Pabrik Serat Optik Terbesar ASEAN Hadir di Karawang

YOFI mendirikan pabrik serat optik Kawasan industri Karawang | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Presiden Direktur PT YOFI, Chen Huixiong, menyatakan pabrik tersebut siap menyediakan kebutuhan serat optik nasional. Saat ini kapasitas produksi pabrik sebesar 3 juta kilometer serat optik dan akan terus ditingkatkan di masa mendatang. “Pabrik ini menjadi produsen serat optik yang pertama di Indonesia bahkan ASEAN, kami siap pasarkan hingga ASEAN,” ujar Chen di sela-sela acara pembukaan pabrik PT YOFI di Karawang, Kamis, 8 September 2016.

Dengan komitmen menggenjot kapasitas produksinya tiap tahun, YOFI menargetkan bisa menjadi perusahaan pabrik serat optik terbesar di kawasan ASEAN. Tahun depan, perusahaan menargetkan kenaikan produksi menjadi 6 juta kilometer serat optik. “Setelah produksi mencapai 12 juta kilometer, kami baru akan pasarkan ke 10 negara ASEAN,” ujar Santoso, Presiden Direktur PT MPP.

Rencana Pita Lebar Indonesia adalah program pemerintah untuk menghubungkan seluruh wilayah dengan jaringan internet. Program itu digadang-gadang dapat mengikis kesenjangan antar wilayah. Menurut Warif, dalam Peraturan Presiden Nomor 96 tahun 2014, pemerintah menargetkan seluruh wilayah di Indonesia dapat terhubung internet pada tahun 2020. “Kami (Telkom) punya tanggung jawab mengkoneksi broadband,” tuturnya.

Tan Shufu, Konsul Ekonomi dan Perdagangan dari Perwakilan Cina untuk ASEAN mengatakan program Pita Lebar Indonesia itu mampu meningkatkan pertumbuhan dan permintaan pasar serat optik. “Hadirnya pabrik ini bisa penuhi kebutuhan pasar.”

Santoso juga berharap pemerintah segera mewajibkan standar nasional Indonesia (SNI) untuk serat optik. “Supaya menghindari impor kabel,” tuturnya. “Meningkatnya infrastruktur telekomunikasi di Indonesia perlu disokong berbagai produk dalam negeri,” katanya.

CEO Telkom Akses, M. Warif Maulidy mengatakan, beroperasinya YOFI bisa mendukung program pembangunan akses internet berkecapatan tinggi dengan nama rencana pita lebar Indonesia. “Jumlah hot spot di Indonesia ada 70 juta. Karena pada 2020 seluruh wilayah harus terhubung broadband, kita membutuhkan 70 juta kilo meter serat optik,” ujar Warif.

PT Yangtze Optical Fibre Indonesia (YOFI) yang merupakan perusahaan gabungan antara perusahaan asal Cina dan perusahaan asal Indonesia mendirikan pabrik serat optik Kawasan industri Suryacipta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Yangtze Optical Fibre and Cable (YOFC) dan PT Monas Permata Persada (MPP) menginvestasikan tak kurang dari US$ 30 juta atau sekitar Rp 393 miliar untuk membangun pabrik tersebut dengan komposisi kepemilikan saham masing-masing 70 persen dan 30 persen.

Indonesia Punya Pabrik FO Terbesar di Asia Tenggara | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

YOFI merupakan perusahaan gabungan antara PT Monas Permata Persada dan Yangtze Optical Fibre and Cable (YOFC) asal Tiongkok. YOFC sendiri mempunyai pengalaman lebih dari 28 tahun dalam penyediaan serat optik.

Setelah dilakukan ground breaking pada 2015 lalu, Yangtze Optical Fiber Indonesia (YOFI) akhirnya resmi beroperasi (8/9/2016). Dengan kapasitas produksi 3 juta serat optik per tahun, menjadikan YOFI sebagai pabrik manufaktur serat optik terbesar di kawasan ASEAN.

Total investasi yang dikeluarkan oleh kedua perusahaan dalam membangun pabrik FO yang berlokasi di Karawang dan memiliki 120 lebih karyawan ini mencapai USD30 Juta.

Target 12 juta kilometer serat optik yang akan diproduksinya dikatakan Santoso selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri juga ditujukan untuk disupply ke 10 negara tetangga yang berada di kawasan ASEAN.

Saat ini kapasitas produksi 3juta kilometer serat optik tersebut sudah terserap seluruhnya berkat kerjasama yang dilakukan dengan dua perusahaan yakni PT Jembo dan PT Voksel Electric.

Santoso, Presiden Direktur PT Monas menyampaikan bahwa YOFI akan sanggup memenuhi 50 persen kebutuhan serat optik dalam negeri yang berstandar SNI.

“Saat ini kapaaitas produksi kami 3 juta kilometer. Untuk tahap berikutnya tahun 2017 akan kami tingkatkan menjadi 6 juta kilometer dan hingga akhirnya mencapai 12 juta kilometer,” jelas Santoso.

Lebih lanjut disampaikan Santoso, pihaknya sedang melakukan negosiasi pembelian lahan tambahan di sekitar pabrim yang ada untuk memenuhi target kapasitas 12 juta kilometer tersebut.

Pabrik YOFI Dongkrak Konten Lokal Kabel Serat Optik | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Pekanbaru

Presiden Komisaris YOFC Jan Bongaerts mengatakan YOFC memilih Indonesia sebagai basis produksi karena industri kabel di Tanah Air jauh lebih berkembang dibandingkan industri di negara lain di Asean.

“Buat saya dengan penduduk sebanyak Indonesia permintaan 8–9 juta kilometer tidak cukup. Pasti berlipatganda dengan mudah. Kami merancang pabrik ini untuk memenuhi seluruh kebutuhan serat optik di Indonesia sambil mengincar pasar di Asia Tenggara,” kata Bongaerts.

Pabrik serat optik PT Yangtze Optical Fiber Indonesia mendongkrak konten lokal industri kabel serat optik Indonesia hingga 50%.

Dia memperkirakan permintaan serat optik di Indonesia mencapai 8–9 juta kilometer per tahun dan berpotensi berlipat ganda dalam jangka waktu pendek mengikuti perkembangan pembangunan koneksi jaringan pita lebar di Tanah Air.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika, Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan menjelaskan kehadiran YOFI membuat tingkat komponen dalam negeri industri kabel serat optik bisa mencapai 50%.

Pabrik milik PT Yangtze Optical Fibre Indonesia (YOFI) di Karawang adalah pusat produksi serat optik pertama di Asean. YOFI adalah perusahaan patungan PT Yangtze Optical Fibre and Cable atau YOFC (70%) asal China dan PT Monas Permata Persada (30%) asal Indonesia.

Peningkatan TKDN tersebut membuat industri kabel di Indonesia bisa mengikuti program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN). Program tersebut menyatakan instansi pemerintah dan BUMN wajib menggunakan produk dengan TKDN lebih dari 40%.

“Ini adalah pabrik serat optik yang pertama dan perlu diapresiasi. Kita nanti akan lengkapi dengan SNI wajib supaya produk-produk impor harus memenuhi standar di sini,” kata Putu pada Kamis (8/9/2016).


Originally published at mimijemari.livejournal.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.