Sudahlah, Lagu Indonesia Raya Itu Bukan untuk Kita!
Banyak sekali orang yang beranggapan bahwa esensi sukses itu didapat dari sesuatu dari fikiran yang bersifat logika dan subjektif. Padahal dari kuantitas otak kita hanya 10% yang mendukung kesuksesan didapat dari pikiran. Lalu kemanakah dari sisa 90% tersebut? Jawabannya adalah ada pada Alam Bawah Sadar kita. Alam Bawah Sadar adalah bagian pikiran manusia yang tidak disadari keberadaannya, namun pengaruhnya tanpa disadari sangantlah besar. Jadi semua perjalanan manusia akan terekam dalam alam bawah sadarnya tersebut.
Gambar tersebut menunjukkan sebuah gunung es yang digunakan oleh Freud dalam menggambarkan pikiran sadar dan bawah sadar. Tentunya Anda tidak akan menolak pendapat freud ini yang juga terkenal sebagai neurologist (ilmuan sistem syaraf) dan sekaligus sebagai pencipta psikoanalis (studi fungsi dan perilaku psikologis manusia).
Pernahkah anda mendengar sebuah pepatah “Pikiran menjadi kata-kata, kata-kata menjadi tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, dan karakter membentuk nasib”. Tahukah anda bahwa pikiran manusia sangat dibatasi oleh bahasa yang kita miliki. Bahasa adalah susunan kata-kata. Cara merangkai kata-kata namanya bicara. Gabungan bicara verbal intonasi, pemilihan kata-kata, gerak tubuh (body languange), mikro ekspresi wajah dan eye gesture movement namanya komunikasi. Abdul Chaer, ahli linguistik bahasa Indonesia, mengatakan bahwa “Berbahasa adalah penyampaian pikiran atau perasaan dari orang yang berbicara mengenai masalah yang dihadapi dalam kehidupan yang dihadapinya. Bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi antara suatu individu dengan individu lainnya, tetapi bahasa juga membentuk nalar (kognitif) seseorang. Dengan terbentuknya nalar terbentuk pula budaya suatu masyarakat tertentu.”
Witgenstein, salah seorang filsuf paling berpengaruh pada abad 20, menjuluki bahasa sebagai “gambar dunia”. Sesungguhnya, segala sesuatu mengenai dunia kita ini, baik yang empiris maupun yang transendental, dunia dengan keanekaragaman unsur budayanya dan berbagai upaya pengembangannya, dunia dengan segala permasalahannya dan berbagai upaya pemecahannya, tentang semua itu, tergambar lengkap di dalam bahasa. Bahkan Wittgeinstein mengatakan “Batas bahasaku adalah batas duniaku”. Oleh karena itu, tokoh kebudayaan kita sekaligus antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, memandang bahasa sebagai pencerminan konsepsi dalam pikiran manusia dan sokoguru kebudayaan.
Sejalan dengan itu Bartens, tokoh etika Indonesia, misalnya, berpendapat bahwa kemampuan berpikir seseorang dapat dilihat pada bahasa yang digunakannya. Dengan mengutip sebuah pepatah Perancis yang artinya “Barang siapa berpikir baik, dapat menjelaskan dengan baik”, tokoh filsafat ini mengatakan bahwa, orang yang jelek bahasanya, pikirannya pun jelek, orang itu tidak mampu merumuskan pikirannya secara teratur, akibatnya, bahasanya pun sulit dimengerti.
Dalam sejarah manusia, kata-kata adalah bentuk yang selalu lahir belakangan. Science ilmu pengetahuan terjadi terlebih dahulu. Peristiwanya terjadi dahulu baru kata-kata lahir. Sebagai contoh penggunaan kata “Unicorn” untuk menggambarkan orang super kaya baru-baru terjadi sekarang ketika Gojek menjadi startup pertama asal Indonesia yang mendapat gelar “Unicorn”. Gojek, memantapkan diri sebagai “Unicorn” tepat pada 4 Agustus 2016 lalu selepas menerima pendanaan senilai $550 juta dari konsorsium 8 investor yang digawangi oleh Sequoia Capital dan Warbrug. Istilah “Unicorn” sendiri merujuk pada startup dengan valuasi mencapai 1 miliar dollar AS atau setara Rp 14,2 triliun. Kata “Unicorn” ini membuka wawasan baru tentang orang yang super kaya sehingga orang-orang berlomba untuk menjadi”Unicorn-Unicorn” baru bukan hanya sekedar “kaya”. Padahal istilah “Unicorn” muncul pertama kali pada tahun 2013 oleh kapitalis ventura Aileen Lee, memilih hewan mitos untuk mewakili kelangkaan statistik dari usaha yang sukses tersebut. Hingga Maret 2018, menurut TechCrunch, ada 279 unicorn yang ada di dunia.
Mengutip dari buku “Sadar Kaya” karangan Mardigo Wowiek Prasantyo. Inilah yang membuat saya berfikir tentang apa yang terjadi di Indonesia saat ini. yaitu sehubungan dengan lagu kebangsaan kita Indonesia raya. Lagu itu di ciptakan WR supratman dengan3 stanza. bagi saya yang beliau gubah adalah sebuah nurbuah, luar biasa. Saat ini kita selalu menyanyikan stanza 1. perhatikan syairnya
Indonesia Raya
Stanza 1 (versi resmi Pemerintah, ditetapkan dengan PP44/1958)
Indonesia Tanah Airku Tanah Tumpah Darahku
Disanalah Aku Berdiri Jadi Pandu Ibuku
Indonesia Kebangsaanku Bangsa Dan Tanah Airku
Marilah Kita Berseru Indonesia Bersatu
Hiduplah Tanahku Hiduplah Negeriku
Bangsaku Rakyatku Semuanya
Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahku Negeriku yang Kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Terdapat kata-kata : Indonesia tanah tumpah darahku. Jadi sampai sekarang bangsa indonesia masih tumpah darah cekcok dimana-mana. Lalu kata-kata : marilah kita berseru , indonesia bersatu. Ini kesannya atau bisa di artikan Indonesia belum bersatu , masih terpisah-pisah. Karena itu fakta saat ini ya begitu,kita ngak pernah kompak, seakan akan ribut terus.
Stanza 1 cocok untuk jaman perang kemerdekaan hingga tahun 80 an.
Seharusnya mulai saat ini indonesia sebaikanya sudahmenggunakan stanza 2. Mengganti kata-kata Indonesia Raya ke stanza 2. Coba sahabat baca dan perhatikan :
Indonesia Raya
Stanza 2 (tercakup PP 44/1958)
Indonesia Tanah Yang Mulia Tanah Kita Yang Kaya
Disanalah Aku Berdiri Untuk Slama-lamanya
Indonesia Tanah Pusaka Pusaka kita Semuanya
Marilah kita Mendoa Indonesia Bahagia
Suburlah Tanahnya Suburlah Jiwanya
Bangsanya Rakyatnya Semuanya
Sadarlah Hatinya Sadarlah Budinya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahku Negeriku Yang Kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka Hiduplah Indonesia Raya
Cocok dengan masa sekarang. Inilah yang disebut kata-kata bisa merubah realita. “Tanah kita yang kaya”, “pusaka kita semua”, “mendoa indonesia bahagia”, “suburlah jiwanya”, “sadar budinya”.
Saya sangat menyarankan kepada pemerintah, rubah indoensia raya ke Stanza 2. Dan, suatu masa nanti Indonesia masuk ke stanza ke 3. Waktunya anda lah yang menentukan. silahkan baca gubahan WR Supratman ini. sangat luar biasa.
Untuk melihat Lagu Indonesia Raya 3 Stanza silahkan langsung saja klik https://www.youtube.com/watch?v=dJOLN2Ujmb0
Manusia telah dikaruniai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa, sudah sepatutnya kita mensyukurinya dengan memanfaatkan secara maksimal potensi-potensi tersebut dari sekarang.
Seberapa sering kita menyanyikan lagu Indonesia Raya ini? Kata-katanya mungkin saja yang membuat kita seperti sekarang ini? Kapan lagi anda akan menggunakan potensi maksimal anda? Bukan kah sekarang? Renungkahlah apakah Lagu Indonesia Raya yang sekarang itu cocok untuk kita? Sudahlah, Lagu Indonesia Raya Itu Bukan untuk Kita!