Apa Penyebab Pemberian ASI Gagal?

PT Rifan Financindo Berjangka — Mia Sutanto, ketua umum AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia), menjelaskan, keberhasilan ASI dipengaruhi beberapa faktor. Ada yang berasal dari eksternal maupun internal ibu. Antara lain dijelaskan Mia sebagai berikut:

Faktor Eksternal | PT Rifan Financindo

Biasanya, rasa percaya diri yang kurang, seringkali dipengaruhi faktor eksternal. Yakni, kurangnya edukasi dan informasi tentang ASI.

Kurangnya dukungan lingkungan terhadap ibu untuk memberikan ASI juga menjadi faktor yang memengaruhi keberhasilan ASI. “Suami, orang tua, mertua, tetangga, saudara, teman kerja, tenaga medis dan lain sebagainya, jika kondisinya tidak kondusif untuk mendukung pemberian ASI, potensi keberhasilan ASI pun akan menurun,” kata Mia. “Dukungan semua pihak sangat-sangat dibutuhkan,” imbuhnya.

“Hampir sama dengan pengalaman saya sendiri 9 tahun lalu yang mengalami banyak tantangan saat menyusui anak pertama. Dan dari pengalaman itu pula saya akhirnya mendirikan AIMI, karena saya ingin menjadi ‘seseorang yang bisa dihubungi’ saat ibu-ibu menyusui menghadapi kesulitan,” ujar Mia serius. “AIMI, sangat fokus memberikan edukasi, terutama kepada mereka yang sedang hamil.”

“Seperti diketahui, di Indonesia jatah cuti melahirkan hanya 3 bulan. Sementara ASI ekslusif saja membutuhkan waktu enam bulan. Jadi belum selesai periode pemberian ASI ekslusif, ibu sudah harus kembali bekerja. Jika kantor tempat bekerja juga belum memberikan dukungan yang layak, seperti memberi izin ibu memerah susu, menyediakan lemari pendingin, dan lain sebagainya, pemberian ASI bisa bubar jalan,” terang Mia.

Ketiga, kurangnya perlindungan melalui peraturan pemerintah terhadap ibu menyusui. Padahal sekarang ini semakin banyak ibu yang juga bekerja, entah itu di sektor formal maupun informal.

Faktor internal

Keinginan dan komitmen. Tidak ada dua hal ini, maka tidak perlu berpikir tentang keberhasilan ASI.

Kurangnya rasa percaya diri seorang ibu, bahwa dia “bisa” memberikan ASI pada bayinya, bisa memengaruhi keberhasilan ASI. Jika di otak seorang ibu, saat masih hamil saja, sudah dihinggapi berbagai macam ketakutan. Takut kalau ASI tidak keluar, takut kalau ASI tidak cukup, dan lain sebagainya. Sehingga begitu mudah berpikir tentang alternatif, yaitu susu formula. “Ketika terpikir tentang “pengganti” inilah, maka seorang ibu telah memberikan hambatan pada dirinya sendiri untuk memberikan ASI,” tegas Mia.

Ibu Lahirkan Anak Prematur, Kandungan ASI Lebih Kaya Nutrisi | Rifanfinancindo

Menurut studi dari peneliti Aarhus University Denmark ini, kandungan nutrisi ASI pada ibu yang lahirkan bayi prematur mengandung kandungan makro nutrien seperti protein, lemak, dan karbohidrat lebih tinggi dibandingkan dengan ibu-ibu yang melahirkan di waktu normal

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi baru lahir hingga usianya enam bulan. Fakta menariknya, wanita yang melahirkan bayi prematur memiliki kandungan ASI lebih kaya nutrisi makro (lemak, karbohidrat dan protein) bila dibandingkan dengan wanita yang melahirkan sesudah usia kandungan 37 minggu..

Seperti dikutip laman Times of India, Kamis (11/8/2016) kandungan ASI sedikit berbeda dibandingkan bayi yang lahir normal karena untuk memberikan nutrisi pada bayi yang belum berkembang sepenuhnya. Kandungan ASI ini juga berperan menjaga sistem pencernaan bayi.

“ASI merupakan contoh terbaik kebutuhan nutrisi bayi. Pada kandungan bayi prematur ada kebutuhan nutrisi spesial di dalamnya,” kata peneliti, Ulrik Kramer Sundekilde.

Namun selain nutrisi makro, ternyata ditemukan perbedaan mikro nutrisi pada ibu yang melahirkan di waktu usia kehamilan penuh dan prematur.

Pada penelitian sebelumnya juga menyebutkan kandungan ASI pada ibu yang melahirkan bayi dengan usia janin normal berbeda dengan yang melahirkan anak prematur.

Hasil kesimpulan ini diketahui lewat studi analisis terhadap komposisi kandungan 45 ASI ibu prematur yang melahirkan bayi nol hingga usia bayi 14 minggu.

Akhiri Promosi Susu Formula di Bawah 3 Tahun | Rifan Financindo

Resolusi mencakup susu formula lanjutan dan susu pertumbuhan. Anggota Presidium Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak Candra Wijaya, Rabu (10/8), di Jakarta, mengatakan, GKIA merekomendasikan Kementerian Kesehatan meninjau aturan terkait air susu ibu, sesuai resolusi WHA atau sidang pleno Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Berbagai organisasi masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak mendukung pemerintah melarang promosi produk makanan bayi dan anak usia di bawah 3 tahun. Itu menindaklanjuti hasil resolusi World Health Assembly atau WHA, akhir Mei lalu.

Pada revisi regulasi ASI eksklusif, sistem pengawasan, pelaporan, dan penegakan sanksi atas pelanggaran aturan harus disempurnakan.

“Promosi produk makanan bayi dan anak yang tak bertanggung jawab menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Padahal, pemerintah berupaya meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif,” ujarnya.

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Doddy Izwardi mengatakan, dengan jumlah kelahiran 4,3 juta per tahun, Indonesia menjadi pasar besar produk pengganti ASI. Jadi, Kemenkes akan mengatur agar industri mematuhi kaidah internasional, yakni resolusi WHA dan Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI.

Pada dokumen Acces to Nutrition Index 2016, Indonesia dengan 172 produk formula ada 1.246 pelanggaran, terutama terkait promosi di toko atau gerai dan promosi di media. Padahal, Vietnam dengan 334 produk hanya 384 pelanggaran.

Menurut spesialis nutrisi Unicef Indonesia, Sri Wahyuni Sukotjo, Indonesia mengadopsi sebagian Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI. “Akibatnya, banyak pelanggaran promosi produk pengganti ASI bagi anak usia di atas 1 tahun,” ujarnya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Agustus 2016, di halaman 14 dengan judul “Akhiri Promosi Susu Formula di Bawah 3 Tahun”.

Menurut survei pada ibu hamil, ibu dari bayi 0–6 bulan, dan tenaga kesehatan di Jawa oleh Judhiastuty Febrihartanty dan Vida Varady dari Universitas Indonesia, 19,7 persen dari 874 responden diimbau memberi produk pengganti ASI bagi bayi di bawah 6 bulan. Itu rekomendasi dari suami, orangtua, keluarga, petugas medis, dan tenaga pemasaran industri. (ADH)

Like this:

Like Loading…


Originally published at ptrifanfinancindoberjangkanews.wordpress.com on August 12, 2016.