Butuh Uang Berapa Liburan ke Labuan Bajo & Pulau Komodo?

Tak akan menyesal bagi kamu yang menapakan kaki di Labuan Bajo | PT Rifan Financindo Berjangka

Ardiansyah atau yang biasa disapa Ian, menjadi pemandu awak media. Dirinya adalah orang asli Pulau Komodo, yang sudah barang tentu tahu mengenal pariwisata di Labuan Bajo dan sekitarnya. Lalu pertanyaan muncul, butuh uang berapa untuk liburan ke Labuan Bajo, salah satu destinasi prioritas pemerintah ini?

Labuan Bajo di NTT adalah destinasi lengkap. bawah laut sampai atas buktinya cantik, lalu ada komodo si Naga Purba. Butuh uang berapa untuk ke sana?

“Sebenarnya tergantung dari itinerary yang dipunya. Rata-rata orang liburan ke Labuan Bajo paling cepat 2 hari 1 malam, tapi paling banyak 3 hari 2 malam. Untuk bule berbeda, mereka bisa sampai 1 minggu apalagi yang khusus datangnya untuk diving,” paparnya kepada detikTravel di Labuan Bajo.

Biaya makan di Labuan Bajo pun standar. Artinya tidak beda jauh dengan harga makanan di kota-kota besar lainnya, serta tidak mahal-mahal amat seperti di destinasi timur Indonesia lainnya.

Pertama soal biaya transportasi. Perjalanan dari Jakarta ke Labuan Bajo kini bisa dengan penerbangan langsung maskapai Garuda Indonesia. Harga tiketnya, mulai dari Rp 1,4 juta sekali jalan. Waktu tempuh cuma 2 jam, jadi bisa lebih irit waktu.

Ada lagi boat yang lebih nyaman dan dapat mencapai tiap pulau lebih cepat. Boatnya pun menyediakan makan siang dan snack serta minuman, tapi harganya mulai dari Rp 8 juta yang biasa disebut masyarakat setempat adalah kapal speed.

“Boat juga beragam harganya dan destinasi yang dituju. Misal paling murah itu boat kayu seharga Rp 1,5 juta seharian untuk mengunjungi Pulau Padar, Komodo dan Pink Beach. Satu kapal kapasitasnya 5–15 orang,” terangnya.

Kemudian kembali ke biaya transportasi, selain pesawat transportasi lain yang penting di sana adalah boat. Boat dipakai untuk menjelajahi tiap pulau di Labuan Bajo. Yang sudah wajib didatangi adalah Pulau Padar, Rinca dan Komodo yang masuk dalam bagian Taman Nasional Komodo dengan posisi yang sejajar.

“Di Labuan Bajo sudah banyak hotel. Mulai dari melati sampai hotel berbintang, paling murah itu Rp 200 ribu per malam,” kata Ian yang juga bekerja di bagian Ticketing & Reservasi Garuda Indonesia Labuan Bajo.

Yang lebih mahal adalah, boat untuk liveaboard. Boat ini dilengkapi kamar tidur, yang mana kamu dapat bermalam dengan nyaman di atas laut dan menjadi pengalaman seru. Biayanya mulai dari Rp 10 juta.

“Ada juga biaya tiket masuk ke tempat wisata, seperti di Pulau Komodo itu tiketnya Rp 40 ribu untuk wisatawan lokal,” tambahnya.

Tapi yakinlah, tak akan menyesal bagi kamu yang menapakan kaki di Labuan Bajo

Biaya-biaya yang disebutkan tadi, dihitung dengan harga paling murah. Namun ketika di sana, untuk harga boat masih bisa tawar menawar. Semua tergantung pilihan kamu sendiri, mau liburan ala backpacker atau koper di Labuan Bajo.

Labuan Bajo jadi sub hub Bandara Ngurah Rai | PT Rifan Financindo Berjangka

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan yang harus dilakukan untuk pengembangan bandara Labuan Bajo bukan perpanjangan landasan, melainkan memangkas bukit. “Untuk itu, tahun 2017 kita akan memangkas bukit. Baru di 2018 kita pikirkan untuk perpanjang landasan,” jelas Budi.

ementerian Perhubungan memperbaiki akses menuju Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat. Salah satu yang dikembangkan yakni akses transportasi udara. Hanya saja, perbukitan di wilayah bandara menjadi kendala.

Misalnya dengan menjadikan bandara di Labuan Bajo menjadi sub hub dari Bandara Ngurah Rai Bali. “Kalau semua bandara menjadi Internasional justru nantinya dapat saling mereduksi,” terangnya.

Dia mengatakan akan mengatur ulang hierarki bandara untuk meningkatkan nilai kompetitif bandara di Indonesia. Nantinya, tidak semua bandara di Indonesia harus menjadi bandara Internasional.

Sehingga pesawat garuda bisa menginap di bandara tersebut. “Jadi penumpang mau ke Bali dari sini itu cuma 45 menit. Asalkan kepastian dan entitasnya banyak,” jelasnya.

Budi menyampaikan hal tersebut ke Bupati setempat. Bahwa bandara Labuan Bajo akan dijadikan sub dari Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.

Budi mengatakan, untuk mendukung potensi tersebut, perlu dibangun infrastruktur transportasi seperti pelabuhan dan bandara dengan mensinergikan pemerintah, BUMN maupun swasta.

Labuan Bajo merupakan bagian dari provinsi Nusa Tenggara Barat yang memiliki potensi sebagai daerah wisata dengan pulau Komodonya yang menjadi ikon derah.

Kembangkan Bandara Labuan Bajo: Pangkas Bukit Dulu, Baru… | PT Rifan Financindo Berjangka

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pengembangan bandara di Labuan Bajo tidak cukup dengan memanjangkan landasan pacunya saja. Sebab, ada hambatan berupa bukit di sekitar bandara. “Untuk itu, pada 2017 kami akan memangkas bukit, baru 2018 pikirkan perpanjangan landasan,” katanya lewat keterangan tertulis, Minggu, 30 Oktober 2016.

Budi menjelaskan, pemerintah akan mengarahkan agar turis asing mengunjungi Bali terlebih dulu sebelum ke Labuan Bajo. Dengan demikian, waktu kunjungan mereka lebih lama di Indonesia dan dapat berdampak terhadap ekonomi. “Kalau langsung ke sini (Labuan bajo), dua hari langsung pulang. Untuk itu, kami harus pikirkan sinergi, efisiensi, dan skala ekonominya.”

Pemerintah berupaya mendorong sektor pariwisata di Nusa Tenggara Timur. Salah satu caranya dengan mengembangkan bandara di Labuan Bajo.

Selain itu, pemerintah akan mengatur ulang hierarki bandara untuk meningkatkan nilai kompetitif bandara di Indonesia. Menurut Budi, tidak semua bandara di Indonesia dijadikan bandara Internasional. “Kalau semua bandara menjadi internasional, justru nantinya dapat saling mereduksi,” katanya.

Tidak hanya bandara yang dibenahi, pemerintah akan memfokuskan Pelabuhan Labuan Bajo khusus untuk penumpang. Pemerintah daerah diminta untuk mencari lokasi lain yang akan digunakan sebagai pelabuhan logistik.

Pemerintah berencana menjadikan bandara di Labuan Bajo menjadi sub-hub dari Bandara Ngurah Rai Bali. “Garuda bisa menginap di sini semua. Jadi, bila penumpang mau ke Bali dari sini, cuma 45 menit asal kepastian dan entitasnya banyak,” ucap Budi.


Originally published at mimijemari.livejournal.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.