“Apa Kabar?”

nda
nda
Sep 2, 2018 · 1 min read

Akan selalu ada satu orang yang membuatku bingung tentang perasaannya, tapi aku tak pernah berani bertanya. Sampai pada… suatu hari, kita memilih arah yang berbeda tapi tak saling memberitahu. Pelan-pelan, pengetahuan kita tentang satu sama lain semakin berkurang karena tak rutin bertukar kabar lagi.

Kau, kini hanya boleh jadi teman yang kupantau diam-diam. Dan sejujurnya, ada kekecewaan yang sanggup membuatku bersedih, tentang; “Kenapa aku tak bisa menjadi orang yang terus-menerus menemanimu, kenapa aku tak memiliki kesempatan yang cukup untuk bisa lama-lama di kehidupanmu?”

Lucu rasanya, ketika ternyata aku adalah satu-satunya hal yang kau biarkan lepas, sementara yang lain tetap. Teman-temanmu, hobimu. Ini membuatku sadar, aku kalah penting dari mereka. Tapi, aku ingin tahu; ada berapa banyak orang yang kau tarik perhatiannya setelah kita tak lagi dekat?

Tak ada kesepakatan untuk berhenti, tapi herannya kita sama-sama paham tidak ada yang perlu dilanjutkan. Kau tentu sudah punya standar bahagia baru, begitu pun aku. Seperti yang kau bisa lihat, aku berlaku selayaknya orang bahagia yang tak pernah merasa kekurangan kamu sebelumnya. Baiklah, jujur, aku sedang berusaha…

Kemudian, ini akan menjadi bagian yang bisa jadi mengejutkanmu. Aku tak tahu sejak kapan muncul ketergantungan ini; aku ingin kau selalu tahu tentang apa yang kulalui setiap harinya. Singkatnya, aku mau kamu terlibat, memberi respon, dan bereaksi. Aku mau kau menginginkanku sama seperti aku menginginkanmu.

Makanya, aku masih sedang berusaha…menayangkan semua aktivitas yang kelihatannya cukup menyenangkan untuk diketahui, lalu tersisip sedikit rasa penyesalanmu karena telah bergerak pergi dariku, hingga kau pun terpancing untuk bertanya, “Apa kabar?”

    nda

    Written by

    nda