Berbagi rasa dengan hati, di Maroon Mengabdi
Semester tujuh, adalah semester yang bisa dibilang fase yang paling ‘seru’ di jurusan Planologi. Bagaimana tidak, semua ilmu dasar yang kita pelajari dari awal sebagai mahasiswa akan digunakan pada semester ini sebelum benar nanti menuju semester akhir. Rasanya, segala jiwa raga sudah terkuras habis untuk segala beban di semester tujuh ini, baik akademik (terutama studio yang rasanya tidak ada ujungnya), tanggung jawab di himpunan dan terkadang masih gatal untuk mengejar ambisi — ambisi pribadi yang sampai sekarang masih terengah — engah.

Diantara segala tanggung jawab itu, ada satu program yang diinisiasi oleh beberapa kawan saya di Himpunan, sebuah program pertama yang mengajak saya sebagai warga himpunan untuk melepas ego, arogansi sebagai mahasiswa untuk turun ke salah satu desa di perkotaan pinggiran ini (Re : Perkotaan Jatinangor) dan mencoba untuk belajar, memahami, peduli serta berkontribusi langsung kepada masyarakat. Maroon Mengabdi, dua kata yang mewakili segala mimpi dari program ini.
Rasanya, sudah cukup lama dari terakhir saya berkecimpun di semesta ‘Pengabdian Masyarakat’, terakhir yang saya ingat adalah ketika ikut menyusun program Bilik Sekolah Pengmas di bulan Januari lalu. saya jadi ingat bahwa dahulu ketika masih di tingkat awal sampai tiga, kegiatan bermasyarakat adalah ‘jalan ninja’ yang coba saya pijak sebagai seorang mahasiswa. Namun akhir — akhir ini, entah mengapa jalan itu perlahansaya tinggal dan realita serta ambisi pribadi berhasil menutup kepedulian saya terhadap sekitar, sejak itu pula saya sudah tidak pernah lagi punya keinginan untuk mengabadikan momen (baik itu foto, video, bahkan tulisan).
Karena kesibukan yang terlalu banyak dibuat — buat, program Maroon Mengabdi yang seharusnya bisa saya bersamai akhirnya tidak bisa saya manfaatkan sepenuhnya. Program ini terus berjalan, terus dirancang dan saya tidak bisa terlalu banyak berkontribusi diawal, sedih memang karena aktivitas seperti itulah yang harusnya menjadi orientasi saya. Tapi, dengan penuh syukur selalu ada rekan — rekan (biasa disebut Warga Komisariat) yang selalu siap untuk menerima, mengayomi, dan mengajak saya untuk terus mencari celah — celah kebermanfaatan dari adanya Program ini, terutama teman — teman Adhoc.

Selama lima bulan lebih kalau tidak salah program ini dirancang, dari apa yang saya lihat telah banyak yang dilalui, mulai merancang dengan idealisme mahasiswa Planologi,melakukan riset yang tak henti — henti, sampai akhirnya program ini sudah mencapai fase puncaknya, yaitu live in selama tiga hari di Masyarakat.
1–3 November 2019, adalah waktu dimana warga HMP Komisariat pertama kali pergi keluar sekre (zona nyamannya) untuk hidup melebur dengan masyarakat dengan segala ambisi serta kekhawatiran. Disaat yang bersamaan pula, tanggung jawab, beban pribadi dan kelompok juga tetap menyertai kami sebagai mahasiswa, terutama saya sendiri. Namun kami semua saat itu sepakat untuk “Simpanlah sejenak beban kita, mari kita saling berbagi rasa disana, dan carilah pembelajaran sebanyak — banyaknya”
Setelah semalam suntuk menyicil tanggung jawab akademi, saya dan beberapa rekan seangkatan akhirnya tiba juga di desa Citali, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. tanpa tanggung — tanggung, ketika kami sampai banyak sekali kegiatan yang dilakukan disana baik bersama masyarakat dan juga warga komisariat itu sendiri. Mulai dari kelas BUMDes, pemasangan plang, santai bersama beberapa masyarakat, bermain bersama anak — anak dilapangan disore hari, menikmati panorama desa yang luarbiasa indahnya, nge’jam’ musik bersama pemuda disana, masak bersama, saling memberikan pertunjukan seni, bermain games hingga ngeliwet.






Rindu, adalah perasaan yang saya rasakan ketika benar — benar mengikuti rangkaian kegiatan Maroon Mengabdi ini. Meskipun sebenarnya kegiatan ini sangatlah sederhana, namun rasanya hal tersebut saya rasa sudah mulai hilang dalam mewarnai kehidupan saya sebagai mahasiswa, entah mengapa akhir — akhir ini sulit untuk mendapatkan pengalaman itu tadi. Namun T meskipun hanya berlangsung selama 3 hari (dan saya pribadipun tidak bisa ikut seluruhnya), setidaknya secara singkat saya bisa diberi kesempatan untuk kembali melatih dan mendidik hati saya, untuk tetap peduli terhadap masyarakat dan kembali menata kembali orientasi hidup saya.
Terimakasih kepada segala entitas yang berkontribusi pada Program Maroon Mengabdi, kepada ketua program yang tahan banting memmperjuangkan egala mimpi dan idealisme kita, kepada AdHoc yang tiada henti menyusun dan mengeksekusi, kepada badan pengurus yang selalu mengayomi, serta Warga Komisariat yang berhasil membuat saya tersenyum atas semangat yang hadir setiap hari. Program ini sangat berarti bagi saya, berhasil membuat saya kembali punya keinginan untuk berbagi dan peduli serta menjadi momen untuk mawas diri. Meskipun saya tidak banyak mengabadikan dalam bentuk foto dan video, setidaknya biarkan saya membagikannya dalam bentuk tulisan selagi masih hangat — hangatnya, hehe.

