Sayembara Cerpen Fiksi Ilmiah Vol. 1
Bonni Rambatan
1821

Being Ruined

Sudah sepuluh tahun kami tidak melihat matahari. Begitu juga langit biru, burung terbang, dan…orang tua kami. Yang ada, hanyalah kota kecilku dengan para remaja yang masih bisa tinggal di rumah mereka masing-masing, tanpa orang tua.

Aku ingat betul kejadian sepuluh tahun yang lalu, mereka datang dengan sang ketua melakukan pidato tiga menit yang cukup sempurna di depan gedung balai kota. Sempurna karena memicu tangis bahagia dan semangat para rakyat untuk hidup lebih layak dari keadaan kami waktu itu. Mereka menjanjikan sebuah kemakmuran, dalam sekejap menyingkirkan kepercayaan rakyat kepada Pak Wali Kota yang lebih menyukai melakukan banyak kunjungan ke kota lain bersama keluarganya.

Namun, keesokkan harinya aku sudah menemui diriku sendiri di rumah. Aku kira itu hal biasa karena orang tuaku akan pergi berdagang ikan ke pasar setiap pagi. Tetapi, pagi itu teriakan panik dan kehilangan langsung terdengar dari para tetangga. Apalagi, suara cempreng milik Rona, sahabatku. Ternyata, orang tua kami semua telah menghilang.

Waktu itu, umurku baru tujuh tahun. Begitu juga dengan teman-temanku, beberapa sudah berumur 11 sampai 12 tahun. Yang tertua diantara kami adalah Mas Ghani, anak pak lurah. Semua menangis karena merasa ditinggalkan.

“Selamat ulang tahun!” Aku mengerjapkan mata karena tiba-tiba ada hawa panas di depan wajahku. Ternyata Rona mendekatkan satu mangkuk bekal bubur dengan taburan daun bawang juga suwiran ayam jatah bulanan kami di atasnya.

“Ayo tiup lilinnya gar!” seru Peter, sahabatku selain Rona.

“Eits, jangan lupa berdoa dulu.” Sela Rona.

“Semoga, apa yang diambil dari kita segera dikembalikan. Matahari sekalipun.” Ujarku lirih namun aku yakin, mereka mendengarnya. Ketika meniup, aku bisa melihat wajah Rona berubah sendu. Ia pasti sangat merindukan Ibunya. Aku juga, kami semua sama. Meskipun tertawa di waktu senggang seperti ini, tapi dalam hati kami ingin menangis dan meminta keluarga kami kembali.

“Cepat dimakan, Biasanya para lansia itu akan datang tidak lama setelah aku selesai memasak.” Omel Rona seraya mengeluarkan dua mangkuk bekal bubur yang sama tanpa lilin di atasnya. Rona benar, disini tidak ada jam yang diberlakukan. Semua jam dinding, jam tangan, jam beker punya kami telah disita. Kami disini hidup hanya mengandalkan ingatan tentang waktu normal sebelum mereka datang, menghitung sendiri dalam hati.

Meskipun tidak ada matahari, kami sekarang berkumpul seolah-olah hari sudah pagi, karena kami sudah tidur, dan menganggap hari sudah berganti. Terus seperti ini tanpa bisa bertanya kepada para lansia.

Oh ya, yang dimaksud lansia itu adalah orang-orang yang berpidato dulu. Sekarang pun mereka masih sama, menjadi sekelompok orang yang mengatur hidup kami, memberikan program sekolah, jatah makan bulanan, tapi sayangnya mereka tidak pernah memberikan baju tambahan kecuali baju seragam yang harus dipakai dari kami bangun tidur sampai pulang kembali ke rumah. Semua teknologi telah diambil mereka kecuali yang ada di sekolah. Itu pun hanya alat yang kata mereka bernama proyektor.

“Mereka datang.” ujar Peter yang melihat langit berwarna hitam. Kedatangan mereka ditandai dengan ditembakkannya kembang api berwarna putih, seputih rambut mereka. Rona, aku, dan Peter bergegas mengemasi mangkuk plastik milik Rona ke dalam ransel kami masing-masing karena belum habis. Para tetangga dan anak di kampungku pun ikut bergegas karena aturan ketika mereka mendatangi kampung, kami harus bersiap lengkap dan menunggu apa kata mereka. Begitu dari dulu, tersiksa rutinitas.

“Hallo, wahai para pemuda–pemudi kesukaanku.” Sapa ketua lansia. Dia laki-laki, berambut putih panjang sepunggung dengan keriting di bagian bawah, kulitnya pucat, dan ia memakai make-up seperti perempuan. Lipstik merah cerah, blush on warna pink, dan eyeshadow yang cukup menyakiti mata orang lain yang melihatnya dengan teliti. Kalau tidak salah, Ibu selalu mengatakan makhluk seperti itu adalah banci.

“Hallo Miss Bianca.” Sapa kami semua serentak. Harus seperti itu.

“Senang mendengarnya. Hari ini kalian tidak perlu ke sekolah. Tapi, sebagai gantinya aku akan mengumumkan beberapa hal. Pertama, situasi kita sekarang siaga. Kami para tetuah, memutuskan untuk melatih kalian lebih keras berdasarkan bidang dan laporan nilai terakhir kalian di sekolah juga bagaimana kalian hidup.” Ujarnya seraya membuka satu map besar berwarna putih. Apa maksudnya? Aku tidak tahu. Tepatnya, kami.

“Kalian masih ingat aturannya kan? Tidak ada pertanyaan. Sekarang, aku akan mulai memanggil nama kalian. Hari ini akan ada lima orang yang harus ikut denganku untuk mengikuti pelatihan khusus.” Lanjutnya dengan tersenyum lebar.

“Ghani Adityanta.” Aku menoleh pada Ghani. Laki-laki dengan tinggi 170cm itu mencengkeram tali ranselnya sebelum melangkah dengan mantap ke depan barisan kami. Tapi aku bisa melihat jika genggamannya bergetar. Dia selalu seperti itu, tidak ingin terlihat lemah di depan banyak orang walau sebenarnya mungkin ia ingin sekali menangis.

“Farah Ariesta.” Farah. Perempuan 16 tahun yang seumur-umur kami satu kampung, aku tidak pernah melihatnya memiliki rambut lebih panjang dari telinganya. Matanya sipit, keturunan ras orang Cina, berbicara yang penting-penting saja, dan jago berkelahi.

“Peter Firsta Nanda.”

Fuck, bagaimana bisa.” Umpatnya. Tentu hal itu tidak pernah dipelajari di sekolah, tapi dia selalu belajar dari jurnal milik Ayahnya yang seorang guru bahasa inggris tingkat SMA. Peter menggenggam tanganku dan Rona sebelum melangkah ke depan. Apa aku akan melihat Peter nanti? Kemana para lansia akan membawanya? Aku tidak akan membiarkan Peter menghilang seperti para orang tua kami. Jika mereka nantinya akan menyentuh Peter sedikitpun dengan tidak sopan, aku tidak akan segan-segan untuk menghajar para lansia itu.

“Ligar Adventius Putra.”

Rasanya semua organ di tubuhku berhenti beroperasi ketika namaku dipanggil. Jika aku dipanggil juga, Rona akan sendirian. Aku menoleh dan ternyata ia sudah menitikkan air mata. Jari-jari kurusnya menggenggam jari-jari tangan kiriku begitu erat, kepalanya geleng-geleng sendiri dan aku bisa mendengar suaranya dengan lirih menolakku untuk pergi.

“Aku dan Peter akan baik-baik saja.” Bisikku ketika dengan spontan memeluk Rona.

“A…aku mohon…ke…kemanap…kemanapun mereka mem…membawamu dan Pet…er, a…aku moh…on, kembalila…ah. Bawa aku…Ligar, bawa…ak…u…” ujarnya disela tangisnya yang semakin menjadi.

“Oke, dan yang terakhir adalah Arga Barayudha. Ayo, cepat kalian maju dan naik ke jeep. Waktu kita tidak banyak. Yang lain, kembalilah belajar di rumah.”

Hari itu adalah hari terakhir aku dan Peter melihat Rona.

2 tahun kemudian…

“Sebenarnya…akan dibawa kemana kita? Atau tepatnya untuk apa kita seperti ini?” tanya Peter ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi bilik kamar kami berdua.

“Aku tidak tahu. Kita dilarang bertanya. Dan aku juga tidak tahu, kenapa kita menuruti mereka untuk tidak bertanya.”

“Kau benar. Setelah keluarga kita pergi. kita hanya hidup untuk belajar ilmu pengetahuan tapi tidak untuk teknologi. Tanpa matahari…aku bahkan mulai lupa bagaimana rasanya angin menerbangkan helai-helai rambutku. Dua tahun lalu, kita naik ke level paling buruk. Hingga saat ini, kita hanya tidur di matras yang keras dengan semua baju berwarna putih bersih dan berjalan di gedung yang berwarna hitam ini. Kita tiba-tiba mengenal senjata, berkelahi, membuat otot-otot tubuh kita menjadi sedemikian rupa, dan memakan makanan sehari-hari yang enak tapi tidak hangat.” Aku mendongak dan melihat wajah Peter berubah sendu. “Aku merindukan Rona.”

“Sama.”

“Bertanyalah pada yang bisa menjawab, seperti aku!” aku dan Peter kaget bukan main, tiba-tiba saja diantara kami yang mengobrol, berdirilah seorang perempuan. Mungkin sebaya dengan kami, rambutnya berwarna hitam legam, kulitnya berwarna putih, dan bibirnya merah merona.

“Siapa kau?”

“Aku Stellar, bintang yang berkeliaran. Pemantau semua secara diam-diam dan sekarang aku kemari untuk menyampaikan pesan, tapi aku lebih tertarik pada obrolan kalian. Ternyata Bianca tidak pernah memberitahu kalian apa yang terjadi ya? Sangat melanggar aturan galaksi.”

“Kau bicara apa, bibir seksi?” tanya Peter.

“Jaga mulutmu.”

“Oops.”

“Bumi ini,” katanya seraya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. “sedang dalam bahaya. Menjadi incaran karena merupakan planet paling sempurna. Merkurius yang terlalu banyak menerima panas iri dan ingin menghancurkan bumi kalian karena hanya disanalah kesegaran itu berada. Ilmuwan-ilmuwan muda mereka sedang membuat alat, menjadikan tenaga matahari untuk meluluh lantakkan kalian. Merkurius telah melanggar aturan galaksi, dan kami bekerja sama dengan Pluto untuk mempersiapkan segalanya karena Merkurius sudah tidak ingin mendengar apapun dari kami. Jika kalian hancur, kestabilan galaksi pun juga akan hancur. Untuk itu, lansia Pluto ingin mempersiapkan kalian sedini mungkin dan memanipulasi mata-mata merkurius dengan membuat bumi buatan tanpa matahari, langit biru, juga angin bagi kalian. Namun aku sekarang disini untuk memberitahukan jika perkembangan Merkurius lebih cepat dari yang kami semua perkirakan.

Aku harus memperingatkan Bianca, agar mempersiapkan kalian lebih cepat dan sebaik mungkin sebelum berperang membantu orang tua kalian semua.”

“Apa kau bilang? Orang tua kami?” tanyaku tidak sabaran. Apa benar perempuan ini berkata ‘orang tua kami’?

Ia mengangguk. “Orang tua kalian pergi karena diminta untuk membantu galaksi. Mereka juga sama seperti kalian. Mempersiapkan agar semua siap sedia ketika Merkurius menyerang.”

“Orang tua kami dimana? Kami butuh bertemu mereka.” Desak Peter sampai maju berhadapan dengan Stellar yang hanya memiliki tinggi sampai sebahu Peter.

“Mereka di Venus. Ingin bertemu? Lakukanlah latihan dengan benar, seranglah orang Merkurius nanti dengan rasa melindungi Bumi. Perang akan segera dimulai. Rasa lelah kalian dalam latihan saat ini, bukanlah apa-apa.”

Apa-apaan ini? Perang planet? Orang tua kami masih ada? Ada satu hal yang muncul tiba-tiba di kepalaku.

Aku harus membawa Rona bersamaku dan Peter, segera.

***

Show your support

Clapping shows how much you appreciated sun.flowrz’s story.