Apa itu Content Marketing Strategy? — #ContentMarketingStrategy101

Mempersiapkan konten untuk brand Anda secara mudah dan tepat

Membuat konten itu ternyata tidak bisa asal-asalan. Karena seringkali yang suatu brand lakukan adalah membuat sesuatu yang hanya mereka inginkan, belum tentu audiens tersebut menginginkannya. Seringkali pula konten yang dibuat ini tidak sesuai dengan tujuan bisnis.

Oleh sebab itu, pentingnya untuk mempelajari content marketing strategy.

by Kaleidico on Unsplash

Apa itu Content Marketing Strategy

Content marketing strategy adalah suatu aktivitas perencanaan, pembuatan dan manajemen dari konten untuk mencapai tujuan bisnis sesuai dengan yang audiens inginkan.

Apa bedanya dengan Content Strategy?

Ada beberapa perbedaan antara content strategy dengan content marketing strategy.

Pada dasarnya, content marketing strategy memadukan antara content strategy dan content marketing.

Pada content strategy berfokus pada bagaimana menyiapkan sebuah konten dan mengedarkannya kepada audiens. content marketing lebih berfokus kepada konten apa yang diinginkan oleh audiens.

Nah, sedangkan content marketing strategy mengambil keduanya. Bagaimana menyiapkan sebuah konten yang sesuai dengan kebutuhan audiens dan mengedarkannya.

Kenapa perlu melakukan Content Marketing Strategy?

  1. Tanpa perencanaan? Akan terjadi ketidakefektifan dalam membuat maupun memasarkan konten
  2. Build your brand. Dengan content marketing strategy, teman-teman bisa membangun merek dari produknya.
  3. Build just what they need. Dengan content marketing strategy, akan berfokus kepada apa yang audiens inginkan bukan yang lain. Hal ini akan meningkatkan efektivitas.

Memulai Content Marketing Strategy

1) Tentukan tujuan

Apa yang sebenarnya ingin dicapai? tujuan ini harus memenuhi unsur S.M.A.R.T atau specific, measurable, achievable, realistic, and timely.

Artinya, tujuan yang dibuat harus spesifik, dapat terukur, dapat dicapai (dan realistis) dan dapat dikerjakan tepat pada waktunya.

contoh:

Goal: sebagai market leader dibidang pembelajaran berbasis online
Target#1: Mendapatkan revenue RpX juta pada 31 Desember 2018
Target #2: Top 1 dalam kata kunci “belajar pada 1 November 2018
Target #3: Memiliki 5000 followers Instagram pada 1 Januari 2019

Pada content marketing strategy, kita dapat menggunakan content matrix untuk menentukan jenis konten yang tepat dengan tujuan bisnis yang sudah ditentukan diawal.

content matrix untuk content strategy

Terdapat 4 kategori dalam content matrix;

  • Educate, pada kategori ini berisi konten yang akan mengedukasi audiens. Jenis konten ini dapat dikatakan mudah, karena tujuannya adalah awareness dan menggunakan sisi rational, jika kita dapat memberikan bukti-bukti bahwa konten yang kita berikan itu penting, maka dapat dikatakan konten tersebut berhasil.
  • Entertain, pada kategori ini merupakan jenis konten yang akan menghibur audiens. Biasanya, entertain ini akan meningkatkan engagement rate. Pada kategori ini, membutuhkan kreativitas untuk memahami emosional dari audiens agar konten yang kita berikan dapat tersampaikan dengan baik.
  • Convince, kategori ini merupakan jenis konten yang mengajak audiens melakukan sesuatu secara rasional dengan tujuan akhir adalah pembelian.
  • Inspire, kategori ini merupakan jenis konten yang mengarahkan audiens kepada pembelian secara emosional.

Dengan menggunakan content matrix, akan memudahkan yang akan dilakukan teman-teman. Apakah ingin meningkatkan awareness, atau meningkatkan pembelian? meningkatkan retensi maupun loyalitas.

2) Tentukan Metrics (alat ukurnya)

by Markus Spiske on Unsplash
Kenapa perlu menentukan metrics? Jika tidak menentukan metrics-nya di awal, teman-teman akan kebingungan untuk menentukan bahwa konten yang dibuat ini pada dasarnya sudah efektif atau belum.

Terdapat 4 metrics yang bisa digunakan oleh teman-teman, yaitu;

  • Consumption metrics, metrics ini untuk menjawab pertanyaan “seberapa banyak konten ini dilihat, diunduh, atau didengarkan oleh audiens?”, hal yang bisa jadikan acuan adalah; page-views, video views, total downloads, dsb.
  • Sharing metrics, metrics ini digunakan untuk menjawab “seberapa sering konten ini dibagikan ke orang lain?”. Dengan menggunakan alat ukur seperti; like, comment, share, pin ( pokoknya semua yang berkaitan dengan engagement), atau email forward, ataupun inbound link (backlink)
  • Lead-gen metrics, metrics ini digunakan untuk menjawab “seberapa banyak lead yang dihasilkan?”, definisi dari lead sendiri (menurut saya) lebih seperti orang-orang yang tertarik pada produk teman-teman. Hal yang perlu diperhatikan; form yang dipenuhi, berlangganan email ataupun blog, ataupun melakukan follow terhadap akun media sosial.
  • Sales metrics, tentu saja metrics ini digunakan untuk mengukur uang yang dihasilkan dari suatu konten. Semisal, dari konten A, ternyata dapat menghasilkan penjualan produk sebanyak X produk.
Apakah kita dapat menggabungkan metrics?
Pada dasarnya dapat dilakukan seperti itu. Namun, alangkah baiknya disesuaikan dengan tujuan pembuatan konten di awal.

3) Kenali audiens-nya!

tak kenal maka tak sayang, hal yang harus teman-teman pahami adalah siapa sebenarnya audiens dari teman-teman. Jangan sampai kita membuat konten yang salah karena audiens nya tidak tepat.

Bagaimana cara mengenali audiens?
Kita dapat melakukan profiling dengan menggunakan audiens persona seperti gambar dibawah ini
persona audience yang detail untuk mendukung content strategy

Donor Stephanie ini digambarkan sebagai salah satu contoh yang mewakili dari audiens suatu media sosial.

Apakah mungkin terdapat lebih dari satu persona? Hal itu bisa terjadi. Apabila produk/brand dari teman-teman menyasar pasar yang lebih umum.

Bagaimana membuat customer persona?

  • Mengambil data dari analytics
  • Melakukan interview

Terkadang data dari analytics itu kurang cukup. Seperti Instagram, melalui Instagram Insights kita tidak dapat menentukan interest dari audiens teman-teman. Itulah mengapa perlu dilakukan sampel interview.

contoh dari customer persona yang sederhana

4) Apa yang audiens butuhkan?

by Hannah Busing on Unsplash

Memberikan sesuatu yang tidak dibutuhkan hanyalah memakan waktu, biaya, dan tenaga saja. Oleh sebab itu, melakukan interview untuk mengetahui yang sebenarnya audiens itu sangat penting.

Apakah hanya dengan melalui interview? Tidak juga, teman-teman bisa menganalisa konten yang memiliki engagement rate, reach, impressions yang tinggi atau disebut evergreen content.

5) Pahami alur kerja pembuatan konten

Tanpa ada alur kerja yang jelas, kita tidak dapat mengukur pada alur mana yang memiliki masalah dan tidak adanya alur yang jelas membuat produktivitas konten sangat menurun sangat jauh.

by Kelly Sikkema on Unsplash
  • Menggunakan Editorial dan Social Media Calendar

Editorial Calendar
Editorial calendar ini akan membantu teman-teman untuk mencatat planning konten yang akan dihadirkan. Editorial ini lebih dikhususkan ke artikel web ataupun video

contoh editorial calendar

untuk download ada disini

Social Media Calendar
Social Media Calendar ini digunakan untuk mencatat planning konten yang akan dihadirkan. Terdapat beberapa media sosial yang bisa digunakan seperti Instagram, Facebook Fanspage, Twitter, dsb.

contoh social media calendar

untuk download ada disini.

  • Alur Kerja dalam pembuatan konten

Tanpa alur kerja yang jelas, tentu saja akan merepotkan berbagai macam pihak. Designer buat gambar A, tetapi content writer membuat copy C, sedangkan inginnya content strategist itu konten Z.

Akan lucu bukan? 😆

Oleh sebab itu perlu adanya alur kerja (workflow istilah kerennya) agar tetap sesuai dengan keinginan.

alur kerja dari pembuatan konten dalam content strategy

Content briefing- Hal pertama yang perlu dilakukan, jelas briefing dipimpin oleh content strategist. Brainstorming ini bisa dilakukan dengan member tim media sosial. Didalam content briefing, harus sesuai dengan tujuan bisnis yang ingin dilakukan. Lengkapnya ada penjelasannya di bagian “Preparing your Content!

Creating Content- Setelah itu, content writer memulai membuat copy dari ide yang sudah di brainstorming kan.

Creating graphics- Selanjutnya, dengan dasar data brainstorming dan copy dari copywriter, graphic designer mulai membuat image yang sesuai. Bisa juga ditemani oleh copywriter agar gambar lebih menjual.

Review- Setelah itu, konten di review oleh content strategist. Apakah konten ini sudah sesuai dan layak publish?

Publish- Terakhir adalah tugas admin media sosial untuk mem-publish konten yang sudah jadi.

Lalu, bagaimana kalau tidak ada 4 orang?

Setidaknya dalam 1 tim media sosial ada yang berperan sebagai content strategist, content writer, dan graphic designer. Admin media sosial bisa ditangani oleh content writer/content strategist.

Jika 3 orang tersebut pun juga tidak dapat. Seminimal mungkin ada 2. content writer/strategist dan graphic designer.

Content writer/strategist menjadi penyusun konten, sekaligus ngadmin dan review. Lalu tetap, gambar tetap dipegang oleh graphic designer.

6) Preparing your content!

by rawpixel on Unsplash

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat konten.

  1. Content curation
    Content curation merupakan proses pencarian informasi untuk pembuatan konten. Setidaknya ada dua hal yang bisa dijadikan acuan untuk melakukan content curation;
  • Riset konten

Tentu saja dengan riset, mencari informasi tentang apa yang mau dibuat. Semisal; tema utamanya adalah “membangun startup”. Maka riset konten yang dilakukan mencari informasi segala hal tentang 5W+1H “membangun startup”

  • Lirik Kompetitor

Tentu saja, teman-teman jika kebingungan untuk membuat konten apa bisa dengan melirik kompetitor. Dengan melihat kompetitor teman-teman bisa mendapatkan inspirasi 😆

2. Brand Story

Brand story ini merupakan unsur yang menciptakan ke-khas-an produk/merek teman-teman. Brand story ini harus memuat dari beberapa hal;

  • Spesifik

Spesifik ini adalah konten yang dibuat harus sesuai dengan audiens. Jika ingin memberikan konten jenis A, maka audiensnya juga harus sesuai dengan konten jenis A. Semisal, konten tentang “mengasuh anak” namun audiensnya remaja, ya ngga nyambung.

  • Unik

Harus ada pembeda antara konten brand kita dengan yang lain, hal ini bisa menggunakan grafik yang berbeda, copy yang khas, warna grafik yang berbeda.

  • Valuable

Tentu, audiens akan mencari manfaat dari konten yang bisa teman-teman berikan. Kalau tidak bermanfaat, audiens cenderung pergi begitu saja.

  • Jangan lupakan call to action!

Call to action memiliki peran penting sebagai ujung tombak konten. Semisal, untuk mengajak audiens membaca, membagikan, dsb.

7) Publish

by Paweł Czerwiński on Unsplash

Ada hal yang paling penting ketika mem-publish suatu konten, yaitu waktu. Kapan waktu yang tepat untuk publish?

Hal ini memerlukan teman-teman untuk melihat kembali insight media sosial ataupun web teman-teman. Kapan mereka paling aktif? Jam berapa? Hari apa?

8) Measure

Setelah dipublikasikan, hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah pengukuran sesuai dengan KPI yang ditentukan di awal.

9) Evaluasi

Melalui data KPI yang sudah didapatkan. Teman-teman bisa melakukan evaluasi, konten yang seperti apa yang sesungguhnya paling digemari audiens. Hal ini dikenal sebagai evergreen content.

Kesimpulan

Dalam content marketing strategy diperlukan ketahanan untuk melakukannya. Untuk melakukan hal ini, diperlukan percobaan untuk menemukan ritme yang tepat.

Banyak hal yang harus diperhatikan pula dalam membuat konten, kita tidak bisa asal membuat konten dan mempublikasikannya.

Kuncinya adalah, pahami yang audiens butuhkan. buat mereka senang.