Prancis Batalkan Pajak Progresif, Ekspor CPO Indonesia Bakal Meningkat

Pemerintah Prancis akan menyusun kebijakan fiskal yang lebih sederhana dan harmonis | PT Rifan Financindo Berjangka

Atas berita tersebut, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto hakul yakin kinerja ekspor CPO dalam negeri akan meningkat. Pemerintah menindaklanjuti keputusan dari Prancis, dengan sosialisasi dan diseminasi, khususnya tentang capaian positif produk sawit Indonesia.Airlangga menuturkan, sosialisasi ini perlu dilakukan secara komprehensif dan koordinatif dengan seluruh stakeholders. Juga strategi kampanye yang spesifik dan menyasar target yang tepat.Kabar baik untuk industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia datang dari Prancis. Parlemen negaranya Napoleon Bonaparte itu membatalkan pemberlakuan pajak progresif bagi CPO Indonesia.Airlangga menceritakan akan mensosialisasi produk sawit Indonesia melalui Dubes Indonesia untuk Prancis, Hotmangaradja Pandjaitan. “Beliau sangat peduli dengan persoalan sawit kita, agar ikut menyosialisasikan tentang sustainability palm oil yang saat ini sudah diterapkan Indonesia,” ujarnya usai bertemu dengan putera Pahlawan Revolusi D.I. Pandjaitan di Jakarta, Kamis (10/11/2016).Sebelumnya, pajak progresif dikenakan sebesar 300 euro per ton pada 2017, 500 euro per ton tahun 2018, 700 euro per ton tahun 2019 dan 900 euro per ton tahun 2020. Namun melalui negosiasi, pengenaan pajak progresif menjadi 30 euro per ton pada 2017, 50 euro per ton tahun 2018, 70 euro per ton tahun 2019 dan 90 euro per ton tahun 2020. Akhirnya pajak progresif ini dihapuskan.Perlu diketahui, parlemen Perancis (Assemble Nationale) akhirnya memperkuat keputusan Senat untuk menghapus pajak progresif yang rencananya dikenakan pada minyak sawit dalam draft RUU Biodiversity Prancis. Keputusan penghapusan ini ditetapkan pada 20 Juli 2016, setelah melalui beberapa kali pembahasan intensif dan pemungutan suara di Senat dan Parlemen.Setelah enam bulan penerapan Undang-undang Biodiversity pada 1 Januari 2017, pemerintah Prancis akan menyusun kebijakan fiskal yang lebih sederhana dan harmonis. “Kebijakan ini dibuat bersifat nondiskriminatif dengan mencakup seluruh jenis minyak nabati yang beredar di Prancis dan mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan,” imbuh dia.Di sisi lain, Indonesia dan Malaysia sebagai produsen CPO terbesar di dunia telah menginisiasi kerja sama di bidang ekonomi melalui pembentukan lembaga persatuan negara penghasil minyak kelapa sawit atau Council Palm Oil Producing Countries (CPOPC).Apalagi, lanjut Airlangga, pemerintah Indonesia tengah giat-giatnya mendorong perluasan ekspor produk industri agro ke negara-negara Uni Eropa. Untuk CPO dan turunannya, volume ekspor Indonesia ke dunia sekitar 21–22 juta ton, ke Uni Eropa sekitar 3,4–4 juta ton, sedangkan ke Prancis sekitar 50 ribu-150 ribu ton per tahun. Sementara itu, produksi CPO dan turunannya di Indonesia mencapai 32,5 juta ton pada 2015 atau naik 3% dibandingkan total produksi tahun 2014 sebesar 31,5 juta ton.Airlangga menambahkan, Prancis merupakan negara yang sangat memperhatikan aspek ramah lingkungan pada produksi minyak sawit, termasuk untuk tidak memberikan kontribusi terhadap deforestasi dan perubahan iklim. “Untuk itu, kami melakukan sinkronisasi agar ekspor CPO kita dapat meningkat dan berjalan lancar ke Prancis,” tuturnya.

Ekspor CPO Anjklok karena Stok Menipis | PT Rifan Financindo Berjangka

Dalam beberapa bulan terakhir, stok minyak sawit mentah atawa crude palm oil (CPO) terus turun.Sayangnya, ekspor CPO juga ikut turun. Di September, harga CPO tercatat bergerak di kisaran US$ 740 per metrik ton hingga US$ 795 per metrik ton.Hal itu disebabkan rendahnya produksi CPO sebagai dampak El Nino tahun 2015. Penurunan produksi ini menyebabkan harga CPO global ikut merangkak naik.Harga CPO yang tinggi pada September membuat permintaan CPO global ikut turun.Sementara pada bulan Oktober, harganya sedikit terkoreksi di kisaran US$ 690–US$ 755 per metrik ton.Bila pada bulan Agustus ekspor mencapai 2,23 juta ton, pada bulan September, ekspor anjlok menjadi 1,89 juta ton.Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat ekspor CPO dan turunnya termasuk biodiesel dan oleochemical pada September menurun sebesar 15,5% dibandingkan ekspor pada Agustus 2016.”Ekspor minyak sawit Indonesia tergelincir karena lemahnya permintaan pasar global terutama negara-negara Uni Eropa, Amerika Serikat, dan China,” ujar Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan, Kamis (10/11/2016).Traders memilih menunggu produksi kelapa sawit membaik sampai stok kembali bertambah, sehingga bisa mendorong penurunan harga.Fadhil menjelaskan, stok minyak sawit yang menipis menjadi pemicu kenaikan harga CPO di pasar global. Stok minyak sawit Indonesia pada September tercatat sebesar 2,17 juta ton.Bila sebelumnya permintaan CPO dari Uni Eropa mencapai 486.050 ton, pada bulan September, jumlahnya merosot menjadi 216.590 ton.Gapki mencatat penurunan ekspor CPO paling besar terjadi di negara-negara Uni Eropa yang mencatat penurunan sebesar 55%.Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Asmar Arsyad mengatakan, petani tetap menikmati tren kenaikan harga CPO di pasar global ini, kendati kinerja ekspor Indonesia cenderung turun.Penurunan ini disusul China yang turun 11% dari 267.980 ton menjadi 239.420 ton, kemudian ke India juga turun 7% dan ekspor ke negara-negara Timur Tengah turun 11,45%.”Di tingkat petani tidak ada masalah meskipun ekspor turun. Sebab, harga TBS justru naik,” ujarnya.Padahal, pada bulan Agustus dan September lalu, harga TBS masih di kisaran Rp 1.400 per kg.Saat ini, harga Tandan Buah Segar (TBS) di pabrik sebesar Rp 1.840 per kilogram (kg) dan di tingkat petani sekitar Rp 1.500−Rp 1.600 per kg.

Pajak Progresif Dibatalkan, Ekspor Industri CPO Nasional Bakal Naik | PT Rifan Financindo Berjangka

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan, usai Parlemen Prancis membatalkan pajak progresif untuk komoditas tersebut, Pemerintah Indonesia langsung menindaklanjutinya dengan sosialisasi dan diseminasi agar produk sawit Indonesia meningkat.Seperti diketahui, Parlemen Prancis akhirnya memperkuat keputusan Senat untuk menghapus pajak progresif yang rencananya dikenakan pada minyak sawit dalam draf RUU Biodiversity Perancis. Keputusan penghapusan ini ditetapkan pada 20 Juli 2016 setelah melalui beberapa kali pembahasan intensif dan pemungutan suara di Senat dan Parlemen.Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meyakini kinerja ekspor industri minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional akan meningkat setelah parlemen Prancis membatalkan pemberlakuan pajak progresif untuk CPO Indonesia.”Sosialisasi ini perlu dilakukan secara komprehensif dan koordinatif dengan seluruh stakeholders dengan strategi kampanye yang spesifik dan menyasar target yang tepat,” ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (10/11/2016).Setelah enam bulan penerapan Undang Undang Biodiversity pada 1 Januari 2017, Pemerintah Perancis akan menyusun kebijakan fiskal yang lebih sederhana dan harmonis. Kebijakan ini dibuat bersifat nondiskriminatif dengan mencakup seluruh jenis minyak nabati yang beredar di Perancis dan mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan.Sebelumnya, pajak progresif dikenakan sebesar 300 euro per ton pada 2017, 500 euro per ton untuk 2018, 700 euro per ton di 2019, dan 900 euro per ton pada 2020. Namun melalui negosiasi, pengenaan pajak progresif akhirnya hanya menjadi 30 euro per ton pada 2017, 50 euro per ton di 2018, 70 euro per ton pada 2019, dan 90 euro per ton pada 2020. Artinya, pajak progresif ini dihapuskan.Apalagi, lanjut Airlangga, pemerintah Indonesia tengah giat mendorong perluasan pasar ekspor produk industri agro ke negara-negara Uni Eropa. Untuk CPO dan turunannya, volume ekspor Indonesia ke dunia sekitar 21–22 juta ton, ke Uni Eropa sekitar 3,4–4 juta ton, sedangkan ke Perancis sekitar 50 ribu-150 ribu ton per tahun.Airlangga menyampaikan, Prancis merupakan negara yang sangat memperhatikan aspek ramah lingkungan pada produksi minyak sawit, termasuk untuk tidak memberikan kontribusi terhadap deforestasi dan perubahan iklim.Sementara itu, produksi CPO dan turunannya di Indonesia mencapai 32,5 juta ton pada 2015 atau naik tiga persen dibandingkan total produksi 2014 sebesar 31,5 juta ton.”Untuk itu, kami melakukan sinkronisasi agar ekspor CPO kita dapat meningkat dan berjalan lancar ke Prancis,” tuturnya.Di sisi lain, Indonesia dan Malaysia sebagai produsen CPO terbesar di dunia telah menginisiasi kerja sama di bidang ekonomi melalui pembentukan lembaga persatuan negara penghasil minyak kelapa sawit atau Council Palm Oil Producing Countries (CPOPC).”Jadi, nanti kami membuat standar yang sama untuk seluruh produsen sawit baik standar di kebun maupun di industri pengolahannya. Kemudian juga terkait dengan pembinaan petani sawit, manajemen stok, dan pembangunan palm oil green economic zone (POGEZ),” tegas Panggah.

Dirjen Industri Agro Kemenperin, Panggah Susanto mengatakan, lembaga ini akan fokus membuat standardisasi operasional industri sawit mulai dari hulu sampai hilir.

Tags: pt rifan financindo berjangka


Originally published at mimijemari.livejournal.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.