Jadi orang homo nggak boleh sekolah?

Ikutan ngomentarin perkara universitas yang melarang LGBT masuk kuliah, ah. Lucu banget, man. Buat yang belum tahu beritanya, intinya halaman media sosial saya lagi penuh notifikasi tentang masalah sebuah universitas negeri yang mengharuskan calon mahasiswanya menandatangani formulir pernyataan bebas LGBT untuk bisa menjadi mahasiswa di sana. Saya nggak perlu sebut merk. Yang jelas, menurut saya ini benar-benar aneh dan kontradiktif. Alasan pertama, tentu saja, karena pendidikan adalah hak asasi semua manusia dan itu tercantum jelas dalam UUD ’45, jadi seharusnya tidak ada institusi mana pun yang bisa melakukan pelarangan sewenang-wenang seperti ini.

Terlepas dari pandangan yang sangat beragam dan relatif mengenai masalah LGBT (dan terlepas dari pandangan pribadi saya mengenai topik ini), setahu saya PDSKJI sudah mengeluarkan pernyataan bahwa LGBT adalah termasuk penyakit jiwa (sumber). Jadi, kalau di Indonesia LGBT dianggap penyakit, tentunya seharusnya ‘penderita’-nya diayomi dan diberikan ‘kesembuhan’, bukannya malah dijauhi dan dilarang mendapatkan haknya. Itu artinya, melarang LGBT masuk kampus sama saja dengan melarang orang sakit asma atau kanker untuk berkuliah. Apakah pengidap tumor dan yellow fever tidak boleh kuliah juga? (Sekali lagi, pernyataan ini saya buat dengan mengambil dasar mengenai LGBT di Indonesia yang dianggap penyakit. Hal tersebut memang tidak sesuai dengan pendapat pribadi saya yang menganggapnya bukan penyakit.)

Hanya karena seseorang ‘sakit’, ia tidak boleh didiskriminasi dalam mendapatkan hak-haknya. Mungkin ada yang akan memberi opini: LGBT itu menular, jadi tidak boleh masuk ke ranah publik seperti kampus. Masalahnya, untuk sebuah institusi resmi mengeluarkan pernyataan demikian, haruslah ia memberikan dasar medis yang jelas mengenai hal tersebut. Apakah ada jurnal evidence-based yang mendasari klaim tersebut? Anggaplah LGBT memang menular, itu artinya penyakit menular lain juga harus dilarang dong, seperti tuberkulosis, malaria, dan tifoid?

Ada lagi yang beropini masalah moral: LGBT dianggap imoral dan bisa membuat generasi muda jadi ‘rusak’. Kalau begitu, harus didirikan dulu forum untuk membuat daftar, apa saja sih the so-called morally wrong things yang harus dilarang? Apakah termasuk narkoba, pornografi, alkohol? Kenapa tidak ada surat penyataan bermaterai bebas pornografi? Dan apa batasannya? Masihkah ia tetap salah bila seseorang pacaran dengan sesama jenis di rumahnya, tapi ia tidak melakukannya di lingkungan kampus? Sama saja kan, dengan orang yang merokok atau minum alkohol di rumah, tapi tidak di kampus. Apakah nanti akan ada upaya tindak lanjut untuk mendeteksi dan melaporkan aktivitas LGBT? Apakah malah tendensi-tendensi kecil yang dianggap ‘mengarah’ ke sana akan ditangkap, padahal sebetulnya tidak ada maksud? Apakah kemudian semua orang yang bersahabat sesama jenis akan diperiksa apakah mereka hanya bersahabat dan bukan homo? Bagaimana cara mengetahuinya? Siapa yang punya konsensus bakunya?

Intinya, keputusan bodoh dibuat oleh orang-orang yang malas berpikir. Dan, keputusan-keputusan yang dibuat tanpa berpikir panjang seperti ini malah akan merugikan masyarakat banyak nantinya. Korbannya, siapa lagi selain generasi muda penerus bangsa?

Feel free to comment and discuss.