Bank Muamalat Proyeksikan CAR Capai 18%

Tiga pemegang saham Bank Muamalat berkomitmen menambah modal perseroan | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

Direktur Utama Bank Muamalat Endy Abdurrahman mengatakan, besaran modal yang perseroan ajukan kepada pemegang saham sekitar Rp 1–2 triliun. Dia berharap tambahan tersebut dapat diberikan tahun ini. Sebab, proses konsolidasi Bank Muamalat diproyeksi segera berakhir.

Tiga pemegang saham PT Bank Muamalat Indonesia Tbk berkomitmen untuk segera menambah modal perseroan. Terkait itu, perseroan memperkirakan capital adequacy ratio (CAR) berpotensi mencapai 18% jika total suntikan modal yang diraih sebesar Rp 2 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan pada Juni 2016, posisi CAR Bank Muamalat di angka 12,78%. Tiga pemegang saham perseroan yang memiliki porsi terbesar adalah Islamic Development Bank (IDB) dengan kepemilikan 32,74% saham, Bank Boubyan 22%, dan Atwill Holdings Limited sebesar 17,91%. “Mengenai rencana suntikan modal, saya belum tahu bentuk implementasi yang ada, tapi pemegang saham kami sudah memastikan soal itu,” tegas Endy.

Endy menjelaskan, tahun depan Bank Muamalat dapat mulai kembali ekspansi menyalurkan pembiayaan. “Kalau sampai akhir tahun ini, pembiayaan kami mungkin hanya tumbuh kisaran 5–10% (year on year/yoy). Minimal 5% mungkin itu dapat perseroan capai,” ujar dia di sela acara penandatanganan akad pembiayaan Bank Muamalat dan PT Duta Mentari Raya (DMR) di Jakarta, Selasa (20/9).

Di samping itu, Bank Muamalat juga tetap fokus mengembangkan pembiayaan di segmen korporasi. Direktur Bisnis Korporasi Bank Muamalat Indra Y Sugiarto menjelaskan, dari total pembiayaan perseroan sekitar Rp 40 triliun, sebesar Rp 21 triliun adalah bisnis korporasi.

“Ke depan backbone (tulang punggung) ritel kami adalah mortgage, sedangkan untuk korporsi, kami akan ekspansi di sektor ekonomi yang masih potensial seperti infrastruktur,” ungkap dia.

Berkaitan dengan ekspansi ke depan, perseroan berupaya menurunkan fokus bisnis di korporasi yang saat ini 60% menjadi 40% dalam tiga tahun ke depan. Oleh sebab itu, ke depan pilar pembiayaan BUS akan fokus di ritel secara khusus bisnis mortgage (rumah).

Sementara itu, perseroan juga menilai pembiayaan untuk perusahaan komoditas secara spesifik yang mengelola kelapa sawit terbilang cukup potensial. Pasalnya, meski harga masih fluktuatif, kebutuhan terhadap hasil olahan minyak sawit masih ada.

Dia menuturkan, usai kesepakatan pemberian pembiayaan kepada DMR, BUS ini masih memiliki beberapa pipeline yang secara nominal lebih besar. “Contohnya, perseroan akan berpartisipasi sindikasi sebesar Rp 100 miliar untuk pembiayaan pembangunan jalan tol dengan sejumlah BPD (bank pembangunan daerah),” ungkap dia.

Sejalan dengan pandangan tersebut Bank Muamalat menandatangani kerja sama untuk pemberian line facility al murabahah I sebesar Rp 70 miliar dan tahap II Rp 5 miliar untuk revolving Duta Mentari Raya (DMR).

“Ke depan, kami memperkirakan penarikan fasilitas pembiayaan di korporasi akan lebih banyak di sisi jenis modal kerja. Adapun fasilitas tahap II yang Bank Muamalat berikan kepada DMR merupakan modal kerja,” jelas Indra.

Bank Muamalat Siapkan Pembiayaan Rp75 Miliar ke DMR | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

PT Duta Mentari Raya (DMR) merupakan anak perusahaan dari PT PPA Kapital yang bergerak di bidang pengelolaan kelapa sawit yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Nantinya pembiayaan tersebut akan digunakan untuk mendanai pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit di Singingi, Riau dan modal kerja. “Dari dana Rp75 miliar dipakai untuk investasi pembangunan dan penyelesaian pabrik kelapa sawit serta pengoperasian dalam bentuk pinjaman modal kerja untuk PT DMR,” terang Direktur PT PPA Kapital Sagit Hartono Santoso.

Sagit menuturkan adanya peluang dan kesempatan di industri kelapa sawit setelah sebelumnya melakukan kajian yang mendalam mengenai industri kelapa sawit dan peluang bisnisnya. Bank Muamalat optimistis kerja sama pembiayaan ini dapat mendukung tumbuh kembangnya potensi dan kualitas industri kelapa sawit nasional.

Bank Muamalat Indonesia akan membiayai line facility Al Murabahah kepada PT Duta Mentari Raya ( DMR) anak usaha dari PT PPA Kapital sebesar Rp 75 miliar. Pada hari Selasa (20/9) di Jakarta, Direktur Utama Bank Muamalat Endy Abdurrahman dan Direktur Utama PT Duta Mentari Raya Edward Soesanto resmi menandatangani Akad Pembiayaan Line Facility Al Murabahah I dan Al Murabahah II.

“Penandatanganan akad pembiayaan ini dibagi dua tahap yaitu tahap pertama (line facility Al-Murabahah I) sebesar Rp 70 miliar dengan tenor 60 bulan dan tahap kedua (line facility Al-Murabahah II) sebesar Rp 5 miliar dengan tenor 12 bulan revolving,” ujar Endy Abdurrahman di sela penandatangan akad.

Bank syariah waspadai 9 sektor berpotensi masalah | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Palembang

Perbankan syariah pada kuartal IV 2016 sepertinya bisa sedikit bernafas lega. Hal ini setelah pada semester I 2016, bank melewati fase terberat dalam hal pembiayaan bermasalah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, karena NPF di beberapa sektor ada di atas 5%, regulator mikroprudensial telah meminta bank untuk menunda pembiayaan ke beberapa sektor yang dianggap bermasalah.

OJK meminta bank syariah memperbaiki NPF di sektor yang bermasalah, sebelum bisa menambah pembiayaan di sektor tersebut. “Terkait ini kami melakukan pengawasan intensif,” ujarnya.

pada semester pertama 2016, pembiayaan bermasalah alias non performing finance (NPF) bank syariah sempat mencapai puncak yaitu di level 5,68%, naik 59,15 basis points (bps) secara year on year (yoy). Sebagai gambaran, NPF perbankan selalu berada di atas 5% sejak harga komoditas turun.

Kemudian ada dua sektor yang mempunyai NPF sekitar 8%, masing-masing adalah sektor listrik gas dan air yang mempunyai NPF 8,38% dan sektor perdagangan besar dan eceran 8,22%.

Dua sektor yang mempunyai NPF sekitar 7% adalah kontruksi dengan NPF 7,11%, dan sektor jasa kemasyarakatan sosial budaya hiburan dan perorangan dengan tingkat NPF 7,79%. Selain itu ada pula sektor yang mempunyai NPF di kisaranr 6%, yaitu industri pengolahan 6,66% dan transportasi pergudangan dan komunikasi 6,92%.

pada Juni 2016 ada sembilan sektor penyaluran kredit yang membuat rapor NPF bank merah. Sembilan sektor tersebut mempunyai NPF di atas 5%. Biang kerok pertama yang membuat NPF bank syariah merah adalah dari sektor pertambangan dan penggalian. Tercatat NPF di sektor tersebut mencapai 15,52%.

Endy menargetkan, pada akhir September, NPF Bank Muamalat akan turun di angka 4,7%. “Sedangkan pada akhir Desember 2016, angkanya diperkirakan membaik menajdi 3,5%,” ujar Endy, Selasa (20/9).

Sektor yang membuat NPF Bank Muamalat merah pada semester I lalu adalah komoditas terutama batubara. Muamalat mengaku, akan melakukan restrukturisasi dan meningkatkan pembiayaan ke sektor yang risikonya rendah dan dapat ditangani dengan baik seperti KPR.

Terakhir adalah sektor yang mempunyai NPF di sekitar 5%, yaitu pertanian, perburuan dan kehutanan yaitu 5,07% dan sektor real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan yang mempunyai NPF 5,85%.

Salah satu penguasa pasar bank syariah, Bank Muamalat merasakan pembiayaan bermasalah di beberapa sektor tersebut. Direktur Utama Bank Muamalat Endy Abdurrahman mengatakan, pembiayaan bermasalah bank Muamalat pada semester I 2016 sempat menyentuh angka 7,23%, atau naik dari tahun sebelumnya 4,93%.


Originally published at mimijemari.livejournal.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.