Eps 1: Nawaitu

#YodhaAmiNaikHaji

“Neng, aku pengen naik haji."

Sebuah niat yang tertanam sejak menjadi mahasiswa di Korea Selatan di tahun 2013. Awalnya sebelum menikah, Mas sudah ingin ikutan haji backpaker dari sana. Alasannya karena satu: mumpung ada kesempatan.

"Nanti dulu gus, kan mau nikah sama mba Ami. Nanti saja setelah menikah," bapak mertua saya menasehati. Sebagai anak yang cita-citanya hanya untuk membuat orang tua bangga, Mas selalu minta saran dan restu tuanya sebelum melakukan sesuatu. Kali itu, untuk haji backpacker sendirian belum mendapat lampu hijau.

Fast-forward ke awal tahun 2015, keinginan itu terus dipelihara. Bahkan ketika sedang browsing mencari informasi tentang Manchester, kota tujuan studi S2-nya, ia sempatkan untuk mencari informasi tentang berangkat haji dari UK.

Sekarang aku pun diajak berbagi impian itu. "Aku inginnya haji sama neng."

"Ya, tapi kan, anak kita masih kecil, masih nyusu. Dan dia nanti dirawat sama siapa? Terus kita punya biaya dari mana?"

Entah mengapa, naluri pertama saya adalah menolak ide radikal ini. Karena sulit, karena belum terbayang. Karena tingkat keimanan belum sampai merindukan haji.

Secara logika pun kami belum memenuhi persyaratan berhaji, karena logika kami mengatakan kami belum mampu. Kami memang sudah menguras tabungan dan berhutang sana sini hanya agar bisa berangkat ke UK bersama. Lagipula biaya untuk haji bukanlah jumlah yg receh.

Satu demi satu argumenku dipatahkan.

"Kita kan masih muda, Mas. Masih sempat kita ikut antri haji dari tanah air."

"Neng, aku takut besok udah mati, tapi rukun islamku belum sempurna."

"Tapi kita bisa bayar gimana caranya? Masih ngutang. Bukannya kita harus mampu dulu, baru boleh haji?"

"Sampai kapan mau nunggu kita mampu? Kita ikhtiar. Allah yang memampukan kita."

"Tapi...tapi anak kita masih nyusu. Mas sendiri tau, dia punya kebutuhan yang khusus. Dia gak bisa minum susu, dia perlu ASI. Mas dulu aja yang berangkat sendiri."

"Tapi aku gak yakin bisa nemenin neng berangkat haji nanti. Kita pergi sama-sama aja."

"Tapi anak kita masih kecil!"

"Neng, besok bisa saja anak kita meninggal diambil Allah. Apa neng lebih mencintai titipan-Nya ketimbang Dia sendiri? Dia bisa mengambil anak kita kapan aja."

"Astaghfirullahaladzim!"

Logikanya menusuk jantung dengan telak. Bagaikan sniper handal, ia menemukan titik terlemah bagi seorang ibu untuk membuatnya terdiam.

Aku melarikan diri ke dapur, tempat persembunyian ibu rumah tangga.

Sambil mencuci piring aku renungkan ide itu sampai meresap ke tulang-tulang. *Duh, belum siap. Kayaknya susah, kayaknya belum pantas. Haji?* Umurku baru 27 saat itu. Orang tuaku sendiri berusia 45 ketika naik haji.

Imaji tentang haji yang dilukiskan di masyarakatku adalah pergi di usia senja, ketika tubuh dan jiwa sudah semakin siap meninggalkan dunia. Ketika bisnis dengan buana telah mencapai titik puncak hingga sudah masuk waktunya mempersiapkan akhirat. Apa hanya aku saja yang berfikir seperti itu?

Beda dengan Mas. Hidupnya selalu dalam akselerasi. Kakinya menekan pedal gas, langsung tancap potong antrian dan pilih akhirat dari awal. Mimpi-mimpinya sudah bukan setinggi langit, tapi sudah jauh di Jannah.

Setelah menenangkan diri aku kembali ke kamar. Anak soleh sudah lelap tertidur. Mas sedang bersimpuh dalam renungan, sayup terdengar lagu "Janda Jaenab" oleh Dik Doang dari speaker laptop. Punggungnya melengkung, mengirim sinyal "Hei, aku sedang menangis".

Aku enggan mengganggu keintiman dialognya dengan Sang Pencipta, tapi akhirnya aku menegurnya sambil berbisik karena takut membangunkan anak soleh.

"Mas, gimana kalo kita lunasi hutang dulu, baru kita rencanakan haji. Bukannya melunasi hutang prioritasnya lebih tinggi daripada berangkat haji?"

Hening sejenak. "Oke."

Aku menghembus napas. Mungkin aku berhasil meyakinkan logikaku malam ini, tapi bukannya lega, aku perasaanku malah semakin bergemuruh. Tentu aku tak tega melihat Mas kecewa dan sedih, tapi impiannya kali ini mustahil. Not feasible. How can we make it happen? Tidak terbayang sama sekali.

Ya Allah, apa jalan keluar yang Engkau lukiskan untuk hamba?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.