Sepuluh Ribu Jam Lamanya

Sepuluh ribu jam. Selama itulah waktu latihan yang dibutuhkan oleh manusia untuk menjadi seorang ahli di suatu bidang.

Selama sepuluh ribu jam itulah seorang Mozart berlatih sebelum menjadi maestro musik klasik dunia. Selama itu juga The Beatles berlatih dari panggung ke panggung sebelum menjadi grup band terpopuler di dunia pada zamannya.

Angka tersebut muncul bukan tanpa alasan. Ada ratusan hingga ribuan riset yang sudah dilakukan guna mencari angka “keramat” tersebut.

Angka tersebut juga berkali-kali disebut oleh para penulis best seller dunia seperti Robert Greene dan Daniel Coyle dalam buku mereka, Mastery dan The Talent Code.

Berbagai riset dan buku tersebut memiliki kesimpulan yang sama.

Sejelek — jeleknya bakat seseorang dan seamatir — amatirnya kemampuan orang tersebut dalam suatu bidang, ia akan mampu menjadi seorang ahli jika menghabiskan minimal sepuluh ribu jam dalam berlatih dan belajar di bidang tersebut.

Hal yang sebaliknya pun berlaku, seberapa besarpun bakat yang dimiliki seseorang, ia tidak akan pernah menjadi seorang ahli jika ia menghabiskan latihan kurang dari sepuluh ribu jam.

Bahkan seorang Mozart yang dianggap sebagai seorang jenius di dunia musik sekalipun pada mulanya tidak menunjukkan kemampuan yang lebih baik dibanding anak seusianya, bahkan sempat dianggap tidak berbakat oleh guru musiknya.

Bakatnya semata-mata muncul karena ia telah menghabiskan waktu latihan yang lebih banyak jika dibanding dengan teman sebayanya.

Hal yang sama juga dialami oleh orang-orang yang dianggap jenius lainnya. Mulai dari Einstein, Charles Darwin, hingga Muhammad Ali. Saat mereka mulai merintis karir mereka di bidang masing-masing, tidak ada seorangpun yang menganggap mereka berbakat.

Mereka hanya dianggap jenius setelah mereka sukses. Apa yang orang lain anggap jenius, bagi mereka hanyalah hasil ketekunan dalam berlatih.

Daniel Coyle bahkan dalam bukunya mengungkapkan bahwa ia tidak percaya dengan “bakat bawaan lahir”.

Ia percaya bahwa seseorang akan memiliki kecenderungan untuk mencintai suatu hal,dan itu akan menyebabkan orang tersebut untuk cenderung berlatih lebih keras.

Tetapi satu-satunya hal yang mampu mengantarkan mereka menuju tingkat keahlian yang tinggi hanyalah lama mereka berlatih, tidak ada pengaruh bakat sama sekali.

Daniel Coyle, yang juga merupakan salah seorang kontributor di Sport Illustrated, mengungkapan pandangannya setelah melakukan berbagai riset terhadap atlet-atlet yang dianggap berbakat.

Meskipun pada mulanya banyak menuai kontroversi, pandangan Coyle saat ini mulai diterima dan bahkan ada beberapa ahli genetika yang mendukung klaim dari Coyle tersebut.

Dari berbagai riset tersebut, penulis menyimpulkan bahwa masalah yang dihadapi kebanyakan orang adalah mereka terlalu cepat menyerah saat perjalanan mereka sebenarnya baru dimulai dan masih jauh dari syarat sepuluh ribu jam.

Akhirnya orang-orang menganggap diri mereka tidak sanggup dan tidak berbakat di suatu bidang. Padahal, menurut riset yang sudah disebutkan tadi, mereka bukannya kurang berbakat, mereka hanya kurang latihan, mereka hanya belum menghabiskan jatah sepuluh ribu jam mereka.

Semua orang di dunia punya waktu yang sama setiap harinya. Tetapi nyatanya hanya kurang dari satu persen manusia yang mampu menjadi seorang ahli kelas dunia di bidangnya masing-masing.

Sekarang mari kita hitung, seberapa lama sebenernya sepuluh ribu jam itu.

Jika kita anggap dalam sehari kita tidur selama delapan jam, maka kita punya 16 jam untuk dihabiskan.

Manusia tentunya butuh hiburan, makan, minum, dan olah raga dalam rentang waktu tersebut. Kita asumsikan semua kegiatan tersebut dilakukan dalam waktu 6 jam sehingga tersisa 10 jam waktu yang bisa digunakan untuk belajar dan bekerja.

Maka dalam setahun ada sekitar 3.000–3.500 jam yang bisa kamu gunakan untuk belajar.

Artinya kurang lebih setiap 3 tahun sekali seharusnya seseorang bisa menjadi expert di satu hal yang dia kerjakan/pelajari.

Lalu coba kamu ingat-ingat, dari sejak balita sudah berapa lama kamu belajar dan bekerja?

Coba bandingkan dengan berapa banyak hal yang sudah kamu benar benar kuasai.

Apa benar setiap tiga tahun keahlianmu bertambah? Apakah kamu sudah mencapai level kemampuan layaknya seorang expert di bidangmu ?

Jika jawaban kamu adalah tidak, mungkin itulah tandanya bahwa selama ini kamu kurang fokus. Atau mungkin, tanpa disadari kamu sudah menjadi seorang ahli dalam membuang-buang waktumu sendiri?