Saya punya banyak kenalan sarjana, dokter spesialis, sampai profesor, yang masih percaya hoax dan teori konspirasi.

Tanya kenapa?

Salah satu kekagetan saya adalah ketika ada seorang dokter spesialis yang mengatakan bahwa presiden kita berkonspirasi dengan Cina untuk menyebarkan komunisme (di mana kita tahu bahwa Cina adalah negeri yang sudah menjelma menjadi sangat kapitalis). Di kesempatan lain, saya dengar ada institusi akademik yang menolak menerima calon mahasiswa yang openly LGBTQ (sesuatu yang tidak adil, bukankah semua orang punya hak sama dalam belajar?). Pernah juga saya mendengar seorang profesor menyatakan bahwa perempuan tidak selayaknya bekerja di luar rumah, apalagi memiliki penghasilan lebih tinggi dari suami. (Ini sesuatu yang sebetulnya adalah pilihan masing-masing orang dan tidak boleh dibakukan sampai jadi misleading; karena orang akan berpikir hal itu benar, karena disampaikan oleh seorang profesor.)

Ini semua membuat saya menyadari bahwa ternyata, kemanusiaan dan critical thinking itu tidak bersumber dari kecerdasan akademik belaka. Para sarjana, spesialis dan profesor itu sangat mumpuni di bidangnya dan sangat terpercaya, mereka hapal seluruh teori dalam buku teks dan paham aplikasinya. Mereka juga sangat kritis mengenai hal-hal baru dalam bidang ilmu pengetahuan mereka. Tapi, di sisi lain, mereka sama sekali tidak kritis mengenai hal-hal lain (yang selanjutnya akan saya sebut ‘dunia nyata’ alias bidang di luar jurusan sekolahnya).

Apa yang membuat orang jadi tidak kritis? Pertama, tentunya kita tahu bahwa salah satu penyebab utama dari ignorance adalah pengaruh lingkungan. Ya, manusia adalah makhluk sosial, sehingga kita cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita. Kalau orang di sekeliling kita tukang sebar hoax yang misoginis dan tidak punya sense of human rights sama sekali, ada kemungkinan kita bisa mengadopsi cara berpikir demikian. Pertanyaannya, bisakah kita menjadi kritis di tengah orang-orang yang tidak kritis? Bisa, namun butuh usaha. Di sinilah usaha itu menjadi penting, tapi sulit sekali ditanamkan.

Banyak orang yang hidup dalam lingkungan dan pergaulan yang terus-menerus menerapkan cara berpikir yang penuh dengan prasangka bahwa kelompok atau orang tertentu punya maksud jahat terhadap dirinya atau kelompoknya. Sedikit-sedikit berpikir, kelompok A mau mengambil alih tanah kita, kelompok B mau menggoyahkan kepercayaan kita. Hal-hal seperti ini bukan hanya mencerminkan budaya penuh prejudice, tapi juga menunjukkan kualitas mental seorang manusia yang insecure dan immature. Dan, itu semua bukanlah sesuatu yang kita pelajari di sekolah. Menjadi manusia bermental mature dan secure tidak ada kurikulumnya di universitas.

Berpikir kritis adalah ilmu yang tidak transferable. Ia tidak innate dalam diri kita, melainkan harus digali dan dibudayakan dalam jangka waktu lama untuk bisa meresap. Dan, berpikir kritis itu butuh usaha. Butuh energi. Karena, dalam berpikir kritis, artinya kita harus secara terus-menerus mempertanyakan segala sesuatu. Apakah berita yang saya baca ini sahih? Dari mana datangnya? Apa saja buktinya? Sesuaikah dengan ilmu pengetahuan yang baku? Adakah bagian dari berita tersebut yang tidak saya kuasai, sehingga tidak bisa saya lacak kebenarannya? Ke mana saya bisa bertanya, bila saya tidak tahu? Apakah kebenaran tempat saya bertanya ini masih bisa diragukan? And so on, and so on (ala Zizek). Jadi, Anda tidak akan tiba-tiba jadi kritis tanpa diusahakan.

Pertanyaan selanjutnya: bukankah di sekolah zaman sekarang, murid-murid sudah diajari berpikir kritis? Banyak forum diskusi dan seminar, dan banyak juga kelompok belajar yang didorong untuk terus bertanya.

Well, sekolah adalah sistem yang tertutup dan terkondisi. Artinya, sekritis-kritisnya, tetap saja pelajaran sekolah itu sudah ditentukan oleh si pembuat kurikulum, dan terkurung dalam ketentuan-ketentuannya sendiri. Sehingga, orang yang cerdas di pelajaran sekolah hanya akan cerdas di sekolah, tapi tidak di dunia nyata. Bila skill dunia nyata tidak dilatih, maka ia tidak ada bedanya dengan orang tidak sekolah (yang sama-sama tidak melatih skill dunia nyata).

Gampangnya begini: saya sekolah sampai lulus program profesi dokter dan saya bisa menjahit luka robek dengan baik, tapi saya tetap tidak terampil menjahit baju, karena toh saya tidak pernah diajari menjahit baju dan saya tidak berusaha untuk bisa menjahit baju. Entah mengapa, banyak orang yang menyangka bila kita pandai melakukan sesuatu di sekolah, maka otomatis akan pandai pula di luar sekolah. Contohnya, banyak yang beranggapan bahwa seorang ahli catur tentunya akan punya skill strategi yang hebat dalam kehidupan pula. Padahal, yang dipelajarinya hanyalah catur, dengan aturan permainan yang terbatas. Sehingga, strategi main catur tentunya berbeda dengan strategi menjalani kehidupan nyata. Tapi, berapa banyak sih orang yang menyadari hal ini?

Intinya, mau sekolah sampai profesor pun, kalau memang nggak terbiasa kritis, ya nggak bakal kritis. Titik. Ada kok orang yang tidak sekolah tapi sudah terbiasa mengkritisi kehidupan di sekitarnya, sehingga ia memiliki sistem judgment yang baik. Sekolah tinggi juga tidak memastikan orang jadi lebih bermoral atau lebih manusiawi; semua itu datang dari sumber-sumber lain. Sekolah tinggi tidak pula berkaitan dengan ekonomi yang mapan atau kualitas jodoh Anda. Itu semua malah lebih pelik lagi.

Yang penting, silakan sekolah setinggi-tingginya, tapi ingatlah bahwa ilmu tidak hanya datang dari sekolah. Ada banyak sekali pelajaran dalam hidup ini yang tidak akan Anda temui di ruang kelas, dan itu semua hanya bisa dipahami bila Anda memang betul-betul berniat untuk belajar.