Belajar dari Anti-Tank

Hampir sekitar 3 kali saya membaca tulisannya Fahri Salam (redaktur pindai.org), tentang Musim Penyiksaan di pantau.or.id. Yang membuat saya tertarik adalah ketika melihat sebuah gambar di tulisan itu. Wajah setengah badan seorang pria sedang berbalik ke kiri (arah pembaca) dan dihiasi dengan gambar Bintang Kejora dibelakannya. Lukisan itu di bagian bawanya tertuliskan “Nikolas Yen, 1971 – 2008” dan sebuah logo. Sebuah lukisan yang digambarkan oleh Anti-Tank.

Karena penasaran dengan Anti-Tank, kemarin (01/07) saya unduh sebuah narasi di pindai.org. Judulnya Semangat Anti-Tank yang ditulis oleh Fahri juga.

Dalam tulisan Semangat Anti-Tank, selebih-lebihnya, ada dua lukisan yang dibuat oleh Andrew Lumban Gaol (pendiri Anti-Tank dan aktif di Street art), yaitu lukisan Udin (teks yang dibuat supaya diterima semua elemen adalah “wartawan yang karena berita”, dengan slogan “Melawan Lupa”) dan Munir (teks yang dibuatnya adalah “orang besar akan dibunuh” juga dengan slogan “Melawan Lupa”), yang dengan frasa “menolak lupa” seterusnya menjadi panduan dalam karya-karya lain, sebagai proses untuk lebih simpel, komunikatif, dan berusaha ramah bagi audiens.

“Teks itu bisa dipakai di mana-mana sekalipun terpisah dari gambar,” kata Andrew.

Untuk mengaktualiskan dan mentransformasikan gambar dan teks untuk diterima oleh semua elemen masyarakat dan organisasi memang tidaklah mudah. Dijelaskan, rumusannya, yang terus dia genapi dalam ritus mengeksekusi sebuah poster, adalah bagaimana menyisipkan ruang diskusi dari bahasa visual yang menawarkan multipersepsi.

Itu secara perlahan membentuk standar selanjutnya. Bahasa Inggris seketika ditinggalkan. Isunya pun makin dekat dengan masalah lokal, dalam arti respons personalnya atas masalah sekitar yang terhubung lewat problem struktural. Bahasa visual harus ikonik, tegas, dan provokatif. Dia juga meminamalisir aksesoris untuk sedapat mungkin memberi peluang orang menangkap pesan dan mudah mengimajinasikannya. Atau, menerjemahkan perkara yang lebih aplikatif: ketika poster itu disablon bisa dipakai seketika, bila seukuran stiker maka objek dan teks visual tetap terlihat; sebaliknya, gambar tetap utuh bila dalam ukuran besar.

Pengaruh karya orang lain selalu terbuka. Salah satunya, sebut Andrew, adalah Emory Douglas, desainer dan ilustrator untuk The Black Panther Party, sebuah organisasi sosialis-nasionalis warga Amerika kulit hitam tahun 1960-an. Karya-karya desain Douglas menjadi ikonik; dia sangat memahami kekuatan visual dalam mengomunikasikan gagasan. Bagi Andrew, objek-objek hidup yang mendominasi karya Douglas adalah ranah penting untuk dipelajari dalam hal “mengeksekusi gradasi gelap dan terang untuk menyalurkan pesan visual yang efektif.”

Hal lainnya yang sangat inspiratif juga adalah soal membaca. Hampir sebagain besar gambar-gambarnya yang propaganda itu ia terinpirasi dari beberapa buku yang menjadi teladan dan guru hidupnya. Membaca, bagi Andrew, membentuk “... gimana caraku bersikap dan berpengaruh ke karya.”

“Street art dalam tindakan personal sekaligus politis.” Semua itu membentuk tindakan personalnya Andrew dan propaganda politiknya membelah kebenaran melalui bidang keahliannya.

Setidaknya gambar Nikolas Yem yang dilukis oleh Anti-Tank di atas juga merupakan sebuah lukisan yang langsung mengingatkan kita untuk terus mengenang Nikolas Yem sebagai tokoh pejuang Papua Merdeka.

Menelah kembali berbagai kasus pelanggaran HAM dan persoalan-persoalan lainnya di Papua, sangatlah dibutuhkan adanya kotemplasi lukisan yang sama seperti yang digambarkan oleh Andrew. Sekurang-kurangnya Semangat Anti-Tank mesti menjadi inspirasi politis untuk kalangan aktivis dari berbagai elemen organisasi di Papua.

Itu saja!