Otak dan Mulut

Kenapa otak saya terkadang tidak sesuai dengan mulut?

Maaf gambarnya jelek, yang penting bikin sendiri :p

Di tengah rangkaian kehidupan yang dipenuhi tugas ini rasanya kurang lengkap jika tidak dibumbui dengan sedikit prokasinasi. Hal yang sedikit kurang penting kali ini dimulai dari pertanyaan kenapa terkadang otak dan mulut ini tidak sejalan. Ya sejujurnya hal ini terpikirkan karena baru saja terjadi oleh saya, niatnya ingin bilang alpha yang terucap beta. Lalu sebenarnya apa yang terjadi dengan dua makhluk ini sehingga terkadang mereka tidak harmonis? Hmmm… mungkin saya bisa sedikit berimajinasi.


Perkenalan

Pertama — tama, mari saya perkenalkan terlebih dahulu. Ini namanya Pak Otak dan Bu Mulut. Pak Otak merupakan seseorang yang cerdas, dia seorang pemikir, pengatur dan pengkordinir yang lainnya (sebagian besar dia yang mengatur walaupun bukan satu — satunya yang mengatur). Yang satu lagi Bu Mulut, ia merupakan salah seorang yang penting juga, bisa dibilang merupakan juru bicara dari Pak Otak (sebenarnya dia juga mempunyai tugas yang lain). Sebagai seorang juru bicara, sudah kewajiban dari Bu Mulut untuk menyampaikan perintah ataupun apa yang dipikirkan Pak Otak. Mereka seperti pasangan yang setia dan saling melengkapi. Tapi nyatanya mereka tidak seharmonis itu ternyata, beberapa saat Pak Otak dan Bu Mulut tidak sesuai dan tidak sepemahaman. Lalu apa yang menyebabkan hal tersebut?


1. Adanya Pak Hati

Alasan pertama yang paling sering terdengar adalah karena adanya pihak ketiga yang merusak hubungan mereka, yaitu Pak Hati. Jadi, entah kenapa Pak Hati ini memiliki salah satu kekuatan super (bukan pelet) yang dengan mudah menaklukkan Bu Mulut. Ketika Pak Hati sudah berkata Bu Mulut langsung tidak menghiraukan segala perkataan Pak Otak dan menuruti segala perkataan Pak Hati semua logika akan terkalahkan dengan perasaan, mungkin Bu Mulut orangnya feeling ya bukan thinking sehingga Pak Hati bisa dengan mudah meluluhkannya. Ternyata benar terkadang cinta memang tidak ada logika.


2. Pak Otak Bekerja Terlalu Cepat

Masalah kedua diantara hubungan mereka adalah sebagai seorang pemimpin dan juru bicaranya yang merupakan hubungan profesional (tidak bawa perasaan disini). Kemampuan bekerja Pak Otak yang bisa dibilang sangat baik (mungkin lulus cumlaude) sulit diimbangi dengan Bu Mulut. Ketimpangan kemampuan diantara mereka membuat Bu Mulut jadi sering skip tidak berhasil mencerna apa yang diperintahkan oleh Pak Otak sehingga dampaknya apa yang disampaikan kurang jelas dan bahkan terpotong — potong.


3. Bu Mulut Orang yang Ekstrovert

Jika permasalahan sebelumnya dikarenakan kemampuan Pak Otak yang terlalu canggih, masalah yang ini disebabkan karena Bu Mulut yang Ekstrovert. Sebagai orang yang 1000% ekstrovert Bu Mulut pastinya sangat senang berbicara, ia sangat senang mengungkapkan apapun baik yang dia pikirkan maupun yang tidak ia pikirkan. Memang tidak ada salahnya sebagai manusia ketika ia senang berbicara, namun yang jadi masalah adalah ketika apa yang dia curahkan keluar tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Pak Otak. Ya dampaknya pasti kalian tahu lah ya… Tidak heran jika pada akhirnya timbul masalah baru.


4. Pak Otak Tidak Bekerja

Masalah yang ini bisa dibilang cukup parah. Pak Otak sebagai seorang pemikir dan pengkordinir tidak menjalankan tugasnya sebagai mana mestinya. Ia tidak berpikir apapun untuk menanggapi sesuatu dan tidak memberikan instruksi kepada Bu Mulut untuk membicarakannya. Alhasil Bu Mulut sebagai juru bicara mengungkapkan sesuatu tidak dengan pertimbangan panjang dan yang ia ucapkan terkadang membuat mereka terlihat nampak bodoh dan tidak sedikit juga yang tersinggung.


5. Pak Otak Tak Bisa Mengungkapkan

Kasus lain yang tiba — tiba terpikirkan malam tadi adalah, bagaimana jika Pak Otak tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan mengungkapkan pemikirannya (Kalau kata teman saya sih ia tidak punya Skill Development Ideas). Sebagai seorang manusia, tidak cukup jika kita hanya menyelesaikan masalah dengan sebuah pemikiran, kita juga harus bisa mengekspresikannya agar orang lain dapat terinsepsi dan tentunya ide kita bisa didukung orang lain. Jika Pak Otak tidak bisa menyalurkan pemikirannya menuju Bu Mulut, wajar saja jika Bu Mulut terlihat gagap dalam menyampaikan dan pesan yang dibawa tidak sampai yang berdampak orang lain tidak mengerti apa yang dibicarakan dan ide itu dianggap sebagai angin lalu.


Penutup

Sebenarnya saya juga bingung penutupnya mau apa. Tapi mungkin ada sedikit hal. Bekerja sebagai Pak Otak memang tidaklah mudah bertugas sebagai pemikir sekaligus penggerak. Jika ia bekerja kurang baik sudah pasti yang lainnya juga akan kurang baik. Begitu juga sebagai Bu Mulut, menjadi juru bicara tidaklah mudah terkadang sulit mengungkapkan apa yang kita mau ungkapkan.

Dan sejujurnya tulisan ini bukan hanya sekedar tentang Otak dan Mulut. Silahkan anda hipotesakan sendiri. Jadi, dari setiap masalah tersebut, masalah mana yang pernah anda rasakan? Silahkan anda cari solusinya sendiri.


Catatan :

Tulisan ini dibuat hanya karena iseng belaka ditengah kejenuhan dan hasil bincang — bincang bodoh dengan beberapa orang, silahkan berkomentar jika anda mempunya ide yang lain atau anda mengerti apa yang sebenarnya saya tidak mengerti ini. Mohon maaf jika tulisan dan gambar ini jelek dan tidak jelas.

Sekian dan Terima Kasih


Bandung , 27 April 2016

Orang yang Otak dan Mulutnya Masih Kurang Sinkron

Muhammad Fadhil D.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.