Eps 2: Pangestu Suami Nomor Hiji

#YodhaAmiNaikHaji

"Lo gak kasian sama Abdur mi? Dia kan masih kecil, emang udah bisa ditinggal? Emang harus sekarang banget? Kan bisa daftar dulu atau ikut haji plus, mahalnya kan hampir sama."

"Aduh, nanti yang jaga Abdur siapa? Ya kalo Mama sih terserah Ami, tapi dipikirkan lagi, kan gak gampang loh, Mama gak bisa kalo harus kesana."

"Ya. Coba matangkan lagi rencananya."

Kakak, Mama, Papa, aku berkonsultasi dengan mereka satu per satu. Mungkin karena aku dibesarkan oleh mereka, jalan pikiranku pun sejajar. Tentu saja concern utamaku dan mereka adalah meninggalkan anak di usia dini, dengan seseorang yang mungkin belum paham kebutuhannya, keunikannya, dan tantangan merawatnya.

Dalam hati aku berkecamuk.

Hmmph, Mas sih gak ngebayangin gimana susahnya ngerawat anak. Belum lagi makanannya harus dipikirin, alerginya apa aja, ini rumah masih berantakan pula. Aduh, lupa masukin baju ke dryer. Duh, Abdur lagi rewel banget sih, belum masak. Mau beli makan di luar.... Ah, jangan dulu, harus hemat, Mi, hemaat. Uurrgghh!!! Kompornya gak nyala lagi! #@#*$@*!!!!

Ah, kalo terkenang masa-masa itu, rasanya sedih dan menyesal telah termakan emosi dan membiarkan diri luput dari rasa syukur.

"Mas, aku udah nanya sama Kakak, Mama dan Papa. Semuanya khawatir sama Abdur. Kalo kita haji, nanti Abdur gimana ya?"

"Jangan khawatir, Neng. Allah berjanji akan merawat anak dan harta kita kalau sedang berhaji."

Bola mataku berputar dalam rongganya begitu mendengar jawaban itu. Typical Mas.

"Iiyyaaa, Mas, tapi caranya gimana? Maksudnya, nanti Abdur pulang ke Indonesia atau nanti ada yang dateng jaga kesini, ato gimana?"

"Gimana ya? Aku pengennya Abdur dibawa."

"What??????"

Merencanakan keuangan untuk bisa berangkat dari Inggris saja kepalaku sudah berputar, kini bertambah lagi cita-cita Mas untuk membawa anak kami yang masih kecil ke tanah suci. Putaran di kepala sudah seperti vertigo.

Oke, baiklah, memang membawa anak beribadah itu sesuatu yang mulia, dan bagi orang tua yang sanggup melakukannya, aku acungi keempat jempolku. Tapi untukku sendiri, baru membayangkan 1001 hal yang harus disiapkan, belum lagi kondisi kesehatan anak yang istimewa, rasanya tubuh ini panas dingin. No, no, no. Aku tidak bisa. Titik!

Rentetan kosa kata keluar lancar bagai kereta shinkansen dari mulutku.

"Oke, neng, oke," suara Mas berusaha mengerem cerocosanku yang bajir bagai dam pecah.

"Pokoknya, kalo mau bawa Abdur, Mas aja yang siapin makanan, suapin, ganti pampers, mandiin, salepin, garukin, dan gendong dia kemana-mana selama haji! Aku cuti!"

Lalu aku kabur ke dapur.

Beberapa hari kemudian, diskusi tentang haji dibuka kembali dengan adanya sebuah kabar.

"Neng, sekarang antrian haji dari Indonesia harus nunggu 15 tahun. Aku gak yakin umurku sampai kesana."

Aku terdiam saja mendengar kabar itu. Tidak tau harus bereaksi seperti apa.

Rasanya tidak kuat melihat wajah Mas yang begitu merindukan tanah suci, padahal aku belum segitunya. Aku tidak tahu bagaimana mendamaikan hati Mas.

Keesokan paginya, Mas menyetel tausiyah dari Aa Gym yang tersiar dari Youtube. Tausiyah disetel dengan loud speaker handphone dan sengaja ditaruh di dekat dapur agar aku ikut mendengarkan. Topiknya tentang bagaimana seorang istri yang mentaati suami bisa masuk surga.

Kode keras.

Mendengar tausiyah itu, hatiku agak melunak. Ya, itulah cara Mas menyampaikan keberatannya. Lain halnya denganku, yang sering berucap tanpa sensor, ia lebih suka cara yang tidak to-the-point, berputar tapi berusaha lebih lembut. Mungkin ia percaya dengan kemampuanku menangkap sinyal. Atau mungkin aku yg over-analyze.

"Kalau kita haji, gimana caranya kita lunasin hutang dan bayar haji sekaligus?" tanyaku di sore hari, memberikan isyarat, 'Okay, I got the message. Kode diterima, saya akan patuh.'

Mata Mas langsung berbinar, seolah-olah sudah dipikirkan jauh strategi mengumpulkan uangnya.

"Aku ada ide. Gimana kalau kamar kosong dirumah kita Airbnb-kan aja?"

Airbnb? Airbnb telah kukenalkan pada Mas ketika aku semangat mencari akomodasi di London untuk berwisata. Walau tidak jadi menginap disana, rupanya situs itu memberi inspirasi untuk Mas.

Tapi menjalankan Airbnb kurang lebih mirip seperti me-manage hotel. Seribu satu pertanyaan teknis muncul di kepala. "Airbnb? Tapi Mas....."

Aku mencoba sekuat tenaga untuk menahan diri dari mengeluarkan pertanyaan dengan kecepatan senapan mesin.

Oke, Ami, calm down. Aku memberikan senyuman semanis mungkin.

"Oke, Mas, kita coba ya."

Pertanyaan-pertanyaan bisa ditunda esok lagi. Sekarang kepala sudah mulai sibuk merencanakan SOP dan juga legalitas menjalankan sebuah Airbnb.

Angin dingin berhembus melalui sela-sela jendela. Bulan November menjelang, musim dingin tiba.

Bersamaan dengan badai ujian yang akan menerjang keimanan kita.