OJK Larang Bank Danai Korporasi Perusak Lingkungan Mulai 2017

OJK akan mencoret perusahaan perusak lingkungan dari daftar penerima kredit | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Axa

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan OJK Mulya Siregar mengatakan, rencana tersebut merupakan implikasi dari komitmen pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance) yang mengedepankan keselarasan kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Kebijakan tersebut rencananya akan tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) yang akan terbit pada tahun depan.Menurut Mulya, seharusnya lembaga pembiayaan, baik bank maupun non bank, berperan dalam menegakan tiga pilar kesinambungan ekonomian, yakni people (orang), planet dan profit (laba). Mulya mengatakan selama ini lembaga pembiayaan terutama perbankan di Indonesia masih berorientasi pada keuntungan (profit) semata dan mengesampingkan dampak lingkungan dari proyek yang dikerjakan oleh suatu perusahaan.Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mencoret perusahaan-perusahaan perusak lingkungan dari daftar penerima kredit lembaga jasa keuangan.Sebelumnya, OJK telah menerbitkan peta jalan (roadmap) keuangan berkelanjutan 2015–2019 pada 5 Desember 2014 lalu.Dalam merumuskan kebijakan, menurut Mulya, OJK akan mengacu kepada kebijakan China Banking Regulatory Commission (CBRC). Kondisi pertumbuhan industri China yang pesat diimbangi dengan peningkatan kerusakan lingkungan yang parah mendorong CBRC menerbitkan Green Credit Guidelines pada tahun 2012 yang mencakup pengelolaan risiko lingkungan dan sosial, green lending dan penghijauan operasional bank.”Di China sudah memasukan sustainable financing kedalam regulasi lembaga jasa keuangannya, kami melihat ini bisa menjadi pertimbangan untuk mengikuti jejak China,” ujarnya.Dia mengatakan, selama ini kebijakan pembiayaan hanya mengandalkan kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebagai pertimbangan dalam menyalurkan kredit. Namun, hal tersebut dianggap belum cukup sehingga memerlukan kebijakan lebih lanjut yang membatasi kredit untuk perusahaan yang dianggap memberikan dampak eksternalitas negatif bagi lingkungan.”Amdal saja tidak cukup, kenyataannya banyak proyek yang masih punya dampak negatif kepada lingkungan,” ujar Mulya, Selasa (15/11).Mulya pun tidak menampik, jika nantinya kebijakan OJK tersebut akan berdampak pada kinerja bank dalam memberikan kredit di tengah situasi pertumbuhan kredit yang lesu. Begitupula untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor komoditas seperti CPO, batubara hingga perusahaan kerta pun terancam tidak akan mendapatkan pembiayaan dari bank jika dalam kegiatan usahanya menimbulkan kerusakan lingkungan.Ia mengklaim rencana tersebut telah mendapat dukungan dari delapan bank dalam negeri yakni Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA, Bank Muamalat, BNI Syariah, BJB, dan Bank Artha Graha. Mulya berharap dengan dikeluarkannya POJK Pembiayaan Berkelanjutan pola pikir perusahaan dalam melakukan bisnis kedepannya bisa sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable deveopment).Tak hanya China, OJK juga mengacu kepada beberapa negara lain yang telah menerakan konsep pembiayaan berkelanjutan seperti Mongolia, Brazil, Bangladesh, Kolombia dan Vietnam.”Respon perbankan sudah cukup baik, kami minta mereka tidak lagi meng-cover proyek-proyek yang tidak menerapkan SDG,” ujarnya.”Namun, sekarang sudah saatnya perbankan itu mengubah mindset (pola pikir) tidak hanya mengejar profit saja, berpikir lah tiga pilar itu, kalau kita tidak mau berubah tunggu saja lingkungan kita akan semakin parah,” ujarnya.

Tahun 2017, titik balik pertumbuhan kredit | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Axa

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi, kredit perbankan 2017 bisa tumbuh hingga dua digit, berkisar 9%-11%. Angka itu lebih tinggi ketimbang prediksi tahun ini yang cuma 6%-7%.Bila prediksi OJK tersebut terbukti, tahun depan akan menjadi titik balik pertumbuhan kredit perbankan Indonesia. Sebab, sejak tahun 2012 silam, tren penyaluran kredit terus menurun.Lesu di tahun 2016 ini, penyaluran kredit perbankan diprediksi bakal mulai menggeliat di tahun depan. Membaiknya ekonomi menjadi pelumas kucuran kredit industri perbankan.Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan, sejumlah faktor bakal menopang penyaluran kredit perbanakn di tahun depan. “Salah satunya mulai membaiknya harga komoditas,” kata dia, Senin (14/11).Pertama, efek 14 paket kebijakan pemerintah mulai terasa tahun depan. Kedua, masuknya dana amnesti pajak yang besar ke sistem perbankan. Dana repatriasi Rp 100 triliun yang dijanjikan masuk akhir 2016 akan jadi likuiditas bank memacu kredit di 2017.Berdasarkan data OJK hingga Agustus 2016, kredit perbankan hanya tumbuh 6,83% menjadi Rp 4.146,29 triliun. Selain harga komoditas yang mulai bangkit seperti harga barang tambang dan harga minyak sawit, proyeksi pertumbuhan kredit OJK di tahun depan tersebut juga didasari sejumlah faktor lain.Kendati OJK optimistis, sejumlah bank masih berhati-hati dalam memasang target kreditnya.Ketiga, proyeksi membaiknya pertumbuhan ekonomi China di 2017. Ini diyakini bisa meningkatkan permintaan barang ekspor, khususnya komoditas asal Indonesia.Pahala Nugraha Mansury, Direktur Keuangan dan Tresuri Bank Mandiri bilang, Mandiri mengincar pertumbuhan kredit 12% di 2017 dengan asumsi dana pihak ketiga tumbuh 8%–10%. Target itu sama dengan proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini yakni 12%.Proyeksi Pahala, korporasi diprediksi tumbuh lebih dari 12%, kredit mikro di atas 20% dan kredit konsumer bakal tumbuh 20% ditopang pelonggaran aturan loan to value atau LTV.“Kami masih akan mengandalkan kredit korporasi dan konsumer,” kata Pahala.Adapun kredit menengah, kata Pahala, diprediksi masih melambat karena perusahaan sedang memperbaiki kredit bermasalah.”Segmen kredit mikro tetap akan menjadi pendorong kredit, karena ini core competency BRI,” kata Hari.Sebagai gambaran, sampai kuartal III tahun 2016 ini , pertumbuhan kredit penguasa pasar kredit perumahan tersebut mencapai 16,27%.Hari Siaga, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menyebut BRI menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 12% pada tahun depan. Target ini lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan kredit BRI tahun ini yang sebesar 13%-15%.Lain halnya dengan Bank Tabungan Negara (BTN). Direktur Keuangan BTN Iman Nugroho Soeko bilang, BTN memasang target pertumbuhan kredit hingga 20% tahun depan. Sebab, BTN fokus di pembiayaan perumahan.

OJK Terbitkan Aturan Soal Keuangan Berkelanjutan Tahun Depan | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Axa

“P-OJK mengenai keuangan berkelanjutan ini kami akan punya tahun 2017. Sekarang masih kajian mudah-mudahan pertengahan 2017 akan selesai,” ujar Deputi Komisioner Pengawas Perbankan OJK Mulya E Siregar di Jakarta, Selasa (15/11/2016).”Balance antara keuntungan, dampak sosial, dan dampak lingkungan. Regulasi intinya di situ,” sambungnya.Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menerbitkan Peraturan OJK (P-OJK) mengenai keuangan berkelanjutan pada pertengahan tahun depan. Setelah sebelumnya telah menerbitkan Roadmap Keuangan Berkelanjutan 2015–2019 pada 5 Desember 2014, P-OJK akan mengatur seputar regulasi pembiayaan berkelanjutan untuk sektor perbankan, non bank dan pasar modal.Lebih lanjut dia berharap perusahaan jasa keuangan tidak hanya mengejar profit, tapi harus memperhatikan mengenai analisis dampak lingkungan dan efek ke masyarakat dalam pembiayaan yang dilakukan. Dalam penerapannya, OJK akan bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyelenggarakan Training Analisis Lingkungan (TAL) pada tahun 2016.Dia menambahkan tujuan dari kerja sama dengan Kementerian ESDM itu juga untuk meningkatkan portofolio industri jasa keuangan pada sektor ekonomi ramah lingkungan. Khususnya sektor energi baru terbarukan dan konservasi energi.Adapun beberapa peraturan yang mendukung keuangan berkelanjutan meliputi UU Perseroan Terbatas No 4 Tahun 2007, UU Perseroan Terbatas No 40 Tahun 2007, UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup No-32 Tahun 2009, dan PBI tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum №14/15/PBI Tahun 2012.

“Pembiayaan atau kredit yang disalurkan bank pertimbangan ketiga hal tersebut (keuntungan, dampak sosial, dan dampak lingkungan). Ada di P-OJK nanti diatur untuk lembaga keuangan nonbank, perbankan dan pasar modal,” pungkasnya.

Tags: pt rifan financindo berjangka cabang axa


Originally published at mimijemari.livejournal.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.