Gandeng Mitshubisi Sebagai Partner, PLN Dituding Bagi-bagi Jatah Proyek

PLN batalkan lelang PLTU Jawa 5 | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

PT PLN (Persero) telah membatalkan lelang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 5, Banten, Jawa Barat berkapasitas 2×1.000 MW yang diikuti oleh IPP (Independent Power Produser).

Dimana peserta yang mengikuti lelang tersebut adalah konsorsium China Oceanwide Holding, PT Pembangkit Jawa Bali (PJB), Shanghai Electric Power Corporation, konsorsium PT Sumber Segara Primadya (SSP), China Nuclear Engineering Groyp Corporation Ltd (CNEC), dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa berpendapat agar PT PLN (Persero) segera menggelar tender ulang bukannya malah menunjuk PT Indonesia Power (IP) untuk menjalankan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 5 dengan kapasitas 2.000 megawatt (MW) bersama mitranya dari Jepang yakni Mitsubishi.

“Ini aneh, Dirut PLN bilang mengajak mitra dari Jepang karena asas keadilan dan fairness dimana proyek lain di Jawa sudah diberikan kepada China. Memangnya ini proyek bagi-bagi?” cetus Fabby, di Jakarta, Jumat, (23/9/2016).

Namun kemudian setelah membatalkan proses lelang yang hanya tinggal menyisakan dua peserta lagi. Disatu sisi PLN justru malah menunjuk PT Indonesia Power sebagai kontraktor untuk menggarap proyek tersebut.

Pertimbangan utama menunjuk Indonesia Power karena, sudah memiliki lahan serta sudah ada Fisibility Study (FS) dan beberapa common facility PLTU Suralaya 1 Sampai dengan 7 yang dapat digunakan. Sehingga lebih cepat dan efisien dan menguntungkan negara.

Adapun yang akan bertindak sebagai partner Indonesia Power, yakni perusahaan asal Jepang Mitsubishi. Namun, itu masih dalam proses seleksi.

Diakuinya berdasarkan Perpres (Peraturan Presiden) Nomor 4 Tahun 2016 tentang percepatan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, PLN memang bisa menunjuk anak usaha swastanya untuk mengerjakan sebuah proyek. Namun, karena nilai proyek PLTU Jawa 5 ini besar maka anak usaha wajib menggandeng mitra asing.

“Siapa yang bisa menjamin Mitsubishi adalah yang terbaik dan paling kompetitif harganya?” Kata Fabby.

Batalkan Lelang PLTU Jawa 5, PLN Bikin Bingung Investor Asing | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah membatalkan lelang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 5. Sejumlah pihak pun lantas mempertanyakan pembatalan lelang PLTU berkapasitas 2.000 Mega Watt (MW) ini.

Sebelumnya, Plt Menteri ESDM, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, bahwa langkah PLN tidak boleh berbenturan dengan aturan. Ia berjanji akan memeriksa lagi aturan yang ada sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang disusun pemerintah.

Sejatinya PLTU Jawa 5 adalah porsi untuk swasta. Maka PLN harus melakukan tender ulang untuk memilih Independent Power Producer (IPP) yang akan membangunnya.

“Kami akan teliti lagi aturannya agar jangan berbenturan satu dengan yang lain,” kata Luhut.

Luhut juga meminta PLN membuat kebijakan yang tidak membingungkan investor. “Masalah tender, masak ada tender harus joint dengan Indonesia Power? Terus kalau ada perubahan-perubahan PLN nggak perlu memberi tahu? Macam apa itu,” tandas Luhut.

Pengamat hukum Sumber Daya Alam dan Energi dari Universitas Tarumanegara, Ahmad Redi menilai, tindakan membatalkan lelang mega proyek ini cukup aneh. Proyek PLTU 5 adalah bagian dari proyek 35.000 Megawatt (MW) dan menjadi pembangkit terbesar.

Ahmad Redi pun meragukan Indonesia Power (IP) yang ditunjuk PLN untuk menjalankan proyek PLTU Jawa 5. “Jangan sampai kebijakan ini melanggar aturan dan menimbulkan dugaan sarat kepentingan,” kata Ahmad Redi.

Lebih jauh Redi menyatakan, bila perlu pemerintah mengambil tindakan tegas dengan menempuh jalur hukum bila PLN masih terus membuat langkah di luar kendali pemerintah. Lihat saja bagaimana sebelumnya PLN kurang bersinergi dan cenderung konfrontatif dengan Kementerian ESDM.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa mengatakan, PLN seharusnya segera menggelar tender ulang. Bukannya malah menunjuk PT Indonesia Power (IP) untuk menjalankan proyek ini bersama mitranya dari Jepang yakni Mitsubishi.

“Ini aneh, Dirut PLN bilang mengajak mitra dari Jepang karena asas keadilan dan fairness dimana proyek lain di Jawa sudah diberikan kepada China. Memangnya ini proyek bagi-bagi?” kata Fabby saat dihubungi wartawan, Jumat (23/09/2016).

Harus diakui, sesuai Perpres nomor 4 Tahun 2016 tentang percepatan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, PLN memang bisa menunjuk anak usaha swastanya untuk mengerjakan sebuah proyek. Namun, karena nilai proyek PLTU Jawa 5 ini besar maka anak usaha wajib menggandeng mitra asing.

“Siapa yang bisa menjamin Mitsubishi adalah yang terbaik dan paling kompetitif harganya?” ucap Fabby.

Fabby mengkhawatirkan, bila PLN menggelar tender ulang, tidak akan ada lagi investor asing yang mau menjadi peserta tender. “Ini tentu menghambat iklim investasi, asing mana ada yang mau,” tambahnya.

PLN Diminta Konsisten Pasok Gas untuk Proyek Listrik 35.000 MW | PT Rifan Financindo Berjangka Pusat

PT PLN (Persero) diminta konsisten dalam memasok gas untuk proyek pe,bangkit listrik 35 ribu MW. PLN dinilai tidak konsisten Khususnya dalam proyek pembangkit berbahan bakar gas atau PLTGU, di mana PLN mengubah syarat tender soal pasokan gas ke pembangkit.

“Jika memang PLN ingin mengambil alih tanggung jawab pasokan gas maka PLN harus mengambil tanggung jawab penuh dan konsisten dengan berbagai konsekuensinya,” ujar Pengamat Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi di Jakarta, Jumat (23/9/2016).

Fahmi menuturkan, PLN tebang pilih dalam pengambilalihan pasokan gas tersebut. Hal itu hanya berlaku untuk proyek-proyek besar seperti Jawa-bali 3 dan Riau serta PLTGU Jawa-1. Namun tidak untuk untuk proyek PLTGU yang berkapasitas lebih kecil, seperti proyek PLTMG Scattered Riau 180 MW dan PLTMG Pontianak berkapasitas 100 MW.

Dia juga berharap PLN tetap berkomitmen untuk pembangunan proyek 35 ribu MW dengan mempercepat pelaksanaan tender-tender pada proyek 35.000 MW dengan tidak menghambat proses tendernya.

“Solusinya dengan independensi serta persiapan yang matang,” jelasnya.

Meski begitu, dia menuturkan tak menjadi soal apabila PLN menjamin pasokan gas untuk PLTGU. Sebab, proyek ini bakal berjalan baik dengan pasokan gas yang menjadi tanggung jawab PLN.

Sementara itu, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan PLN harus bertanggung jawab jika terjadi kegagalan pasokan gas, bukan pengembang IPP.

Proyek Pembangkit Jawa-bali 3 dan Riau cukup menjadi incaran. Terlihat dari banyaknya perusahaan yang berminat mengikuti tender di dua pembangkit ini. Untuk PLTGU Peaker Jawa Bali — 3, misalnya, beberapa perusahaan yang berminat menjadi peserta tender di antaranya Medco Power, PT Rukun Raharja Tbk, PT Indonesia Power, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Adapun Toba Bara, Medco Power, Global Concord Holding Ltd. (GCL-Poly), dan PT Odira Energy Persada menyatakan ketertarikan mengikuti lelang PLTGU Peaker Riau.

Awalnya, PLN menyerahkan pasokan gas tersebut ke peserta tender. Namun, belakangan diubah dan diambil alih perusahaan pelat merah tersebut. Hal ini terjadi di proyek PLTGU Peaker Jawa-Bali 3 dan PLTGU Peaker Riau. Pembangkit yang masing-masing 500 MW dan 250 MW ini dijadwalkan pengumpulan dokumen lelangnya bulan depan.


Originally published at mimijemari.livejournal.com.

Like what you read? Give Mimi Jemari a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.