Rini Targetkan Produksi Gula BUMN Naik 2 Kali Lipat

BUMN Gula Diminta Membantu Menyediakan Bibit Unggul | PT Rifan Financindo Berjangka

Hadir dalam acara tersebut antara lain para pejabat tinggi tiga bank BUMN yang mendukung Kartu Tani, antara lain Dirut PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Asmawi Syam, Direktur Mikro BRI Mohammad Irfan, dan Dirut PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Achmad Baiquni. Hadir pula Dirut PTPN X Subiyono.

Asmawi Syam yang juga ketua umum Himbara mengatakan, industri gula di Indonesia sangat prospektif, bukan sunset industry. Hal ini bisa dilihat dari jumlah permintaan yang jauh lebih besar dari produksi nasional, sehingga Indonesia harus mengimpor banyak gula. Itulah sebabnya bank-bank BUMN siap mendanai kredit investasi yang dibutuhkan untuk revitalisasi pabrik gula maupun hilirisasi.

Mohammad Irfan menambahkan, kesejahteraan petani tebu secara umum lebih baik ketimbang petani pangan yang lain, seperti petani jagung atau kedelai. “Pada umumnya, yang ada offtaker (pembeli siaga) seperti komoditas tebu yang dibeli pabrik gula, petaninya lebih sejahtera. Hal yang sama pada sawit yang petaninya juga lebih sejahtera, karena hasil panen dijamin dibeli pabrik minyak sawit. Petani beras juga cukup sejahtera jika tidak gagal panen karena hama, demikian pula petani bawang jika harganya tidak jatuh,” ujar dia.

Dengan didukung sistem aplikasi Kartu Tani dan kucuran kredit tiga bank BUMN, Menteri BUMN Rini Soemarno menargetkan produksi gula BUMN naik menjadi dua kali lipat. BUMN gula diminta membantu menyediakan bibit unggul agar produksi tebu petani mitra naik dari saat ini 70 ton per hektare (ha) menjadi 120–170 ton per hektare dan merevitalisasi pabrik agar kapasitas produksi bisa menjadi dua kali lipat. Sementara itu, bank BUMN menargetkan memperoleh nasabah Kartu Tani sebanyak 23 juta atau 90% dari total jumlah petani Indonesia, termasuk petani tebu.

Rini melanjutkan, selain meningkatkan kapasitas dan produktivitas lewat revitalisasi pabrik gula, BUMN gula juga harus meningkatkan investasi untuk hilirisasi, misalnya untuk memproduksi etanol dan listrik. Langkah tersebut juga akan memangkas ongkos produksi gula BUMN sehingga gula dapat dijual dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat, namun tetap bisa meningkatkan kesejahteraan petani mitra, karyawan, maupun keuntungan perusahaan negara.

“Misalnya untuk PTPN XI, mereka menambah investasi untuk meningkatkan kapasitas 5 pabrik gulanya menjadi dua kali lipat, dari 3.000 TCD ke 6.000 TCD. Ditambah dengan investasi untuk hilirisasi, PTPN XI butuh dana Rp 4,1 triliun. Kita harus meningkatkan produksi gula, apalagi setelah Indonesia merdeka 71 tahun justru impor gula, padahal jaman penjajahan Belanda kita merupakan pengekspor gula. Produksi gula kita dulu termasuk terbesar di dunia,” kata Rini saat memimpin soft launching Kartu Tani di Pabrik Gula Tjoekir milik PTPN X, Jombang, Selasa (30/8) siang.

Lebih Dari Kartu Debit

Kartu Tani ini merupakan sistem aplikasi terintegrasi yang pertama dalam sejarah Indonesia, yang melayani mulai dari transaksi keuangan dan pembiayaan petani, hingga menyediakan data-data sektor pertanian mulai dari penanaman, pemeliharaan, jumlah kebutuhan pupuk, sampai penanganan pascapanen. Sejumlah fasilitas lain juga akan diberikan kepada nasabah petani, seperti kemudahan sertifikasi tanah dan bisa langsung menjual hasil panen ke Bulog sebagai offtaker.

Baiquni mengatakan, data yang terintegrasi dari profil petani dan transaksinya di Kartu Tani bisa pula membantu bank untuk menawarkan produk keuangan lain kepada petani. Jadi, selain bisa digunakan untuk kartu debit petani, kartu ini juga bisa menjadi dasar bagi perbankan untuk menawarkan produk kredit perumahan rakyat (KPR) hingga asuransi ke puluhan juta petani.

Rini menjelaskan lebih lanjut, Kartu Tani menyasar para petani Indonesia di semua subsektor pertanian, untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional yang menjadi visi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Target utamanya adalah peningkatan produksi komoditas strategis beras, gula, dan jagung, yang diharapkan nantinya dapat mencapai swasembada.

“Di sektor industri gula, sistem Kartu Tani menjadikan industri gula terintegrasi satu sama lain. Para pelakunya langsung terhubung, baik itu petani, pabrik gula, produksen pupuk, hingga perbankan,” kata mantan presdir PT Astra Internasional ini.

Kartu Tani yang antara lain bertujuan mewujudkan basis data tunggal terintegrasi sektor pertanian ini, selain didukung tiga bank — BRI, BNI, dan Bank Mandiri — juga didukung Perum Bulog, PT Telkom Indonesia Tbk, PTPN X dan III, serta PT Pupuk Indonesia. Selama ini, data pertanian Indonesia bermasalah, karena tidak ada data yang akurat mengenai jumlah petani, lahan pertanian, produksi pertanian, hingga kebutuhan pangan nasional. Akibatnya, berbagai kebijakan dan distribusi subsidi di sektor pertanian tidak optimal, karena tidak didukung data yang akurat. Indonesia yang merupakan negara agraris hingga kini masih harus mengimpor berbagai kebutuhan pangan, seperti beras, gula, daging, jagung, kedelai, hingga susu.

Kartu khusus untuk petani ini akan menjadi sumber penyusunan basis data pertanian nasional, yang bisa menunjukkan profil petani secara lengkap, mulai dari luas dan lokasi lahan, jadwal panen, penjatahan pupuk, hingga akses pembiayaan perbankan.

Untuk petani tebu yang menjadi sasaran tahap pertama program Kartu Tani, datanya akan dilengkapi dengan rincian transaksi dengan pabrik gula, termasuk besar rendemen (kadar gula dalam tebu) dan jumlah produksi gula. Dengan sekali klik, semua aktivitas petani akan terekam, sehingga semuanya menjadi transparan.

Para petani yang telah memegang Kartu Tani juga mendapat kemudahan penjualan hasil panen ke Bulog (offtaker) tanpa perantara, serta kemudahan penerimaan pembayaran hasil panen dari offtaker. Petani juga mendapat edukasi tentang pentingnya melek keuangan. Karena terintegrasi dengan perbankan, program Kartu Tani ini diharapkan menumbuhkan budaya menabung di kalangan petani. Mereka diharapkan tidak konsumtif setelah menerima pembayaran hasil penjualan komoditas.

Bahkan, para petani juga diedukasi tentang pentingnya asuransi, termasuk untuk menjamin pendidikan buah hatinya. Hal ini sekaligus bisa mendorong terwujudnya inklusivitas sektor keuangan karena memperbesar aksesibilitas publik terhadap produk keuangan.

Bagi pemerintah, Kartu Tani akan menjadi data base petani dan produksi pertanian nasional yang akurat dan terintegrasi. Pemerintah bisa mengetahui secara detail data pertanian untuk menetapkan kebijakan yang tepat, termasuk luas lahan pertanian hingga per petak yang dikuasai petani, waktu panen, kinerja petani, dan berbagai hal teknis lainnya.

Dengan kartu tersebut, para petani juga bakal mendapat banyak kemudahan dari pemerintah. Ini di antaranya, memperoleh kepastian ketersediaan sarana produksi pertanian (saprotan) bersubsidi/nonsubsidi, termasuk distribusi pupuk, kemudahan akses pembiayaan bank BUMN melalui skema kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga terjangkau, serta difasilitasi kemudahan sertifikasi tanah melalui skema Prona dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). Selain itu, petani bisa mendapat kemudahan subsidi dari program-program yang dijalankan Kementerian Keuangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Koperasi dan UKM, serta Kementerian Sosial.

Kartu Tani Sasar 23 Juta Petani | PT Rifan Financindo Berjangka

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama BRI tersebut menjelaskan, Kartu Tani adalah kartu identitas bagi petani yang sekaligus berfungsi sebagai kartu debit (ATM) yang diterbitkan oleh bank-bank HIMBARA dan berisi database petani. Data tersebut bersumber dari pemerintah daerah setempat maupun BUMN off taker yang terdiri dari data petani by name by address, data lahan, data komoditas, dan data hasil panen.

Kumpulan data tersebut merupakan data tunggal yang dapat diakses oleh seluruh stakeholder melalui sebuah Sistem yang bernama Sistem Informasi Pertanian Indonesia atau bisa kita sebut SINPI. Dengan mengakses database petani melalui SINPI, para stakeholder dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi petani.

”Selain itu, pemerintah juga dapat menyeleksi dan menetapkan petani mana yang berhak menerima subsidi sehingga tepat sasaran serta dapat dimonitor pelaksanaannya,” jelasnya. Pada tahap pertama, Kartu Tani akan diberikan terlebih dahulu kepada petani tebu.

Karena data petani tebu dibandingkan komoditi pertanian lainnya lebih lengkap. Terdiri dari data pribadi petani, data lahan, data komoditi, data hasil panen, dan data off-taker.
Seluruh data tersebut bersumber dari pabrik gla mitra petani yang bersangkutan. Sejumlah fasilitas lain juga akan diberikan kepada nasabah petani, seperti kemudahan sertifikasi tanah dan bisa langsung menjual hasil panen ke Bulog sebagai off-taker.

Menteri BUMN Rini Soemarno menghadiri soft launching Kartu Tani di Jombang, Selasa (30/8) siang, yang menyasar 23 juta petani atau 90 persen dari total petani Indonesia menjadi nasabah bank BUMN.

Kartu Tani ini merupakan kartu pertama dalam sejarah Indonesia yang melayani transaksi keuangan dan pembiayaan petani, sekaligus akan mengintegrasikan data sektor pertanian mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga pasca-panen.

Ketua Umum Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) Asmawi Syam mengatakan, sinergi bank BUMN membuat program Kartu Tani dapat memberikan kemudahan pembiayaan bagi petani.

Kartu Tani yang antara lain bertujuan mewujudkan basis data terintegrasi sektor pertanian ini didukung tiga bank BUMN, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Selama ini, data pertanian Indonesia bermasalah, karena tidak ada data yang akurat mengenai jumlah petani, lahan pertanian, produksi pertanian, hingga kebutuhan pangan nasional.

Akibatnya, berbagai kebijakan di sektor pertanian tidak optimal, karena tidak didukung data yang akurat. Indonesia yang merupakan negara agraris masih harus mengimpor berbagai kebutuhan pangan, seperti beras, gula, daging, kedelai, hingga susu.

Kartu khusus untuk petani ini akan menjadi sumber penyusunan basis data pertanian nasional, yang bisa menunjukkan profil petani secara lengkap, mulai dari luas dan lokasi lahan, jadwal panen, penjatahan pupuk, hingga akses pembiayaan perbankan.

Program Kartu Tani ini dilatarbelakangi keinginan Presiden Joko Widodo memiliki data tunggal pertanian nasional untuk memajukan sektor pertanian dalam rangka mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional.

“Seperti yang kita tahu saat ini data pertanian masih tumpang tindih dan belum bersifat by name by address, sehingga tidak dapat dipungkiri kadangkala ditemukan beberapa permasalahan seperti kesalahan proyeksi ketersediaan stock pangan nasional, ketidak tepat sasaran penyaluran subsidi, dan sebagainya,” ujar Asmawi, dalam rilis, Selasa (30/8).

Menteri BUMN : “Dua tahun mendatang produksi gula harus capai 170 Ton/Ha” | PT Rifan Financindo Berjangka

Kartu Tani adalah basis data yang menunjukkan profil petani secara lengkap, mulai dari luas dan lokasi lahan, jadwal panen, penjatahan pupuk, hingga akses pembiayaan perbankan. Untuk petani tebu, datanya dilengkapi dengan rincian transaksi pabrik gula, termasuk jumlah rendemen (kadar gula dalam tebu) dan jumlah produksi gula. Dengan sekali klik, semua aktivitas petani terekam, sehingga semuanya transparan.

Menteri BUMN Rini Soemarno menjadi saksi soft launching Kartu Tani di Pabrik Gula (PG) Tjoekir, Kabupaten Jombang didampingi oleh para direksi PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) Selasa (30/80/2016) siang. Kartu Tani ini merupakan yang pertama dalam sejarah Indonesia yang mampu mengintegrasikan data sektor pertanian, mulai dari tanam, pemeliharaan, pasca-panen, hingga pembiayaannya.

Saat itu, Menteri BUMN, Rini Soemarno secara simbolis menyerahkan Kartu Tani kepada 904 petani di lingkungan pabrik gula milik PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) tersebut yang merupakan tahap awal. Hingga kini, masih juga disiapkan untuk para petani daerah lain, kartu tersebut tak hanya digunakan untuk komoditas tebu saja, namun bisa juga untuk komoditas pangan lain.

”Soft Launching kartu ini mengkondisikan industri gula saling terintegrasi dengan perusahaan lain. Pelakunya langsung bersinergi, mulai dari petani, pabrik gula, produsen pupuk, hingga perbankan. ini merupakan terobosan baru di sektor pertanian Indonesia menuju modernisasi, dan lebih menitikberatkan pada kemampuan untuk memfasilitasi petani agar memperoleh kemudahan untuk menjual hasil panennya,” ungkap Rini kepada para awak media saat gelaran Press Conference .

Rini menambahkan, para petani akan memperoleh banyak kemudahan saat menggunakan kartu tersebut. Di antaranya memperoleh kepastian ketersediaan sarana produksi pertanian (saprotan) bersubsidi/non-subsidi, termasuk distribusi pupuk; kemudahan akses pembiayaan bank BUMN melalui skema kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga terjangkau, dan memperoleh kemudahan sertifikasi tanah melalui skema Prona dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). Tak hanya itu, para petani juga bisa menikmati kemudahan subsidi dari program-program yang dijalankan pemerintah.

”Para pemegang Kartu Tani mendapatkan kemudahan karena datanya sudah terekam dengan lengkap. Misalnya, saprotan bersubsidi hanya untuk petani yang berhak, yang sudah terekam datanya di kartu ini. Ini semua bertujuan untuk meningkatkan produktifitas baik petani maupun hasil panen. Seperti halnya gula, Kita merdeka sudah menginjak ke 71 tahun, kenapa masih melakukan impor gula? Padahal negeri kita ini masih bisa menghasilkan gula lebih maksimal dari negara lain,” tegas Rini.

Sementara itu, Direktur Utama PTPN X, Subiyono menyampaikan, Kartu Tani merupakan hasil sinergi antara PTPN dan para perbankan BUMN. Sistemnya bekerja untuk mengintegerasikan antara perusahaan. Bahkan kini di seluruh lingkungan pabrik gula milik PTPN X sudah melakukan pendataan terhadap 8.748 petani dengan sebaran 75.853 petak seluas 58.704 hektare.

“Data tersebut bakal divalidasi secara bertahap melalui foto udara, sehingga presisi petak per petak lahannya. Setelah itu baru diberikan Kartu Tani. Para petani juga diedukasi terkait pentingnya asuransi, termasuk penjamin kebutuhan pendidikan anak-anak. Kartu Tani ini juga sekaligus mendorong terwujudnya inklusivitas sektor keuangan sebab memperbesar aksesibilitas publik terhadap produk keuangan,”

Rini melanjutkan, seperti program yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi agar Indonesia mampu swasembada pangan seperti padi, gula dan jagung. Untuk itu, sangat diperlukan hubungan harmonis antara petani, pabrik gula dan perbankan agar semua tujuan tersebut tercapai dengan maksimal.

“Saya berharap ketersediaan pupuk di Indonesia hrus selalu tepat waktu berikut dengan harga terjangkau. Se tidaknya produksi gula yang di Indonesia yang sebelumnya mampu di angka 3.500 Ton Crane per Day (TCD), nantinya mampu mencapai 4.200 TCD. Atau paling tidak dua tahun mendatangkita bisa mencapai angka 170 Ton/ha. Dan untuk meningkatkan produksi gula tersebut memang membutuhkan anggaran sekitar Rp 4,1 triliun, pungkas Rini.


Originally published at mimijemari.livejournal.com.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Mimi Jemari’s story.