#MirantieNgaji: Terapi Al-Qur’an Setiap Selesai Sholat Fardhu.

Mirantie
Mirantie
Nov 6 · 2 min read

Pembacaan surat Al-Qasas setelah sholat subuh hari Kamis, 7 November 2019, masih ada sedikit kendala di beberapa bagian bacaan. Terasa ada bau seperti telor busuk. Tenggorokan terasa “penuh”. Terdengar suara-suara perempuan “jorok” yang bukan suara Mirantie. Suara “jorok” tersebut berupa desahan-desahan seksual yang berlebihan, kata-kata umpatan kasar, kata-kata sindiriran terhadap kalimat Allah dan Al-Qur’an. Suara-suara musik yang mengganggu.

Suara-suara musik yang mengganggu ini mengulang-ulang satu baris lirik dari sebuah lagu. Baris lirik tersebut seolah dijadikan ajang menyindir saya.

Sebelum kejadian koma tahun 2012, kreativitas di dunia musik tidak ada gangguan sama sekali. Saya masih melaksanakan sholat. Tidak ada gangguan “sindir menyindir” seperti sekarang ini. Saat ini saya merasa tertekan dengan segala sindiran yang sebelumnya tidak ada. Saya terpaksa isthintaq marah-marahin dan menyindir mannat:

“Mannat kok popular?”

Si mannat itu balas menjawab dengan kata-kata kasar menyebut saya sebagai (maaf) “t*i anjing babi”. Kadang-kadang berlagak islami dengan mengucapkan “assalamu’alaikum”. Penampakannya berupa perempuan telanjang lebih dari satu. Mengingatkan saya kepada teman-teman si mannat. Yaitu, al-Lat dan al-’Uzza.

Kelompok jahil tersebut sering memainkan sejarah yang berhubungan dengan keluarga. Sering menipu dengan berpura-pura bahwa “leluhur saya sudah cukup beriman sehingga saya tidak perlu sholat fardhu dan mengaji Al-Qur’an lagi”. Mereka sangat merepotkan saya di saat manusia jaman sekarang banyak yang tidak menyadari bahwa kehadiran mereka sudah menjadi bibit penyakit masyarakat. Diperparah dengan tayangan-tayangan di televisi, bacaan di surat kabar dan majalah, iklan-iklan di jalanan berupa spanduk, pamflet, flyer, dll, yang menggunakan gambar manusia atau makhluk hidup lainnya.

Apakah cukup dengan menjaga pandangan terhadap keadaan sekitar? Saya rasa tidak. Memperbanyak wirid dan mengaji Al-Qur’an sangat membantu melawan mereka yang menipu dengan kekayaan dunia.

Terasa sakit perut secara berkala bukan diakibatkan dari makanan. Melainkan dari kebenaran. Sedangkan antara makanan dan kebenaran tentulah berbeda. Kebenaran ada karena Allah SWT. Sedangkan makanan dapat diciptakan oleh manusia.

Semoga kita semua terlindung dari fitnah dunia dan istiqomah beribadah hanya untuk Allah SWT.

    Mirantie

    Written by

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade