Menguji kesaktian Pancasila pada era digital

Pancsila dan Era Digital | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Peringatan Kesaktian Pancasila pada tanggal 1 Oktober terkait dengan peristiwa yang dikenal dengan Gerakan 30 September 1965.

Sejak 1967 hingga reformasi 1998, kesaktian Pancasila dalam setiap peringatannya selalu terkait dengan kemampuan Pancasila bertahan dari upaya penggantian ideologi bangsa menjadi komunisme.

Kesaktian Pancasila bisa jadi saat ini tengah menghadapi ujian dari ancaman paham radikalisasi, terorisme, dan intoleran yang kini marak tersebar melalui berbagai saluran, termasuk media komunikasi digital.

Sebuah peristiwa penculikan dan pembunuhan tujuh perwira angkatan darat dari Tentara Nasional Indonesia yang berujung pada pelarangan ajaran komunis, kemudian pembubaran Partai Komunis Indonesia beserta organisasi lainnya yang terkait.

Praktik pemerintahan berdasarkan paham-paham komunisme saat itu dijalankan oleh sejumlah negara di Eropa Timur dengan Uni Soviet serta Republik Rakyat Tiongkok yang menjadi kiblatnya.

Selama dekade 1960 hingga dekade 1990, arsitektur politik internasional diwarnai dengan pertentangan pandangan komunisme dan liberalisme.

Perpecahan Uni Soviet ini kemudian memberikan pengaruh di kawasan Balkan dan menyisakan Republik Rakyat Tiongkok sebagai negara berkekuatan besar yang masih mempraktikkan paham komunisme.

Dengan perubahan arsitektur politik internasional itu, tantangan dan permasalahan global juga berubah.

Sementara itu, paham liberalisme dipraktikkan oleh Amerika Serikat dan sebagian besar negara-negara di Eropa Barat dan benua lainnya.

Perebutan pengaruh itu kemudian menjalar ke negara-negara di benua lainnya.

Kondisi berubah ketika pada dekade 1990-an, Uni Soviet sebagai salah satu penjuru paham komunis bubar menjadi negara-negara kecil.

Ancaman Nyata

Data dari lembaga pengkajian komunikasi digital “We are Social” yang dirilis pada tahun 2016 menunjukkan dari total populasi 259,1 juta orang, pengguna internet aktif 88,1 juta orang.

Sementara itu, pengguna aktif media sosial di Indonesia tercatat 79 juta orang.

Dengan kondisi ini menunjukkan ancaman radikalisasi melalui medium komunikasi digital juga mengintai Indonesia.

We are Social juga mencatat 326,3 juta warga Indonesia menggunakan pola komunikasi berbasis pergerakan aktif (mobile connections) dan 66 juta di antara menggunakan sistem itu untuk mengakses media sosial.

Dalam beberapa tahun terakhir, tidak hanya kawasan Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika yang diguncang oleh aksi terorisme, tetapi Eropa yang selama ini dikenal aman juga diwarnai serangan teror.

Orang-orang yang terlibat aksi teror diyakini telah mengalami radikalisasi pemikiran sehingga memiliki pemahaman yang salah untuk menyikapi ketidakadilan yang mereka rasakan dan lawan.

Perkembangan teknologi digital pada dekade 2000-an juga diadopsi oleh teknologi di bidang informasi dan komunikasi.

Radikalisasi juga menggunakan medium teknologi informasi dalam menyebarkan paham-pahamnya.

Perubahan arsitektur dan isu internasional membuat tantangan dan masalah yang dihadapi oleh negara-negara juga berubah.

Peristiwa serangan Menara Kembar WTC di New York pada bulan September 2001 membuat pertentangan ideologi antara liberalisme dan komunisme bukan lagi menjadi topik utama.

Terorisme dan radikalisasi menjadi tantangan yang banyak dihadapi oleh hampir seluruh negara di dunia.

Pancasila dan Era Digital

Kepala BNPT Komjen Pol. Suhardi Alius dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa salah satu cara mencegah agar paham radikal dan terorisme tidak tumbuh subur di Tanah Air adalah dengan mempertahankan nilai-nilai keindonesiaan

Suhardi mengatakan era globalisasi dan teknologi informasi yang sudah begitu canggih membawa perubahan hampir di semua bidang, baik ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial budaya, yang memiliki sisi positif dan negatif. Salah satu dampak negatif adalah terkikisnya nasionalisme.

Banyak kalangan yang percaya salah satu pola yang efektif untuk mencegah maraknya upaya radikalisasi di kalangan warga Indonesia melalui penguatan pemahaman sekaligus menjalankan lagi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Di tengah reduksi nasionalisme yang terjadi saat ini adalah masuknya paham-paham yang bermacam-macam, termasuk paham radikal. Ini yang tidak boleh terjadi. Perubahan nilai sosial ini jangan sampai dibawa menjadi tidak baik,” ujarnya.

Dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, kata dia, saat ini generasi baru teroris cukup diasah secara intensif melalui media sosial dengan memanfaatkan internet.

Suhardi mengatakan bahwa sekarang ini kalau mau membaiat seseorang cukup melalui chatting saja, seperti yang terjadi di Medan beberapa waktu lalu, pelaku cukup dicuci otaknya melalui dunia maya, tidak perlu harus datang ke tempat pembaiat.

Ia menegaskan bahwa jaringan teroris di Indonesia masih ada dan terus berkembang. Oleh karena itu, masyarakat wajib mewaspadai keberadaan teroris serta gerak-geriknya.

“Teroris sekarang beraksi dalam kelompok kecil. Masyarakat harus terus waspada. Apalagi, saat ini menjadikan seseorang sebagai pelaku teror tidak perlu lagi pergi mengenyam pendidikan di Afghanistan atau di tempat lainnya seperti yang dilakukan kelompok teror yang dahulu,” ujar Kepala BNPT dalam paparannya.

Sementara itu, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengatakan bahwa munculnya gerakan radikalisme karena bangsa Indonesia mengabaikan nilai-nilai luhur kebangsaan.

Menurut Zulkifli, gerakan radikalisme hingga terorisme menjadi ancaman serius di Indonesia maupun di dunia.

Kesenjangan sosial inilah, katanya, yang menjadi salah satu indikator lahirnya gerakan radikalisme dan terorisme.

“Mereka yang tidak mendapatkan keadilan, baik dalam konteks sosial maupun ekonomi, kemudian mengekspresikan kekecewaannya melaui tindakan ekstrem dan gerakan radikal,” katanya.

Ia memaparkan setelah 18 tahun era reformasi bergulir, ternyata demokrasi di Indonesia masih sebatas demokrasi prosedural yang justru melahirkan kesenjangan sosial yang makin tinggi.

Mengajak masyarakat untuk memahami dan menjalankan lagi nilai-nilai Pancasila menjadi penting, tentunya dengan pola yang kekinian.

Bukan dengan pendekatan satu arah dan penyeragaman pola penerapan serta pemahaman Pancasila, melainkan dengan menggunakan medium-medium komunikasi digital, media sosial, dan hal-hal kreatif lainnya yang memikat, khususnya kalangan muda.

Dengan tantangan yang ada saat ini, bisa jadi kesaktian Pancasila sekali lagi diuji.

Tantangan yang dihadapi Pancasila hari ini jauh berbeda dengan tantangan 10 s.d. 20 tahun yang lalu.

Meski paham komunisme masih dilarang untuk dikembangkan di Indonesia, dengan situasi internasional yang ada, ancaman radikalisasi dan terorisme juga tidak bisa dianggap sepi.

Ahok Jadi Bintang di Lubang Buaya | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi bintang pada upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Sabtu (1/10/2016).

Pemandangan ini berbeda dengan pejabat lain yang berfoto-foto dengan rekannya masing-masing.

Ditemui Kompas.com seusai acara, murid-murid yang datang dari SMP 81 Lubang Buaya itu mengaku senang bisa berfoto bersama Ahok.

Ahok terlihat dikerubungi oleh murid-murid peserta upacara tersebut. Puluhan murid berseragam putih biru tampak mengerubungi dan berfoto bersama Ahok.

Tak hanya murid-murid, anggota Paskibra dan beberapa anggota organisasi juga terlihat mendekati Ahok untuk berfoto dengan calon gubernur petahana ini.

“Senang soalnya bisa foto sama orang terkenal. Pak Ahok stylish, bro,” kata Galih Nurrizki, murid kelas IX SMP 81.

Murid lainnya, Andika, mengatakan, awalnya mereka juga ingin berfoto bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Namun, karena pengawalan yang ketat, niat itu diurungkan.

“Kayak Kartu Jakarta Pintar yang sudah enggak dikasih uang tunai lagi, bagus itu. Tapi, Pak Ahok enggak konsisten soal partai (keputusan di Pilkada DKI Jakarta 2017), tadinya mau independen malah sekarang sama PDI-P,” kata Andika.

Andika yang belum genap berusia 17 tahun itu mengaku memperhatikan pemerintahan DKI di bawah kepemimpinan Ahok. Dia memandang Ahok konsisten dalam mengeluarkan kebijakan.

Meski libur, pegawai tetap ikut upacara hari Kesaktian Pancasila | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tingkat Kabupaten Kutim ini dipimpin Danlanal Letkol Laut (P) Donny Suharto selaku inspektur Upacara. Di panggung kehormatan tampak hadir para pejabat eselon II, III dan IV, kemduian perwira TNI dan Polri dari Kodim 0909 Sangatta, Lanal Sangatta serta Polres Kutim. Di Halaman Kantor Bupati, tempat kegiatan upacara berlangsung, ratusan peserta upacara terlihat pegawai negeri sipil (PNS) dan Tenaga Kerja Kontrak Daerah (TK2D), personel TNI dan Polri, berbaris rapi.

Pembacaan teks Pancasila oleh inspektur upacara diawali dengan “tanda kebesaran buka dan tanda kebesaran tutup”. Kemudian pembacaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, serta ikrar Hari Kesaktian Pancasila yang ditandatangani oleh Ketua DPR RI DR H Ade Komarudin MH melengkapi peringatan hari nasional, yang diperingati setiap awal Oktober tersebut.

Suasana di halaman kantor bupati, kawasan Bukit Pelangi, Sabtu (1/10) pagi tadi tampak berbeda. Meski hari libur, ratusan pegawai lingkup Pemkab Kutim tetap semangat mengikuti upacara hari Kesaktian Pancasila. Termasuk instansi vertical seperti TNI dan Polri juga ikut menyemarakkan upacara tersebut.

Kendati lapangan masih basah karena diguyur hujar sejak Jumat sore, secara umum upacara berlangsung lancar dan hikmat. Upacara yang dimulai sekitar pukul 08.00 wita ini mengusung tema “Kerja Nyata Untuk Kemajuan Bangsa Sebagai Wujud Pengamalam Pancasila”.

Rongrongan tersebut dimungkinkan oleh karena kelengahan, kekurang waspadaan Bangsa Indonesia terhadap kegiatan yang berupaya untuk menumbangkan Pancasila sebagai ideologi Negara. Namun dengan semangat kebersamaan yang dilandasi oleh nilai-nilai luhur ideologi Pancasila, Bangsa Indonesia tetap dapat memperkokoh tegaknya NKRI.

“Maka di hadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila, kami membulatkan tekad untuk tetap mempertahankan dan mengamalkan Pancasila sebagai sumber kekuatan menggalang kebersamaan untuk memperjuangkan, menegakkan kebenaran dan keadilan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tulis Ketua DPR RI dalam ikrar yang mengatasnamakan Bangsa Indonesia tersebut.

Dalam ikrar yang salinannya dibacakan oleh Wakil Ketua DPRD Kutim Yulianus Palangiran ini berisi tentang ajakan untuk bersama membulatkan tekad mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai pancasila. Disebutkan dalam petikan ikrar dimaksud bahwa sejak diproklamasikan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 17 Agustus 1945, pada kenyataannya telah banyak terjadi rongrongan. Baik dari dalam maupun luar negeri, terhadap NKRI.

PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru


Originally published at ptrifanfinancindoberjangkablog.blogdetik.com on October 1, 2016.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.