Introvert Kudu Gerak!
Gue, dulu, sempat menjadi seseorang yang skeptis terhadap diri gue sendiri setelah beberapa “tes” kepribadian yang gue coba dan hampir kesemuanya berawalan I alias Introvert. Not far from INFJ atau INFP, dan sekali waktu pernah INTJ. Aneh-aneh memang, gue juga kadang ngga ngerti patokan tes itu apa dan kayak gimana sih mendeterminasinya. Tapi, karena ngerasa itu adalah simulasi buatan orang pinter (psikolog, -red), ya gue percaya aja. Toh, awalan I itu ngga pernah berubah.
Well, pada saat itu memang komposisi karakter gue itu terasa nyata dengan background gue di keluarga ketika masih kecil ; berstatus anak bungsu, gue jarang main keluar, gue jarang dikasi tanggung jawab, gue jarang dihukum, gue literally dimanjain, dan sebagainya. Gue pikir itu adalah anugerah sekaligus cobaan. Menjadi seseorang yang cukup selfish pada saat itu, gue ngerasa kayak ‘eh, emang bener nih kayanya kalo introvert kudu gini’. Dan gue lambat-laun nyaman di alam pikiran itu.
Ketika beranjak dewasa, gue ngerasa kayak ada hal yang menganggu, terutama pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak ketika tahu bahwa ada jenis manusia lain yang lebih ‘bersinar’, yaitu si E alias ekstrovert. Dari kesegalanya yang gue rasa, hampir sebagian besar orang yang sukses dan terlihat sukses biasanya bermodal E di kepribadiannya. Well, judge me! Bagi kita yang melihat kesuksesan seseorang dari hasil, kelihatan banget kalo orang itu semestinya proaktif, rajin bicara, pandai meyakinkan orang, itu E banget kan?
Gue ngga bilang kalo jadi I itu ngga bisa sukses. Tapi sadar ngga sih, untuk menjadi muncul di permukaan dan berpeluang besar meraih kesuksesan, elo harus punya modal E meskipun elo tau kalo I itu elo banget? Nah, secara ngga langsung kita jadi memahami kalau orang yang terlihat sukses itu memang bermodalkan karakter E, entah dia emang orangnya berkepribadian E atau justru orang I yang keluar dari zona aman miliknya. Dengan kata lain, si I ini harus mensintesis-kan dirinya layaknya orang E agar berpeluang lebih sukses.
Elo mau nyanggah gue? Name it, now. Gue juga sempat ngerasa gue adalah seorang I tulen, sebelum gue mulai mengkritik diri gue sendiri. Anak I udah terlanjur terasosiasi dengan sifatnya yang pendiam, tenang, dan sebagainya. Buat gue, itu cuman kata-kata yang bisa jadi lumpur hisap buat kemajuan diri. Gimana mungkin mau meraih sesuatu, tapi elo nya ngga gerak? Gimana mungkin elo mau ngeyakinin orang kalau elo nya sendiri ngga berani dan terbiasa ngomong? Kan jadi kontradiktif, dan gue yakin kalo anak I pernah skeptis terhadap arti kesuksesan, dan menganggap kalau “panggung dunia” cuman emang milik si E. Menurut elo itu adil?
“Ada kok I yang sukses!!” mungkin elo berapi-api ketika menjawab gue. Oke, contohnya aja misal kayak J.K Rowling, penulis. Biasanya introvert kan tuh ya kalau seorang penulis, dan doi sukses. Oke, gue paham kalau elo ngeliat dari hasil. Tapi apakah elo sengaja minggir-minggirin kenyataan kalau sebelum J.K Rowling itu sukses menerbitkan buku Harry Potter pertamanya, doi sempat ditolak beberapa kali oleh penerbit. Dan apa sih yang doi lakukan sampe berhasil? Ya pasti ngomong, anjir! Ngeyakinin penerbit kalo cerita Harry Potter-nya itu layak diterbitkan bukan dateng dari langit. Dia pasti susah payah meyakinkan sampai akhirnya berhasil, dan itu adalah karakter dari si E yang udah gue sebutkan di atas.
“Trus gimana, apakah gue harus ngga mengakui orisinalitas gue sebagai I?”
Gue sih menganggap gini. Kalo elo setuju dan percaya kalo elo itu I, yaudah. Tapi ingat, ada keterampilan hidup yang bisa elo pake dari si karakter E. Gue pikir ini emang rekayasa hidup aja sih, yang elo bisa pelajari lewat try and error. Elo ngga harus jadi mereka yang emang udah E dari sononya, tapi elo bisa belajar jadi lebih baik dan berkembang bermodalkan kemampuan si E. Percaya? Harus. Gimana caranya? Cari tau dengan cara elo sendiri.
Gue sendiri udah nyoba dan terbiasa masuk ke dalam beberapa organisasi, semacam eksekutif kampus, event organizer, sampai ke media. Gue melihat sendiri banyak banget inspirasi dari orang yang ada disana. Perlahan-lahan, itu mengubah gue karena gue sering mencoba dan akhirnya terbiasa. Gue keluar dari zona aman gue sebagai I dan akhirnya membuat gue lebih meyakinkan tanpa meninggalkan orisinalitas gue. Memang sih, awalnya sulit banget dan membutuhkan extra effort, tapi perjalanan di prosesnya sangat membantu diri gue buat jadi orang yang jauh lebih berkembang.
Ruang I elo, jadikan tempat pulang.
Kalau elo masih yakin kalau diri elo itu I tulen, tos sama gue. Gue juga, kok. Seengganya, gue ngerasa bahwa dengan menjadi I itu gue nyaman dan merasa asli. Tapi gue ngga mau terus-menerus terperangkap di ruang yang itu-itu terus sehingga gue akhirnya bergerak dan mencari -eh, mencuri- modal kesuksesan yang orang E punya. Pada perjalanannya, gue ngerasa bahwa gue bisa merekayasa diri gue dengan campuran pengalaman jadi seorang E tanpa merasa kehilangan jatidiri gue seutuhnya.
Tapi itu ngga pernah lepas dari masalah. Sebagai seorang I, gue ngerasa berlaku sebagai seorang E itu capek, literally capek. Menghabiskan energi yang banyak, terutama dari psikologis. Mungkin elo ngerasa juga? Iya bener, orang I emang akan lebih mudah lelah kalau dibenturkan dengan banyak orang, apalagi soal berargumen dan beradu-kepentingan. Dan akan datang momen dimana elo harus tahu gimana cara menyembuhkan diri elo sendiri.
Yup. Baliklah ke ruang I yang elo punya. Tarik diri elo dari keramaian, ibarat mengetuk lagi pintu untuk pulang dan beristirahat. Disana elo bisa nge-charge diri elo dengan sebentuk atmosfer nyaman yang paling elo kenali, merasakan me-time yang sempat terlewat oleh kesibukan, dan sebagainya. Jadikan ruang I elo sebagai tempat pulang, ketika elo sendiri tahu sampai sejauh ini elo udah berjuang untuk mendapatkan yang lebih dan lebih.
We got to cure ourselves. Kadang ketika ngga ada orang yang peduli dengan psikologis kita yang turun, kitalah yang harus sadar kalau kita butuh ruang sendiri. Tarik diri elo sebentar dan tarik nafas panjang. Jalan menuju kesuksesan udah terbentang seiring elo akan terbiasa bermodal insight dari E untuk terbiasa dipakai dalam hidup sehari-hari. Elo pasti bisa, dengan mencoba dan seterusnya jadi terbiasa.
Sekali lagi, Introvert pun kudu gerak! Kapan suksesnya kalo diem-diem bae?
