Design Thinking untuk Menyusun Program Kerja Organisasi Kampus? Bisa dong!

Memanfaatkan design thinking untuk membuat program kerja yang benar-benar dibutuhkan oleh mahasiswa

Design Thinking untuk Program Kerja Organisasi Kampus?

Bahasan ini datang sewaktu Saya selesai sharing tentang Design Thinking di @agriquran. Kang Farras selaku empu @agriquran, sempat tanya :

“Uf, berarti design thinking ini bisa dipakai buat nyusun program kerja di kampus gitu ya?”

Sebelum menjawab, sebenarnya Saya kepikiran begini :

“Kang Farras kan dah lulus tahun lalu dari Manajemen di IPB, kok malah nyinggung program kampus yak”

Akhirnya Saya jawab :

“Ya bisa kang, targetnya jelas rakyat mahasiswanya. Tujuannya untuk benar-benar memahami problem yang mereka hadapi ketika berkuliah dan mencari solusi yang tepat.”
Ini saya dan Kang Farras (dulu ada yang bilang mirip 😆)

Memangnya, Design Thinking itu apa?

Ada satu hal yang perlu dipahami, bahwa design itu bukan soal gambar-menggambar. Tapi, design itu adalah suatu proses.

Jadi, design thinking itu sendiri bisa diartikan adalah suatu proses untuk menyelesaikan suatu masalah secara kreatif

Tujuan dari design thinking memangnya apa?

Tujuannya adalah menemukan masalah yang sebenarnya terjadi dan memformulasikan solusinya dengan tepat dengan berbasis riset.

Karena design thinking ini sering digunakan untuk membantu develop produk, tentu saja ini dipakai untuk membuat produk yang sesuai dengan masalah/keinginan konsumen. Ga cuma asal buat yang penting bagus dan berasumsi bakal laku.

Photo by Nathan Dumlao

Terus, hubungannya dengan bikin program kerja kampus?

Hubungannya? Design thinking ini akan membantu banget membuat program kerja yang sesuai dengan masalah yang ada.

Semisal, sebuah divisi minat dan bakat ingin melakukan design thinking. Kurang lebih akan begini :

Emphatize

Pada proses ini, teman-teman riset tentang penyaluran minat dan bakat di kampus. Ada beberapa metode yang bisa dilakukan: observation;interview; dan user shadowing

Dengan metode diatas, coba tangkap user journey mereka. Pada hal ini adalah tentang penyaluran minat dan bakat mahasiswa.

“Bagaimana kamu (sebagai mahasiswa) menyalurkan minat dan bakat?”

Jawaban mereka akan berisi tentang perjalanan mereka untuk menyelesaikan masalah “minat dan bakat” menurut versi mereka.

Kunci ketika emphatize adalah membiarkan mereka bercerita tanpa interupsi dan carilah akar masalahnya dengan menggunakan “5 why” (ketika melakukan metode interview)

Teman-teman juga bisa menggunakan tools yang bernama empathy map untuk membantu memahami permasalahan user.

Define

Pada proses define, teman-teman akan dihadapkan dengan berbagai macam masalah dari user. Oleh sebab itu pentingnya ada klasterisasi/pengelompokkan masalah.

Semisal dalam masalah minat dan bakat :

  1. Bidang yang diminati boros uang
  2. Ga pede
  3. Ga punya relasi
  4. Masih bingung bakatnya dimana
  5. Ragu akan kemampuan
  6. Ga punya duit

Teman-teman coba untuk mengelompokkan dari masalah yang ada :

  1. Finansial : Bidang yang diminati boros uang & Ga punya duit
  2. Skills : Masih bingung bakatnya dimana & Ragu akan kemampuan
  3. Interpersonal : Ga pede & Ga punya relasi

Setelah melakukan pengelompokkan, teman-teman melakukan validasi kembali dengan menanyakan jenis masalah yang paling berat kepada user.

Untuk hal ini, cobalah untuk menarget lebih banyak user untuk memastikan masalah tersebut tidak hanya dihadapi 1–5 orang sampel user saja.

Ideation

Setelah melakukan klasterisasi, teman-teman melakukan design challenge untuk menemukan beberapa solusi sekaligus untuk 1 kluster masalah

Design challenge ini dinamakan How Might We atau “Bagaimana Kita Bisa”. Ini digunakan untuk memicu kita dalam brainstorming

Kenapa kita melakukan design challenge?

Dengan melakukan design challenge, teman-teman bisa menemukan lebih banyak solusi dan lebih mudah dalam melakukan proses brainstorming!

Bagaimana membuat How Might We?

Siapkan sticky notes, dan tulis di pojok kiri atas “HMW”

Semisal:

Bagaimana kita bisa memudahkan mahasiswa menemukan minat dan bakatnya?

Bagaimana kita bisa menghubungkan mahasiswa dengan minat dan bakat yang sama?

Bagaimana kita bisa membantu finansial kepada mahasiswa yang sedang menyalurkan minat dan bakatnya?

Sudah? Kini saatnya teman-teman untuk diskusikan bareng-bareng idenya dari setiap how might we

Semisal:

  1. Bagaimana kita bisa memudahkan mahasiswa menemukan minat dan bakatnya?

Solusi :

  • Menggunakan talent mapping
  • Mengadakan workshop tentang personaliti
  • Mengadakan gathering untuk membahas minat dan bakat tertentu

Sudah? Nah validasikan kembali ke user teman-teman! lagi-lagi cari user yang lebih banyak, agar data semakin valid. Pilihlah solusi dengan jumlah yes paling banyak dari user.

Kalau ga valid? coba cari solusi yang lain.

Prototype-Test

Dalam product development pada ini terpisah, cuma kali ini saya gabung saja.

Gimana bikin prototype-nya? ini kan bukan software

Ga perlu ribet-ribet, jalankan program kerjanya dengan beberapa user teman-teman (yang sedikit, 5–10 misalnya)

Semisal :

  • Menggunakan talent mapping untuk mencari minat dan bakat

Adakan sejenis program workshop untuk talent mapping sebagai wujud TEST-nya. Gali feedbacknya!

Apakah mereka terselesaikan masalahnya?
Apakah sulit?
Bagaimana perasaan mereka?

Some tips ketika melakukan testing

1. Perbanyak mendengarkan daripada menjelaskan

2. Untuk pengguna: think out loud saat mencoba prototype

4. Yang berharga adalah masukannya, bukan prototype-nya

Jika valid (dalam hal ini banyak positif), terapkan ke lingkup yang lebih luas. done!


Bagaimana teman-teman? Feel free untuk bertanya di kolom komentar dibawah ini ya!

Claps? Jangan cuma 1… 20 kali kalau bisa 😃 😄