​Jepang Nyaris Tanpa Pertumbuhan Ekonomi

PT Rifan Financindo Berjangka — Perekonomian Jepang mencatatkan nyaris tanpa pertumbuhan pada kuartal II periode April hingga Juni, hanya 0,2 persen dalam basis tahunan, melambat secara signifikan 1,9 persen pada kuartal pertama 2016.

Capaian tersebut bahkan lebih buruk dari perkiraan para ekonom yang meramalkan catatan pertumbuhan 0,7 persen dalam setahun.

Pasar merespon negatif kabar tersebut dengan indeks Nikkei melemah 0,2 persen setelah pengumuman tersebut, sedangkan mata uang Yen menguat menjadi 101,41 per dolar AS dari 101,19.

Konsumsi swasta yang menjadi basis atau 60 persen PDB Jepang, hanya bertumbuh sebanyak 0,2 persen. Sedangkan permintaan domestik hanya berada pada 0,3 terhadap GDP.

“Pemulihan ekonomi Jepang tampaknya bergantung dari swasta, meskipun demikian pemerintah harus berhati-hati dengan resiko pasar seperti pelambatan ekonomi di negara-negara berkembang dan ketidakpastian setelah peristiwa Brexit,” kata Menteri Ekonomi Nobuteru Ishihara seperti dikutip Reuters.

Para Analis Tak Terlalu Terkejut Dengan Pencapaian Ekonomi Jepang | Rifan Financindo

“Yen terus menguat belakangan ini, diikuti oleh ketidakpastian situasi ekonomi global, termasuk harga minyak. Jadi tak mengherankan jika ekonomi Jepang nyaris tanpa pertumbuhan,” kata Mark Jolley dari CCB International Securities seperti dikutip CNBC.

Pada bulan Juli lalu, pemerintah pesimistis bahwa PDB Jepang akan mencapai 600 triliun Yen atau USD 5,7 triliun pada 2020, kendati pemerintah telah secara gencar meluncurkan paket-paket stimulus, termasuk paket USD 278 miliar yang diluncurkan bulan lalu untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi ke level 1,3 persen.

Pencapaian ekonomi Jepang yang kecil ini pula yang memicu kekhawatiran ketergantungan paket ekonomi.

Para ekonom pesimistis masalah ekonomi Jepang dapat diselesaikan hanya dengan paket ekonomi, namun juga reformasi struktural terkait menuanya tenaga kerja Jepang. Piramida penduduk Jepang yang tak seimbang, menurut para ahli, adalah pangkal masalah ekonomi Jepang yang melambat. Selain, menurunnya daya saing Jepang di industri elektronik.

Kuartal II/2016 Ekonomi Jepang Tumbuh 0,2% | Rifanfinancindo

Pertumbuhan ekonomi Jepang tumbuh dengan laju yang lebih lambat seiring kontraksi pada belanja usaha untuk dua kuartal berturut-turut serta upaya eksportir menghadapi pergerakan yen yang kembali bangkit.

Menurut data pemerintah Jepang, seperti dilansir Bloomberg hari ini (Senin, 15/8/2016), pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) berekspansi 0,2% pada kuartal kedua, di bawah prediksi para ekonom dengan pertumbuhan 0,7%.

Pada saat yang sama, belanja usaha turun 0,4% dibanding tiga bulan sebelumnya.

Di sisi lain, konsumsi swasta naik 0,2% dan ekspor bersih berkurang 0,3 poin persentase.

Para pembuat kebijakan di negara tersebut saat ini tengah berjuang menemukan strategi untuk mendapatkan pertumbuhan yang konsisten di tengah perekonomian yang sedikit berekspansi dan juga berkontraksi.

Data tersebut terus menekan Bank of Japan untuk mempertimbangkan lebih banyak stimulus moneter pada pertemuan September sementara di sisi lain juga meningkatkan upaya untuk menangani hambatan struktural terhadap pertumbuhan.

“Investasi korporasi telah turun untuk dua kuartal berturut-turut, pertama kali sejak penaikan pajak penjualan pada 2014. Angka PDB mengisyaratkan, terutama bagi sektor bisnis, adanya risiko penurunan yang besar,” ujar Betty Rui Wang, Ekonom Standard Chartered Bank di Hong Kong.

Ekonomi Jepang Melambat | PT Rifan Financindo

Ekonomi Jepang sepanjang periode April hingga Juni 2016 gagal meningkatkan laju pertumbuhan kuartalan. Bahkan sepanjang periode tersebut ekonomi negeri sakura masih tumbuh stagnan atau berada di kisaran nol persen.

Dilansir dari laman CNBC, Senin 15 Agustus 2016, ekonomi Jepang sepanjang kuartal II 2016 hanya tumbuh 0,2 persen atau melambat secara drastis dari capaian periode kuartal I 2016 lalu yang tumbuh signifikan sebesar 1,9 persen.

Dari data kantor kabinet Jepang disebutkan, pelemahan pertumbuhan ekonomi didorong dari konsumsi swasta yang hanya naik tipis 0,2 persen padahal kontribusinya mencapai 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut melambat dari kuartal I lalu yang tumbuh 0,6 persen. Sementara, dorongan permintaan domestik hanya 0,3 persen.

Ekuitas Strategi dari CCB Securities Internasional, Mark Jolley mengatakan ada banyak faktor yang tidak mengherankan bila ekonomi Jepang pada periode ini tumbuh rendah. Yaitu penguatan mata uang Yen, ketidakpastian ekonomi global dan harga minyak dunia.

“Selama Jepang tumbuh antara nol dan satu persen, itu hasil yang luar biasa. Dari sudut pandang pasar ekuitas, selama ada stabilitas dalam perekonomian, ini masih cukup nyaman tapi dengan kondisi ini sebaik tidak banyak yang berharap,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah Jepang mengumumkan paket stimulus fiskal mencapai US$287 miliar atau setara dengan Rp3,7 triliun. Langkah tersebut dengan harapan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 1,3 persen pada tahun ini.

sumber


One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.