Mengudara dengan Puisi

Aku tidak suka gelisah, makanya aku menulis. Aku ingin segera meluluhlantakkan perasaanku saat ini juga, tak ada cara lain selain menulis.

Beberapa hari lalu, tepatnya Kamis, 15 Juni 2017 malam, sekitar pukul 20.00 wita, aku menuju ke Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar.

RRI Makassar Pro 4, Jl Riburane

Aku datang ke sini tak lain hanya untuk memenuhi undangan dari salah seorang penulis Makassar, pemerhati anak dan penasihat di radio itu — bagian terakhir itu baru aku tahu dari beliau langsung malam itu — untuk membacakan puisi.

Sebuah undangan lewat pesan FB

Tak lama kemudian, aku mengi-iya-kannya. Meskipun awalnya tampak ragu, tapi karena semngat untuk belajar, makanya aku memastikan datang malam itu.

Hari H tiba. Aku melajukan motorku dari Sungguminasa ke Kota Makassar. Jaraknya sekitar 13,5 KM. Aku berada dalam perjalanan selama kurang lebih 40 menit.

Jarak tempuh menurut google map

Sesampai di tempat tujuan, aku bertemu dengan beberapa penulis lainnya yang akan ikut membacakan puisi puisinya. Namanya Reina Athaliya Yahya, Damar Al Manakku, dan Benaafit alias Muhammad Nafee, tentu yang tak kalah penting adalah aku bertemu dengan Kak Rusdin Tompo berserta dua penyiar radio dari RRI Pro 4 Makassar.

Sedikit waktu dipakai buat perkenalan. Setelah itu, dimulailah acara pembacaan puisi. Dan… akulah yang mendapat giliran pertama untuk membacakan puisi.

Pembacaan puisi yang benar benar tenang

Judul puisi pertama yang aku bacakan adalah “Membakar Rumah Sendiri”. Setelah itu, break sebentar. Lalu dilanjutkan kembali pembacaan masing-masing puisi dari teman teman yang hadir.

Selanjutnya, momen penting yang harus aku catat di sini adalah bahwa ‘membunyikan’ puisi itu perlu. Sebab puisi dibuat bukan hanya dibaca dari dalam hati, melainkan juga harus siap didengar oleh panca indra bernama telinga. Ada banyak pendengar melalui jaringan udara, radio, misalnya yang senantiasa siap mendengar puisi, bahkan tanpa kertas atau gawai sekali pun.

Nah. Dari sinilah aku mulai sadar, bahwa aku masih perlu memperbaiki tulisan tulisanku selanjutnya. Agar dapat dibaca sekaligus didengar oleh mereka yang haus akan puisi.

Saat On Air, aku sempat menyinggung, ketika ditanya, judul puisiku yang bagus. Aku mengutip kalimat dari Sapardi Djoko Damono bahwa,

puisi bagusku adalah puisi yang belum pernah selesai aku buat.

Dalam kesempatan itu, aku membacakan sekitar lima judul puisi. Di antaranya puisi berjudul ‘membakar rumah sendiri’, ‘kepemimpinan belum mati’, benih hibrida yang terlupakan’, ‘dengan (mahar) puisi’ dan puisi berjudul ‘termangu’. Oh iya, aku juga sempat menyinggung karyaku berjudul ‘Perempuan Jeneponto’.

Di akhir acara, kami menyempatkan untuk membuat hari itu menjadi abadi. Dan. Nah! Inilah kebadian itu.

Gambar dan tulisan adalah dua rukun wajib dalam mengabadikan momen.

Sekian,

M. Galang Pratama,
Gowa, 21 Juni 2017
at 00.05 wita.