Fragmen Kematian yang Berserakan di Jalanan

Catatan Agus Rois atas Firman, Iman, dan Teror

Keran kebebasan informasi pasca meletusnya reformasi ’98 sesungguhnya telah benar-benar merubah banyak aspek kehidupan bangsa Indonesia. Agus Rois, seorang penulis jebolan Ubud Writer Festival 2014, mencatat bahwa dahulu sebelum reformasi pecah, pentas teater dan pembacaan puisi ramai didatangi orang. Sebab, jalan kesenian pada masa itu memang berada dalam posisi alternatif.

Seno Gumira pernah menyatakan bahwa, ketika jurnalisme di bungkam maka sastra yang akan berbicara. Dan memang, sastra pada saat itu lebih bisa bicara banyak soal penderitaan rakyat ketimbang apa yang disajikan oleh media massa. Sementara hari ini, ketika media massa bisa bebas bicara apa saja, orang tak lagi antusias untuk menikmati pertunjukan seni. Maka jangan heran, ketika hari ini pentas teater dan panggung-panggung puisi mulai kehilangan penonton.

Bangsa Indonesia, kini, lebih bisa menikmati acara televisi ketimbang pembacaan puisi. Sebuah perubahan yang cukup radikal memang. Meskipun begitu, ketika preferensi hiburan kita mulai bergeser, disaat yang sama rupanya kita masih diselimuti oleh ketakutan yang sama. Perbedaan suku, agama, dan ras rupaya masih belum bisa dimaknai sebagai sebuah keindahan.

Kalau pada ’98, kemiskinan menjadi pupuk atas kebencian rasial dan ketimpangan ekonomi menjadi pemantik kekerasan antar umat beragama, hari ini keduanya mulai berganti wajah menjadi politik dan ragam kepentingan yang kita sendiri tidak tahu juntrungannya,


Foto oleh Hilmy Herbianto

Sebagai seorang alumni Filsafat UGM, Agus Rois sepertinya merasakan kegelisahan serupa. Lewat berbagai literatur yang terdiri atas kumpulan berita, buku, dan artikel mengenai kekerasan yang terjadi di Indonesia dalam rentang waktu 1990–2000an, Rois menuturkan hasil refleksinya atas hubungan antara firman, iman, dan teror.

Lewat buku berjudul Teror: Catatan Filsafat dan Politik tentang Firman dan Iman, Rois mencoba mengabadikan fragmen-fragmen sejarah bangsa Indonesia lewat esai-esai yang ringan. Sebagai seorang pemuda muslim, kegelisahannya atas citra Islam yang keras dan reaksioner tersebut tentunya menjadi sebuah keunikan tersendiri. Meskipun begitu, buku ini tidak semata-mata lahir sebagai usaha untuk melakukan pembelaan. Di sisi lain, Rois malah berusaha menyajikan alternatif atas pandangan yang demikian.

Rois mencatat kondisi Indonesia saat itu dengan penggambaran yang detil bak sebuah cerita pendek. Dalam satu bagian bukunya, Rois menuliskan keadaan jalan-jalan di pulau Jawa yang saat itu dipenuhi dengan spanduk “Demi Allah, seluruh umat Islam siap berdarah-darah, mati untuk solidaritas umat,” sebuah respons yang cukup keras atas konflik yang terjadi di Poso dan Ambon pada saat itu.

Maka posko jihad dan beragam usaha memobilisasi masa menjadi demikian marak. Dan hasilnya, kita tahu sendiri, ribuan nyawa mati sia-sia oleh konflik berkepanjangan.

Bagi saya, teror adalah fragmen-fragmen dari kematian.
Dari iman yang runtuh berserakan — Agus Rois

Dalam 22 esai yang ditulisnya pada periode 2012–2014 lalu ini, Rois tampaknya ingin meluapkan kegelisahan yang ia rasakan sendiri, supaya mampu mengganggu para pembaca dengan kegelisahan yang serupa. Dalam konteks saat ini, buku ini hadir sebagai pengingat bahwa firman, iman, dan teror tidak hanya memiliki satu keterhubungan satu sama lain. Melainkan, ketiganya juga berpotensi menjadi sebab akibat atas penderitaan yang berkepanjangan.

Buku yang diterbitkan pada Maret 2016 silam ini, menjadi sangat layak untuk dibaca, lebih-lebih ketika kita ingin melakukan introspeksi atas kesalahan apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Sebagai poin pembelajaran kita di hari ini. Sebab, seekor keledai tidak akan jatuh ke lubang yang sama, apalagi manusia.

Agus Rois dalam bukunya, memberikan komentar yang cukup meneduhkan. Sesuatu, yang menurut saya sendiri, sangat jarang kita temukan belakangan ini. Ia meyakini bahwa Islam, dan agama apapun itu, tak memberi hak bagi seseorang untuk mencela agama lain, apalagi menganjurkan seseorang untuk meninggalkan keyakinannya demi yang lain. Malahan, Rois mengajak kita untuk meneladani ucapan Saladin kepada seorang lelaki tua pengikut Kriten, bahwa “Islam bukanlah agama pendendam, ia justru menyuruh umatnnya untuk menepati janji, memaafkan kesalahan orang lain, dan yang lebih penting lagi, melupakan kekejaman musuh-musuhnya.”

Like what you read? Give Faisal Nur a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.