Saham Emiten Rokok Tergerus Isu Kenaikan Harga

Kenaikan Harga Rokok Berdampak Negatif Terhadap Emiten Rokok | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang

Maraknya pemberitaan mengenai produsen rokok yang akan menaikkan harga hingga Rp50 ribu per bungkus bulan depan, dikhawatirkan menggerus harga saham emiten rokok yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo menilai pemberitaan kenaikan harga rokok bakal berdampak negatif terhadap emiten rokok. Hal ini sudah mulai terlihat pada saham PT Gudang Garam Tbk yang mengalami penurunan.

“Yang jelas hingga pagi ini sudah terkoreksi pembukaan untuk emiten Gudang Garam. Lalu untuk Sampoerna sendiri masih tetap di posisi penutupan pekan lalu, namun sudah terlihat mengalami tekanan,” kata Satrio, Senin (22/8).

Pada pembukaan perdagangan pagi ini, harga saham Gudang Garam terkoreksi turun menjadi Rp68 ribu per saham dibanding harga penutupan pekan lalu sebesar Rp68.025. Sementara harga saham PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk masih bertengger di level Rp4.040, sama dengan penutupan pekan lalu karena kemarin manajemen perseroan gencar membantah rumor bakal menaikkan harga jual.

Namun, pada pukul 10.02 pagi ini, harga saham HMSP terus mengalami penurunan menjadi Rp3.960 atau turun 80 poin (1,98 persen). Sementara harga saham Gudang Garam turun lagi 1.150 poin (1,69 persen) atau menjadi Rp66.875 sejak dibuka tadi pagi.

Satrio berpendapat, kabar burung kenaikan harga rokok sampai Rp50 ribu per bungkus terlalu berlebihan. Hal ini tentu akan mempengaruhi volume penjualan industri rokok sendiri. Sehingga industri rokok secara keseluruhan akan mengalami tekanan.

Meskipun ia menilai kenaikan harga ini dapat menekan jumlah perokok di Indonesia, tetapi hal ini akan mematikan industri rokok secara tidak langsung.

“Padahal pemerintah kan tidak boleh seperti itu, selama ini industri rokok juga sudah dibatasi dengan pembatasan iklan dan informasi berbahaya terkait merokok di bungkus rokoknya. Orang yang terkait dengan industri rokok kan banyak,” paparnya.

Bila memang menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) menjadi pilihan terakhir untuk membuat harga rokok juga ikut melambung tinggi, Satrio menyarankan agar harganya dinaikkan menjadi hanya Rp25 ribu per bungkus. Menurutnya, harga tersebut masih bisa dianggap wajar.

Saham Rokok Tetap Menarik | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang

Wacana kenaikan harga rokok merebak belakangan. Tak tanggung-tanggung, harga sebungkus rokok bisa membengkak Rp 50 ribu. Wacana tersebut memantik beragam spekulasi di tengah masyarakat lebih-lebih para perokok. Lalu bagaimana dengan prospek dan kinerja emiten rokok di lantai bursa efek Indonesia (BEI) di tengah wacana tersebut?

Menilik kinerja semester pertama tahun ini, sejumlah emiten rokok mencatat kinerja beragam. HM Sampoerna (HMSP) misalnya, meraih laba Rp 6,14 triliun, naik 22,67 persen dari periode sama 2015 Rp 5,01 triliun. Pendapatan naik tipis 8,21 persen menjadi Rp 47,33 triliun dari edisi sama sama Rp 43,74 triliun.

Selanjutnya, Gudang Garam (GGRM) membukukan laba Rp 2,86 triliun, naik 19,43 persen dari fase sama 2015 Rp 2,4 triliun. Pendapatan naik 11,24 persen menjadi Rp 36,96 triliun. Kinerja itu ditopang pendapatan lain naik menjadi Rp 130,12 miliar. Kemudian PT Wismilak Inti Makmur (WIIM) mencatat laba naik tipis 5,41 persen menjadi Rp 60,69 miliar dari periode sama 2015 senilai Rp 57,58 miliar. Pendapatan naik 2,65 persen menjadi Rp 902,64 miliar. Peseroan mencatat pendapatan bunga naik menjadi Rp 1,21 miliar.

Sedang Bentoel International Investama (RMBA) membukukan rugi turun tipis menjadi Rp 675,94 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 740,99 miliar. Padahal, pendapatan naik 23,21 persen menjadi Rp 9,64 triliun.

Analis Samuel Sekuritas Akhmad Nurcahyadi menuturkan kinerja keuangan HM Sampoerna dan Gudang Garam masih sesuai proyeksi. Sampoerna meski terjadi penurunan volume namun masih mencatat pendapatan naik 8,2 persen didorong kenaikan average sale price (ASP) 10,8 persen year on year (YoY). Volume penjualan turun 3,1 persen YoY sedang industri naik tipis 0,3 persen YoY. “Pangsa pasar Sampoerna cenderung stagnan,” tutur Akhmad dalam risetnya kemarin.

Sedang Gudang Garam terjadi koreksi akibat lonjakan biaya penjualan. Gudang Garam mencatat kinerja laba kuartal dua negatif 30,56 persen kuartal per kuartal, akibat kenaikan beban pokok penjualan 10,71 persen. Kenaikan itu didorong porsi beban pita cukai, pajak pertambahan nilai (PPN), dan pajak rokok pada COGS sebesar 10,93 persen secara kuartal per kuartal. ”Tapi, kedua emiten ini akan tetap positif sepanjang tahun ini,” tegas Akhmad.

Karena itu, Akhmad merekomendasikan kepada investor untuk pertahankan hold saham Sampoerna dengan target harga saham menyentuh Rp 4.390 per lembar. Itu merefleksikan 43,1 kali untuk price earning (PE) ratio 2016 dan 14,5 kali price book value. Selanjutnya, Akhmad merekomendasikan beli untuk saham Gudang Garam dengan target harga saham Rp 77.150 per saham. Target harga itu mencerminkan PR ratio 22,68 kali dan price book value 3,45 kali tahun ini.

Pada perdagangan Jumat lalu, saham Gudang Garam menguat 525 poin (0,78 persen) menjadi Rp 68.025 per lembar dan saham HM Sampoerna minus 0,74 persen (30 poin) di kisaran Rp 4.040 per lembar saham.

Di sisi lain, manajemen Sampoerna tidak berencana menaikkan harga rokok bulan depan. Perusahaan menggaransi peredaran informasi di media sosial tidak benar. ”Kami sampaikan kenaikan harga drastis maupun kenaikan cukai secara eksesif bukan langkah bijaksana. Pasalnya, setiap kebijakan berkenaan harga dan cukai rokok harus mempertimbangkan aspek secara holistik,” ucap Head of Regulatory Affairs, International Trade and Communications Sampoerna Elvira Lianita.

Elvira menuturkan, aspek-aspek perlu dipertimbangkan saat melakukan penyesuaian harga rokok bukan sekadar menjadi urusan perusahaan rokok semata. Pemerintah sebagai pemegang kuasa menetapkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) setiap tahun juga dipastikan tidak akan sembarangan mematok tarif CHT tinggi.

Produk Ilegal Marak Jika Harga Rokok Selangit | PT Rifan Financindo Berjangka Cabang Semarang

Head of Regulatory Affairs, International Trade and Communications PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) Elvira Lianita menyampaikan, kenaikan harga drastis maupun kenaikan cukai secara eksesif bukan langkah bijaksana. Hal ini karena setiap kebijakan yang berkaitan dengan harga dan cukai rokok harus mempertimbangkan seluruh aspek secara komprehensif.

Aspek tersebut terdiri dari seluruh mata rantai industri tembakau nasional seperti petani, pekerja, pabrikan, pedagang dan konsumen. Sekaligus juga harus mempertimbangkan kondisi industri dan daya beli masyarakat saat ini.

Bahkan, Elvira mengatakan, dikhawatirkan kenaikan harga rokok justru memicu peredaran rokok ilegal yang dijual dengan harga murah.

“Jika harga rokok mahal, maka kesempatan ini akan digunakan oleh produk rokok ilegal yang dijual dengan harga sangat murah karena mereka tidak membayar cukai,” kata dia dalam keterangan resminya, Minggu (21/8/2016).

Elvira menyebut, berdasarkan studi beberapa universitas nasional, perdagangan rokok ilegal telah mencapai 11,7 persen dan merugikan negara hingga Rp9 triliun.

“Hal ini tentu kontraproduktif dengan upaya pengendalian konsumsi rokok, peningkatan penerimaan negara dan perlindungan tenaga kerja,” katanya.

Terkait dengan harga rokok di Indonesia yang dibandingkan dengan negara-negara lain, lanjutnya, maka perlu dilakukan kajian yang menghitung daya beli masyarakat di masing-masing negara.


Originally published at mimijemari.livejournal.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.