Media Cetak vs Media Daring

Oleh Muh. Galang Pratama

U2D/Harian Fajar

“Pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematis dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun acara.” –Roland E. Wolseley

Demikian kalimat yang diutarakan pakar jurnalistik yang telah menulis lebih dari 1.000 artikel majalah, dan penulis “Black Press U.S.A”, itu ketika ditanya tentang jurnalistik.

Hari ini, media daring (online) menjadi kabar buruk bagi media cetak.

Disebabkan karena di abad ke-21 ini, media daring perlahan demi perlahan mulai memimpin pasar. Hal ini dipengaruhi dari pengguna media sosial yang dari tahun ke tahun semakin bertambah. Lembaga riset digital marketing, E-marketer memperkirakan pada 2018, jumlah pengguna aktif gawai di Indonesia mencapai lebih dari 100 juta orang.

Hadirnya “barang maya” itu kemudian menyempurnakan kebutuhan manusia di abad milenial ini. Yang mana masyarakat lebih memilih hal praktis daripada harus mencari jalan sulit mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Termasuk memenuhi kebutuhan mengakses informasi terkini.

Tidak bisa dinafikan begitu banyak situs baru penyedia berita daring. Orang dari berbagai kalangan baik sebuah lembaga, organisasi, atau bahkan media seperti koran dapat dengan mudahnya menciptakan portal berita berisikan informasi.

Dan semua kalangan masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah, murah, dan cepat. Bahkan hadirnya situs media daring itu kemudian hari ini menjadi tidak terkendali. Begitu banyak dan beragamnya sumber bacaan dari media sosial, menjadikan masyarakat tertentu berpikir apakah berita yang diakses itu berita benar atau hanya berita bohong?

Akhir-akhir ini beragamnya portal media daring juga memunculkan istilah tersendiri untuk menyebut berita palsu, berita bohong, dan sebutan lain yang mengarah pada berita hoaks. Hoaks kini tumbuh subur dan meresahkan berbagai kalangan.

Sedangkan hukum diam seribu bahasa. Di mana peran para pembuat aturan hukum di sini? Jangan sampai hal ini terlambat diakomodasi, sehingga para penyebar hoaks seenaknya menyebarkan berita-berita bohong. Di lain sisi, dampak hadirnya media daring juga ikut mencemaskan perusahaan media cetak. Karena media daring dapat menimbulkan pengaruh yaitu beralihnya pengiklan dari koran cetak ke portal daring.

Kita tahu, akibat munculnya beragam portal media daring kini juga memengaruhi tutupnya beberapa media cetak di Indonesia. Seperti data yang diolah dari tirto.id (1/4/2017) menyebut pada 2014 media cetak Indonesia yang mati di antaranya Majalah Jasa Keuangan Indonesia, Tamasya, Tabloid Gaul, Harian Jurnal Nasional, Tabloid Soccer, dan Majalah Chic.

Sedangkan pada 2015, Koran Tempo Minggu, Jakarta Globe, dan Harian Bola harus hengkang dari peredarannya. Dan baru-baru ini 2016; Harian Sinar Harapan, Majalah Sastra Horison, Majalah Cita Cinta, Tabloid Sinyal, Majalah Trax, dan Majalah Kawanku juga harus gugur selama-lamanya karena tidak mampu bertahan di era persaingan media saat ini.

Karena banyaknya hoaks di portal media daring itulah yang kemudian membuat media cetak (koran) masih menjadi pilar utama sumber informasi masyarakat. Sebab, di koran inilah kita dapat membaca informasi yang akurat, verifikatif, komprehensif, serta dapat menjawab rasa ingin tahu pembaca.

Bahkan penulis pun lebih memilih membaca koran daripada harus mengakses berita dari media daring. Harapan penulis bagi perkembangan arus informasi saat ini, semoga media cetak seperti Harian FAJAR dapat eksis dengan jumlah oplah mencapai 33 ribu eksamplar per hari dalam memberikan informasi yang akurat, seimbang, dan aktual kepada para pembaca.

Banyaknya berita hoaks di dunia maya membuat banyak pembaca kini berpikir beralih mengakses berita dari media daring ke media cetak. Penulis pun harus beriterima kasih kepada redaksi surat kabar ini, yang telah bersedia menampung gagasan penulis meski hanya dalam bentuk tulisan opini. Demikian saja! (*)

Sumber : Harian Fajar, 5 April 2017