Apa Konsensus Kartel Minyak Global di Aljazair?

Anggota OPEC berharap ada pembatasan produksi minyak mentah di bulan depan | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

Sekjen Organisasi Negara Penghasil Minyak (OPEC), Mohammed Barkindo mengatakan tidak ada kesepakatan yang dibuat dalam pembicaraan informasl antara anggota kartel minyak di Aljazair untuk pekan ini. “Ini pertemuan informal ini karena bukan pertemuan untuk mengambil keputusan,” katanya di Aljazair pada Sabtu malam (17/9/2016) seperti mengutip marketwatch.com.

Beberapa anggota OPEC memendam harapan terjadi kesepakatan pembatasan produksi minyak mentah di bulan depan. Dengan demikian mengurungkan niat beberapa produsen minyak untuk meningkatkan produksi supaya kesepakatan tersebut terwujud.

Beberapa anggota OPEC menjadwalkan pertemuan informasil pada 28 September mendatang. OPEC, kata Barkindo, akan mencoba mencapai konsensus tentang aksi di Algiers. Kemudian dapat mengadakan pertemuan darurat untuk membuat keputusan tentang tingkat produksi jika semua anggota OPEC setuju.

Presiden Rusia, Vladimir Putin telah mendukung pembekuan termasuk di dalam pertemuan Aljazair. Jika hal ini terwujud maka untuk pertama kalinya upaya untuk mengatasi kelebihan pasokan minyak mentah di pasar global. Faktor ini telah membuat harga minyak mentah turun drastis ke level terendah dalam sejarah di kisaran bawah US$30 per barel.

Pasar minyak mentah telah mendapat dukungan dari OPEC dan 14 negara anggota kartel yang mengontrol sepertiga produksi minyak mentah global. Rusia sebagai produsen terbesar di dunia akan setuju pembekuan produksi dari level saat ini.

Isu Ini Topang Penguatan Minyak Mentah | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro mengatakan kesepakatan bisa diumumkan pada bulan ini. Tujuannya untuk mengatasi kelebihan pasokan di pasar global yang memicu jatuhnya harga minyak dalam dua tahun terakhir.

Minyak mentah jenis Brent naik 1,8 persen ke US$46,59 per barel. Untuk minyak mentah AS naik 2 persen ke US$43,91 per barel.

Sementara ekspor minyak mentah dari produsen terbesar ketiga OPEC, Iran bulan Agustus melonjak 15 persen dari bulan sebelumnya. Ekspor Iran mencapai 2 juta barel lebih perr hati, menurut sebuah sumber yang mengetahui jadwal tanker di pelabuhan. Tingkat ekspor ini mendekati kinerja ekspor minyak Iran sebelum terkena sanksi dari Uni Eropa lima tahun lalu.

Sementara dari AS, pengebor menambah 11 rig minyak dalam 12 pekan terakhir. Pengebor juga menambah dua rig minak dalam sepekan hingga 16 September. Penambahan ini menjadi total tig sebanyak 416 sejak Februari 2016.

Harga minyak mentah di pasar Asia menguat hampir 2 persen pada perdagangan Senin (19/9/2016). Kenaikan terjadi setelah Venezuela mengatakan OPEC dan non-OPEC hampir mencapai kesepakatan untuk menstabilkan produksi minyak.

Kenaikan harga juga merupakan respon investor setelah upaya pengapalan ekspor minyak pertama gagal dengan munculkan bentrokan. Bentrokan itu telah menghentikan proses muat kargo minyak pertama dari pelabuhan Ras Lanuf. Kondisi ini juga meningkatkan kekhawatiran konflik baru tentang sumber daya minyak di Libya, seperti mengutip cnbc.com.

Minyak mentah jenis Brent dan WTI turun ke level terndah pada penutupan Jumat lalu dengan kekhawatiran pasokan dari Libya. Sebab ekspor Libya akan menambah kelebihan pasokan di pasar global.

Harga Minyak Masih Rentan, Iran Dukung Stabilisasi Global | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

Pada penutupan perdagangan Jumat (16/9), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak Oktober 2016 turun 0,88 poin atau 2% menjadi US$43,03 barel. Sementara itu, harga minyak Brent kontrak November 2016 merosot 0,82 poin atau 1,76% menjadi US$45,77 per barel.

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya mendukung langkah apa pun untuk menstabilkan pasar minyak global sekaligus mengangkat harga. Pasalnya, penurunan harga berbahaya bagi seluruh pihak, terutama negara-negara produsen.

Iran menyatakan dukungan terhadap langkah apa pun untuk menstabilkan pasar minyak global dan mengangkat harga. Masalah surplus suplai membuat komoditas tersebut dibayangi tren bearish.

“Kami menyambut langkah-langkah yang bertujuan untuk menstabilkan pasar dan meningkatkan harga berdasarkan prinsip keadilan, kewajaran, dan kuota yang sama rata bagi semua produsen minyak,” paparnya seperti dikutip dari Reuters, Minggu (18/9/2016).

Pernyataan Rouhani mengacu pada acara International Energy Forum, 26–28 September 2016. Dalam agenda tersebut, OPEC dan negara produsen lainnya berjanji untuk membicarakan pembatasan produksi melalui rapat informal.

Di sisi lain, salah satu sumber Reuters mengatakan OPEC kemungkinan bakal menghidupkan kembali pembicaraan mengenai pembekuan produksi minyak ketika bertemu negara non-OPEC di Aljazair.

Arab Saudi dan Rusia telah menyetujui pada bulan ini untuk bekerja sama membenahi pasar minyak dengan membatasi produksi ke depan.

International Energy Forum direncanakan melibatkan 73 negara yang menyumbang sekitar 90% pasokan minyak mentah dan gas alam global. Namun, secara historis pemotongan level produksi tidak mudah disepakati oleh seluruh anggota komite OPEC.

Iran merupakan produsen ketiga terbesar OPEC yang memacu produksi setelah pencabutan sanksi ekspor pada Januari 2016. Sebelumnya, mereka menolak untuk bergabung dalam upaya pembekuan produksi apa pun untuk mengembalikan pasarnya yang hilang.

“Ini akan menjadi pertemuan informal, bukan untuk membuat keputusan,” ujar Barkindo.

Pernyataan Barkindo mengecilkan peluang adanya hasil konkret dalam pertemuan di Aljazair. Padahal, sejumlah produsen menyatakan akan turut serta menstabilkan pasar minyak.

Meskipun demikian, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammed Barkindo mengatakan, rapat anggota bersama dengan produsen minyak non-OPEC di Aljazair merupakan pertemuan informal untuk diskusi. Artinya, rapat tidak akan fokus pada pengambilan keputusan.


Originally published at mimijemari.livejournal.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.