7 Days Reverse Repo Rate Angkat Saham Perbankan

BI 7-Days Reverse Repo Rate Mencerminkan Transaksi Riil di Pasar | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Surabaya

IHSG pada perdagangan Jumat pekan lalu sempat menguji level 5.470, berusaha untuk mencapai dan menjebol atap sakral 5.524, namun kembali gagal menembus level resisten tersebut. Saat ini IHSG membentuk sebuah pola candle bearish untuk jangka pendek, yang menunjukkan sinyal waspada. IHSG berpotensi kembali menguji suport 5.300 dalam beberapa hari ke depan.

IHSG pekan lalu bergerak dalam range 5.296–5.470, pada Jumat 19 Agustus 2016 ditutup melemah 45,41 poin di level 5.461,04. Dengan sektor yang menjadi pendorong pelemahan terbesarnya adalah sektor Aneka Industri (-2,10%). Satu-satunya sektor yang menguat pada waktu itu adalah sektor perbankan (0,03%) karena investor cenderung menilai positif untuk pemberlakuan suku bunga BI 7 days Repo yang mulai berlaku tanggal 19 Agustus 2016.

Bursa Amerika bergerak melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat. Indeks Dow Jones ditutup pada level 18.552,57 atau melemah 45,13 (-0,24%). Indeks Nasdaq melemah 3,15 poin (-0,14%) di level 2.183,87. Bursa saham Amerika ditutup melemah hari Jumat dengan saham sektor utilities turun lebih dari 1%. Hal ini dikarenakan investor mencerna komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve dan fluktuasi harga minyak mentah.

Meski demikian, sektor perbankan yang menjadi salah satu sektor penggerak IHSG, cenderung mulai rawan profit taking terutama untuk saham yang berkapitalisasi besar.

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada Kopipagi 10 Agustus 2016 saya sempat membahas tentang perubahan suku bunga acuan menjadi BI 7 Days Repo dan Bank Indonesia mulai Jumat 19 Agustus 2016 memberlakukan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo.

Apa itu BI 7 Days Reverse Repo? Dan bagaimana efeknya terhadap Indonesia?

Perlu Anda ketahui bahwa suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate ini lebih kecil dibandingkan dengan suku bunga BI Rate. Suku bunga BI Rate 6,25% sedangkan BI 7 Days Reverse Repo Rate ini sebesar 5,25%.

Menurut Bank Indonesia, Instrumen BI 7-Days Reverse Repo Rate sebagai acuan yang baru memiliki hubungan yang lebih kuat ke suku bunga pasar uang, sifatnya transaksional atau diperdagangkan di pasar, dan mendorong pendalaman pasar keuangan. Apa artinya ?

Artinya, BI 7-Days Reverse Repo Rate akan benar-benar mencerminkan transaksi riil di pasar.

Selain mengganti suku bunga acuannya, BI juga akan menjaga batas bawah koridor suku bunga penyediaan dana rupiah kepada perbankan dari BI atau lending facility 75 basis points (bps) dari 7-Days Reverse Repo Rate, dan batas atas suku bunga penempatan dana rupiah oleh perbankan di BI atau deposit facility 75 bps dari 7-Days Reverse Repo Rate.

Dengan penurunan tingkat suku bunga ini juga akan membuat penurunan suku bunga dalam fasilitas pembiayaan (kredit). Hal ini akan memberikan angin segar bagi sektor industri, dan juga sektor lain yang sensitif dengan suku bunga seperti halnya sektor properti dan otomotif.

Namun sayang, bank belum bisa menurunkan suku bunga kredit tersebut karena beberapa faktor.

Apa saja faktor tersebut ?
Faktor pertama, yang menahan bank untuk menurunkan suku bunga kredit adalah adanya naiknya tekanan likuiditas di Pasar Uang Antar Bank (PUAB). Tekanan likuiditas di PUAB terjadi karena masyarakat memindahkan dananya dari bank rekening pribadi ke bank rekening pemerintah untuk membayar uang tebusan amnesti pajak.

Faktor kedua, yang menahan bank untuk menurunkan suku bunga kredit adalah, rasio kredit macet (NPL/Non Performing Loan) perbankan naik di atas 3%.
Apa itu NPL? Akan saya bahas di artikel edukasi berikutnya.

Kedua hal ini menyulitkan bank untuk menurunkan suku bunga kredit karena bank harus menyiapkan cadangan dana lebih besar dengan mempertahankan suku bunga deposito.

Oleh karena itu, BI masih berpeluang menurunkan suku bunga repo tujuh hari untuk menggerakan likuiditas di PUAB.

Jika tingkat suku bunga kredit nantinya juga akan ikut turun, akan terjadi peningkatan minat usaha mikro kecil dan menengah terhadap pembiayaan kredit dan Kredit Perumahan Rakyat. Sehingga akan membuat ekonomi Indonesia semakin segar.

Karena pembiayaan tersebut akan digunakan untuk memperluas usaha, itu artinya akan ada sentimen positif juga bagi sektor infrastruktur, properti, dan sektor industri dasar.

Bagaimana dengan pergerakan saham hari ini ?

Waspadai saham ITMG dan ADRO, yang berpotensi untuk mengalami profit taking lanjutan. Sementara itu, saham INDY dan KRAS, hari ini masih berpotensi untuk melanjutkan penguatan dan melanjutkan trend naik dalam jangka menengahnya.

7 Day Repo Rate, Suku Bunga Kredit Tak Turun Secepat Deposito | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Surabaya

Bank Indonesia (BI) telah melakukan reformulasi kebijakan dengan mengubah suku bunga acuan dari BI Rate menjadi 7 Day Repo Rate. Diharapkan, suku bunga kredit dan deposito dapat turun berkat kebijakan ini.

Namun, suku bunga kredit diperkirakan tidak akan turun lebih cepat dibandingkan suku bunga deposito. Menurut Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti, butuh waktu lebih lama bagi perbankan untuk melakukan rapat koordinasi sebelum menurunkan suku bunga kredit.

“Kredit tidak akan langsung turun, karena ada rapat koordinasi yang harus dilakukan untuk penurunan suku bunga kredit. Harus rapat dulu, jadi tidak secepat deposito turunnya,” kata Destry saat ditemui di Kantor Pusat BI, Jakarta, Senin (22/8/2016).

Seperti diketahui, dengan tenor selama tujuh hari, perbankan diyakini dapat menyimpan kelebihan dananya di BI dengan suku bunga kompetitif. BI pun meyakini setingkatnya tenor yang menjadi suku bunga acuan ini dapat menekan tingkat suku bunga kredit menjadi single digit sehingga dapat bersaing dengan negara tetangga.

“Jadi ini untuk menarik perbankan juga karena tenornya hanya tujuh hari,” tutupnya.

Transmisi 7-Day Repo ke bunga bank akan lambat | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Surabaya

Jumat lalu (19/8), BI mengumumkan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate tetap sebesar 5,25%. Selain itu, BI juga menahan suku bunga penyimpanan BI (deposit facility) di level 4,5% dan menurunkan suku bunga pinjaman BI (lending facility) menjadi 6%.

Meski Bank Indonesia (BI) telah menetapkan 7-Day Reverse Repo Rate yang lebih rendah daripada suku bunga BI rate, tapi transmisi kebijakan ini belum tentu secepat perkiraan. Sebab, transmisi kebijakan ini ke bunga perbankan dinilai masih tergantung pada kondisi ekonomi domestik.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui, saat ini volume penyaluran kredit perbankan masih relatif lambat. Ini tercermin dari pertumbuhan kredit sebesar 8,9% year on year pada kuartal II-2016, hanya naik tipis dibanding kuartal I-2016 yang tumbuh sebesar 8,7%.

Menurut Perry, lambatnya penyaluran kredit perbankan disebabkan masih rendahnya permintaan (demand). Dari sisi investasi swasta, belum menujukkan peningkatan berarti. Ini pula yang menjadi pertimbangan BI mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 4,9%-5,3%.

Di sisi lain, beberapa bank saat ini menghadapi kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Catatan BI, NPL perbankan meningkat melebihi batas aman ke 3,1%. Hal ini yang juga membuat beberapa bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit.

Dengan kondisi tersebut, perbankan akan sulit menurunkan bunga kreditnya karena mereka memilih untuk menjaga penerimaan yang berasal dari bunga kredit. Selain itu, jumlah dana pihak ketiga (DPK) pada akhir kuartal II-2016 tercatat tumbuh 5,9%, menurun dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 6,4%. “Artinya, dalam jangka pendek, transmisi (kebijakan moneter) ke suku bunga perbankan akan lebih lambat,” kata Perry, akhir pekan lalu.

Bangun optimisme

Oleh karena itu, menurut Perry, perlu dibangun keyakinan dan kepercayaan bahwa pertumbuhan ekonomi ke depan akan mengalami perbaikan lebih cepat. Dengan begitu, swasta akan tergerak untuk mempersiapkan ekspansi usahanya. Hal ini akan mendorong permintaan kredit perbankan.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, penciptaan suasana yang nyaman bagi pelaku bisnis masih diperlukan untuk mempercepat transmisi kebijakan moneter BI yang baru terhadap sektor riil. Dalam hal ini, peran pemerintah menjadi penting untuk melakukan percepatan reformasi struktural.

“Satu-satunya harapan mendorong investasi, sebab belanja pemerintah lemah, apalagi tangan pemerintah telah terborgol dengan aturan defisit anggaran tidak boleh lebih dari 3%,” kata David.

Menurut David, sektor industri yang masih bisa diandalkan, yaitu perdagangan, infrastruktur, dan pariwisata, perlu diberikan kemudahan lagi agar bisa menarik kredit. Pemerintah juga perlu meningkatkan daya beli masyarakat agar konsumsi naik.


Originally published at mimijemari.livejournal.com.