Scaffolding: Siapa yang Lebih Pintar?

Mindsters Psiko UI
Aug 31, 2018 · 3 min read

Gita dan Asya, yang sama-sama berusia 12 tahun, mencetak skor 110 pada sebuah tes IQ yang dikerjakan secara mandiri. Namun, ketika masing-masing dipasangkan dengan seorang tutor untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, ternyata tampak bahwa Gita menampilkan pemahaman yang lebih baik terhadap instruksi, respons yang lebih aktif terhadap umpan balik, dan motivasi yang lebih tinggi dalam menyelesaikan tugas ketimbang Asya. Alhasil, performa Gita secara keseluruhan lebih baik dari Asya walaupun mereka dibantu oleh seorang tutor yang sama. Jadi, berbekal skor IQ identik (sama-sama 110) yang mereka raih, bisakah dikatakan bahwa Gita dan Asya memiliki kecerdasan yang setara?

Tidak.

Jika kamu seorang penganut teori sosiokultural, kamu tentu berpendapat bahwa Gita lebih cerdas dibanding Asya karena ia mempunyai potensi yang lebih besar untuk mengambil manfaat ketika memperoleh bantuan. Pemetaan kecerdasan yang mempertimbangkan potensi ini tergambar dalam konsep zone of proximal development yang didefinisikan oleh tokoh sosiokultural asal Rusia Lev Vygotsky (1978) sebagai, “The distance between actual developmental level as determined by independent problem solving and the potential level of development as determined through problem solving under adult guidance or in collaboration with more capable peers.” Oleh karena itu, penting juga menurutnya untuk meninjau kecerdasan dari performa seseorang ketika dibantu; tidak cukup dengan melihat performanya secara mandiri saja. Kenapa begitu? Sederhananya karena pemerolehan pengetahuan tidak pernah terjadi di dalam ruang hampa, melainkan selalu ada rantai informasi yang terjalin dari satu kepala ke kepala lainnya. Artinya, kamu bukan pintar karena nilai yang bagus, tetapi karena kamu bisa menjalin pertukaran informasi yang lancar dengan orang lain. Proses penyusunan pengetahuan di dalam kepala seseorang pasti sudah terjadi ketika telah terjadi interaksi antarkepala.

Interaksi antarkepala dapat masuk ke dalam kepala individu melalui proses yang disebut scaffolding. Meminjam istilah dari alat bantu dalam konstruksi bangunan, scaffolding didefinisikan sebagai proses dalam membantu pelajar dengan cara-cara seperti demonstrasi, umpan balik, pemberian petunjuk, instruksi, dan sebagainya. Scaffolding menitikberatkan pada penyusunan pengetahuan yang dikonstruksi sendiri oleh pelajar, sehingga dalam scaffolding solusi permasalahan tidak boleh diberikan secara gamblang dan cuma-cuma. Prinsip ini bersanding dengan cara kerja scaffolding dalam pembangunan yang berposisi sebagai pijakan bagi para pekerja bangunan untuk memanjat bangunan yang tengah dikerjakan. Pemberian scaffolding pada pelajar berfungsi untuk menjembatani pengetahuan yang mengambang dalam interaksi antar-kepala menuju kepala masing-masing orang. Saat pengetahuan telah diperoleh secara penuh oleh seorang pelajar, scaffolding pun dapat dihentikan; persis dengan rangka scaffolding yang juga dibongkar saat sebuah bangunan telah rampung.

Bagaimana cara pengetahuan disalurkan melalui proses scaffolding? Wood, Bruner, dan Ross (1976) merumuskan bahwa seorang tutor dalam scaffolding harus menarik ketertarikan pelajarnya; ia harus berhasil membuat perhatian pelajarnya terpusat kepada aktivitas yang tengah dikerjakan bersama. Lalu, seorang tutor perlu menyederhanakan tugas yang pelajar tengah kerjakan dengan cara memberikan petunjuk, sudut pandang lain, pemicu, dan sebagainya. Mempertahankan atensi dan motivasi pelajar dengan cara mengantisipasi kejenuhan pelajar juga menjadi tugas tutor. Scaffolding yang baik juga dipenuhi oleh penandaan fitur penting dari sebuah aktivitas yang tutor tunjukkan sebagai bahan pelajaran pelajarnya. Pelajar juga perlu dikendalikan frustrasinya ketika menemui kebuntuan. Terakhir, tutor dapat memberi contoh dalam mengeksekusi sebuah solusi. Keenam hal ini menjadi pilar dari scaffolding sebagai saluran pengetahuan dari tutor kepada pelajar.

Nah, keenam mekanisme scaffolding tadi sebetulnya dapat kita temui di mana-mana; saat mama mengajari memasak, teman menjelaskan pr yang sulit, atau mas-mas petugas stasiun membantu untuk memesan tiket commuter line menggunakan mesin otomatis. Akhirnya, anak yang pintar sebenarnya adalah anak yang sanggup memperoleh manfaat dari scaffolding yang terjadi di sekitarnya. Itulah yang mungkin membedakan Gita dari Asya; Gita bisa jadi lebih cepat belajar memasak, mengerjakan pr, atau memesan tiket kereta otomatis ketika dibantu orang lain ketimbang Asya.

Referensi

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Cambridge, MA: Harvard University Press

Wood, D., Bruner, J. S., & Ross, G. (1976). The role of tutoring in problem solving. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 17, 89–100.

Ditulis oleh Opang (2015)

Mindflix — Publikasi Mindsters! V.5
It’s our time.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade