Jakarta Oh Jakarta

“The roots of violence: politics without principles” — Mahatma Gandhi

Sumber: http://poskotanews.com/2016/09/24/badja-asa-asmuni-singkatan-cagub-cawagub-pilkada-dki-2017/

Sedikit Curhat

Bagian ini tidak penting dan bisa anda teruskan kebawah jika malas.

Semenjak tulisan terakhir yang saya keluarkan sekitar lebih dari 3 bulan lalu mengenai sosok bernama “Dona”. Sejujurnya saya merasa menjadi kurang nyaman untuk mengeluarkan tulisan saya di Medium ini. Bayangkan 16000 views, 9000 reads, ratusan pertanyaan, puluhan shares, puluhan pujian, dan belasan cacian saya raih dalam waktu 3 hari pertama (maaf tidak bermaksud sombong :P) dan jumlahnya masih meningkat setiap harinya sampai sekarang. Dan sepertinya saya memutuskan untuk tidak mengeluarkan draft — draft tulisan saya dalam waktu yang cukup lama. Tapi akhir — akhir ini ada hal yang mengusik saya untuk menuliskannya disini dan pada akhirnya saya tidak kuat menahan diri untuk menuliskan ini. Sekian basa — basinya.


Ya, PILKADA JAKARTA. Beberapa waktu yang lalu mungkin sampai hari ini baik di media cetak maupun media elektronik disesaki dengan berita mengenai pemilihan DKI 1 yang terus tak ada habisnya semenjak ketiga pasangan yang sudah siap memantapkan diri untuk bertarung dalam ajang kali ini. (Hal mungkin di media yang saya sering gunakan saja, atau mungkin kalian juga merasakannya?).

Agus Harimurti Yudhoyono - Sylviana Murni (nomor urut 1), Basuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful Hidayat (nomor urut 2), Anies Rasyid Baswedan - Sandiaga Uno (nomor urut 3). Ketiga pasang calon nahkoda ibukota ini langsung agresif dalam menjaring masanya masing — masing. Ibukota dan sekitarnya pun mendadak gaduh semenjak mereka resmi ditetapkan menjadi calon oleh Komisi Pemilihan Umum.

Ibarat acara gulat profesional yang sering saya tonton. Sebelum wasit membunyikan lonceng, para pegulatnya (dalam hal ini calon) telah terpancing melontarkan sindiran ke arah lawan. Penonton yang merupakan simpatisan dan fans berat si pegulat pun ikut berkoar. Ucapan dari sang idola didaur ulang dan sedikit dibumbui dengan fakta serta data yang sebenarnya harus diperiksa ulang kebenarannya.

Dan anehnya, saya merasa tidak ada prinsip yang dipegang teguh oleh setiap calon dalam upaya menarik penonton. Mungkin dalam istilah gulat profesional yang saya tonton tidak ada “gimmick” yang konsisten dari setiap calon. Yang ada hanya saling menjatuhkan demi popularitas yang berujung kemenangan.

Horror menurut saya, sebagai orang yang bukan merupakan warga Jakarta dan tidak ikutan memilih dalam pemilu tersebut, hampir setiap hari saya disajikan menu — menu seperti itu. Memang tidak massive, hanya kecil dan sedikit tetapi bertahan lama dan rutin. Menyedihkan bagi saya ketika publik banyak yang menuntut keadilan berdemokrasi untuk memilih pemimpinnya pada 18 tahun yang lalu dan sekarang realitanya seperti ini.

Bayangkan saja, dalam waktu yang singkat semua orang mendadak menjadi ahli politik yang mengagungkan salah satu calon dan merendahkan calon lainnya. Semuanya angkat berbicara, sementara para calon mungkin duduk manis menikmati secangkir kopi melihat penggemarnya bergerak dengan sendirinya. Tokoh politik, tokoh masyarakat, akademisi, bahkan orang awam yang hanya bermodalkan paket gratisan saja berani mengeluarkan apa yang mereka yakini dengan lantang.

Paham yang digunakan menurut saya bahkan paham primitif. Etika dan moral telah menguap entah kemana. Entah ada motivasi politik apa dipikiran mereka, aib — aib lawan tidak segan — segan diumbar bahkan mungkin saja hal itu merupakan fitnah.

Jakarta oh Jakarta.

Jakarta merupakan Ibukota Negara. Jakarta secara tidak langsung merupakan panutan buat daerah — daerah yang lain. Apa yang terjadi di Jakarta pasti diperhatikan oleh daerah lain. Apa yang terjadi di Jakarta pasti mempengaruhi daerah yang lain. Kalau pemilihan DKI 1 saja berjalan seperti ini, bayangkan betapa menginspirasinya cerita ini terhadap daerah lain. Kalau saya tidak salah, masih ada lebih dari 100 daerah lain yang mengadakan pilkada serentak bersamaan dengan pilkada Jakarta. Hmmm… berapa banyak kah yang terpaparkan?

Kepada siapapun yang ikut terlibat dalam cerita ini, saya meminta tolong.

Tolong menjadi orang yang bijak.

Tolong jangan gunakan isu SARA untuk menjatuhkan satu sama lain, ini Indonesia dimana keberagamaan dijunjung tinggi di Negara ini.

Tolong jangan gunakan negative campaign meskipun itu memang benar adanya, apalagi sampai menggunakan black campaign. Jual lah mereka berdasarkan kemampuan dan kapasitas mereka, bukan dari citra buruk lawan yang dipanaskan.

Tolong terima dengan bijak setiap informasi yang datang menghampiri mata dan telinga kalian. Di tengah kemajuan teknologi ini informasi tumbuh berkembang dengan cepat. Bekali diri kalian agar tidak termakan media, gunakan media sebijak kalian.

Jangan biarkan semua hal yang terjadi sekarang semakin berlarut — larut, tunjukan dan buktikan bahwa kampanye damai memang bisa terlaksana, bukan hanya untuk para calon, tetapi juga simpatisannya. Bila semua hal ini dibiarkan mungkin hal ini akan mengganggu stabilitas DKI Jakarta sebagai ibukota Negara.

Tolong. Saya masih percaya bahwa proses pilkada Jakarta masih bisa terlaksana dengan bahagia.


Bandung, 21 November 2016.

Muhammad Fadhil D
Mahasiswa ber-KTP Bekasi.


*Catatan:
Buah hasil prokrastinasi ditengah padatnya kegiatan akademik yang mulai saya tinggalkan dan geramnya karena timeline saya dipenuhi berita seputar DKI 1 yang tidak sedap. Mohon maaf untuk segala pihak yang dirugikan. Mohon maaf juga untuk segala pihak yang tersinggung akan tulisan ini. Saya sangat senang apabila masih ada yang mau mengkritik dan menghujat saya. Dan ini hanya tulisan pengungkap kekesalan.