kota seperti sudah sangat fasih menghafal ketika saya menemuinya malam-malam lepas isya atau sore-sore menjelang senja. Ia tampak selalu berusaha setenang mungkin membuat perasaan sepi saya menghilang.

Angin dibuatnya lembut berhembus, bunga-bunga cantik dibuatnya bergoyang seolah menari dihadapan saya, lampu-lampu ia redupkan sedikit ,pepohon meneduh dan riuh kota membuat ramai yang membuat saya merasa sedang mengamati hening dikeramaian.

Apa semua akan baik-baik saja?

Tentu.

Jika kau mau tetap tenang dan menikmati setiap sepi yang memelukmu.

Aku, kata kota

Memeluk sepi ketika semua orang beranjak meninggalkan pelukanku. Aku hidup di malam-malam yang penuh senandung lirih agar esok pergi sepi. Matahari tiba dan sepi memang menghilang tapi kemudian ia datang kembali dalam wujud yang lain. Ah.. Betapa, kau harus selalu berbaik menghadapinya.

Baiklah, kota.

Malam ini aku sudah merasa baik-baik saja. Terima Kasih kisah heningmu.


Saya pulang mengemasi banyak hal dikepala saya perihal apa yang kota beritahukan pada saya. Semua orang memiliki sepinya masing-masing, menghadapinya tergantung bagaimana kamu. Menghadapinya dengan perayaan yang meriah ataukah duduk memeluk diri sendiri berteman hening.

    Mafia Soda Gembira

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade