Kategorisasi Khaos
Ada hari-hari di mana saya terlalu banyak berpikir. Dan sulitnya, ketika sudah begitu larut dalam gelombang pikiran, saya harus berusaha keras untuk bisa kembali menghirup napas di permukaan. Ini membuat saya jadi tidak produktif. Tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk dan berpikir. Yang paling sering saya pikirkan adalah cara mengategorikan kekacauan di dalam benak saya sendiri. Meskipun saya tidak obsesif-kompulsif, tapi ketika saya tersedot ke lubang hitam dalam kepala saya, tak ada yang bisa lakukan selain menyusun semua yang kacau-balau itu kembali satu per satu. Jadi, alih-alih menulis, saya akan memikirkan bagaimana posisi saya di dalam dunia fiktif yang saya ciptakan. Alih-alih bekerja, saya memikirkan urut-urutan hal yang harus dikerjakan (seolah itu akan saya turuti di kemudian hari).
Kekacauan dalam pikiran saya sangat dinamis, namun juga begitu statis. Bergerak, namun membeku di satu tempat. Sejak kecil saya berpikir dengan huruf-huruf dan angka, dan saya tidak terbiasa berpikir dengan gambar. Ketika saya sedang dikuasai oleh lamunan saya sendiri, saya seolah dihujani ribuan alfabet yang terus-menerus berputar dalam pusaran angin, dan pusaran itu tetap berada di sana secara konstan, tak bisa diusir pergi. Dan tentu saja, semakin kita masuk ke lubang hitam, semakin tidak relevan apa pun yang terjadi di luarnya. Begitulah yang saya rasakan setiap kali saya membiarkan pikiran saya tumpah-ruah dan menguasai hari-hari saya.
Di tengah-tengah kehidupan yang bisa saya persepsi di masa ini, pada usia ini, di kota ini, dengan alur cerita semesta yang seperti ini, saya terbatas oleh dimensi-dimensi fisika dan indra-indra saya sebagai individu manusia. Saya tidak akan bisa memahami (dan mengategorisasi) apa pun di luar pemahaman saya, apa pun di luar tempat dan waktu yang mengekang seorang individu. Lebih jauh lagi, karya-karya ciptaan saya juga adalah hasil dari pergolakan dunia di sekitar saya sampai hari ini. Maka, sebetulnya tidak ada gunanya bagi saya untuk mencoba-coba memenuhi obsesi saya untuk ‘merapikan’ apa pun itu yang saya anggap berantakan.
Di dunia yang punya asas meritokrasi dan di tengah-tengah masyarakat yang dilanda status anxiety, saya juga merasakan keharusan untuk melengkapi curriculum vitae, seolah-olah semua ijazah dan sertifikat yang mentereng itu akan kita bawa ke liang kubur. Ketika saya lelah dengan itu semua, maka saya beralih pada usaha untuk membangun bina rapor sosial agar eulogi saya nantinya terdengar bagus. Lihat, bahkan saya mencemaskan sisa-sisa kisah hidup setelah saya mati kelak. Memang, saya betul-betul terlalu banyak berpikir. Terkadang bahkan saya sibuk berpikir mengenai betapa diri saya banyak berpikir. Berpikir, lalu mengkritisi pikiran sendiri, dan mempertanyakan semua pikiran itu kembali, seolah-olah kalau saya tidak secara konstan mempertanyakan prinsip saya sendiri, maka saya bukanlah pemikir sejati. Prinsip-prinsip moral pribadi harus selalu dikritisi sendiri setiap detiknya, menurut Hegel (meskipun saya sejujurnya tidak pernah bisa paham satu pun kalimat Hegel).
Saya pun begitu sensitif mengenai karya-karya saya yang sudah pernah dilepas ke publik, mengingat saya selalu bertumbuh dan berkembang sementara karya saya adalah sisa-sisa masa lalu, dan banyak aspek dari karya saya yang telah lalu yang tidak lagi cocok dengan jalan pemikiran saya saat ini. Saya bisa saja melakukan “peremajaan” atas karya-karya itu, namun apa gunanya? Hal yang sama terjadi pada semua jurnal dan akun media sosial yang selalu saya buka-tutup karena tidak pernah puas dengan pos-pos di dalamnya. Pada dasarnya, saya selalu mengulang segala sesuatu dari awal. Saya bukan prefeksionis, saya tidak memedulikan angka rapor, tidak pula peduli dengan satu-dua mistyping dalam naskah, tapi saya selalu merasa harus memiliki kendali atas bagian-bagian dari diri saya yang saya paparkan ke publik. Dan ini memang sulit, karena bukankah baik jejak virtual maupun jejak realitas akan tetap ada selamanya, tak peduli berapa kali kita mencoba menghapusnya?
Setelah saya lelah dengan semua pengaturan itu, terkadang saya akhirnya bisa menemukan ‘kerapian’ itu dan akhirnya mulai bekerja dengan benar. Ketika saya sama sekali tidak bisa berfokus dengan semuanya, saya akan memproyeksikan kekacauan di dalam kepala saya kepada kegiatan bersih-bersih rumah dan memindahkan furnitur-furnitur, mengatur-ulang letak buku-buku dan collectible di meja, untuk memberi ilusi seolah hidup saya tertata rapi. Ada kalanya saya menyadari bahwa itu hanyalah defense mechanism agar saya tidak terus-terusan merasa tak berguna, namun saya lebih sering terhanyut dalam khaos dan tidak sampai pada kesimpulan itu. Masalahnya, menyusun puzzle sampai sempurna pun rupanya tidak pernah bisa betul-betul menyembuhkan carut-marut dalam hati. Sampai kapan pun.
Tulisan ini saya curahkan bersamaan dengan usaha saya untuk mengerjakan bagian awal memoar yang saya beri judul Rekonsiliasi, sebagai bagian dari upaya saya untuk berdamai dengan diri sendiri. Saya tengah berusaha memahami apa yang salah dengan diri saya, dan mencoba memperbaikinya, mencoba memercayai bahwa saya bisa lahir kembali walau sudah tua. Saya ingin memulai segalanya dari awal, seakan kita bisa menghapus masa lalu yang tak akan pernah berubah, padahal tabula rasa yang sudah dimakan waktu tidak pernah bisa dikembalikan lagi ke keadaan semula. Saya bahkan tidak sepenuhnya mengerti kenapa saya menulis sesuatu yang sedemikian absurd, tapi bila Anda sudah membaca esai absurd ini sampai di sini, selamat, Anda baru saja melihat sepersekian persen bagian dari otak saya yang aslinya jauh, jauh lebih absurd lagi.
