Eps 6: Romantisme Tepok Jidat

#YodhaAmiNaikHaji

Maret 2017

"Neng, kenapa sih dari episode 1 sampe sekarang kayaknya ceritanya nggak happy-happy ending? Udah seneng dikit, eh ada masalah lagi. Seneng lagi, eh ditutupnya dengan awal masalah lagi," Mas memberi komentar setelah membaca draft episode yang terakhir.

"Ya namanya juga hidup kan gitu. Lagipula aku pengen nulisnya se-detail mungkin, biar kita inget terus gimana susah dan mudahnya kita berangkat haji. Kan, baru kelihatan keajaibannya di akhir, pas dijalanin, rasanya kan susah banget waktu itu."

"Hmmm, oke deh, Neng. Terus lanjutannya gimana?"

AWAL TAHUN 2016

Setelah kunjungan Patricia aku berusaha untuk memusatkan pikiran ketika sedang sholat. Sejujurnya, beberapa bulan terakhir aku sholat ala kadarnya saja. Ritual tanpa isi. Sering sekali sholat sambil membuat mental to-do-list.

"Oke, abis ini mau masukin baju ke dryer, terus keluarin ayam buat di defrost. Kayaknya serai abis, oke lari ke Superstore sebentar beli serai, nanti bikin soto ayam. Eh, tadi udah sampai rakaat berapa ya?"

Kira-kira begitu isi pikiranku, multitasking di saat yang tidak tepat. Tidak jarang pula aku sholat sambil menggendong atau menenangkan Abdur.

Tapi setelah bertemu Patricia, aku berusaha untuk berubah. Setelah membaca penjelasan mengenai Seasonal Affected Depression di website NHS, aku merasa, ya, ini yang aku rasakan!

Selain minta waktu khusus untuk beribadah tanpa gangguan, aku berdiskusi dengan Mas untuk merencanakan me-time ku.

"Ada penitipan anak nggak ya?" tanya Mas. Sepertinya Mas sedang mencari alternatif lain selain dititipi Abdur selagi aku me-time. Tentu saja, karena Mas juga sibuk.

"Kayaknya penitipan anak bukan opsi deh, soalnya Abdur kan makanannya khusus, perawatannya juga khusus."

"Kalo babysitter gimana?"

"Lebih cocok sih nanny ya, Mas."

"Loh, bedanya apa?"

"Kalau di Indonesia emang babysitter itu yang merawat anak semuanya. Tapi kalau di UK ada 3 jenis, babysitter, nanny dan au pair. Kalau kita perlunya nanny, ya perannya seperti babysitter di Indonesia. Dari anak bangun sampai anak tidur lagi."

"Terus, babysitter disini ngapain?"

"Ya jagain anak aja ketika malam anak sudah tidur, kita pergi keluar. Kerjaannya minim, paling menidurkan dan jagain rumah ketika kita pergi. Di UK ada peraturan kalau anak kecil dilarang ditinggal sendiri dirumah, nanti orangtuanya bisa dipenjara kalau ketahuan."

"Oh ya? Aku baru tau."

"Kalau Mas aja yang jagain, gimana?" Seperti biasa aku berusaha bernegosiasi. "Kalo hire nanny bayarannya £7 per jam loh."

"£7? Neng mau pergi berapa lama?"

"Ya, dua jamlah."

"Oh, nggak apa-apa kalau gitu."

"Iya, seminggu sekali. Jadi sebulan ya £60 lah."

"£60? Lumayan juga ya." Seperti biasa, kalau bersinggungan dengan biaya Mas pasti jadi lebih mempertimbangkan. Aku tersenyum kecil, seorang istri bisa mendapat kebahagiaan kecil ketika mengenali cara memanipulasi keputusan suami.

Yes, pasti Mas mau jagain Abdur! Pikirku dalam hati.

Beberapa hari kemudian Mas menghampiriku di dapur. "Neng, ada kok temen-temen yang mau jagain Abdur dibayar cuman £3 per jam."

"Apa? Mas tau dari mana?"

"Aku posting di group whatsapp PPIGM."

Dalam hati aku menepok jidat. Dasar Mas! Ada aja solusi yang diluar ekspektasi.

"Udah, nggak usah."

"Loh, nggak jadi mau me-time?"

"Nggak, aku tetep me-time, tapi Mas yang jagain Abdur!"

"Lah, kan ada yang udah mau jagain Abdur."

Bola mataku berputar-putar dan hati mulai gusar.

"Yaudah, gak jadi! Gak usah!" Judesku mulai keluar. Aku menarik napas panjang dan mengulang lagi dengan lembut.

"Kalau teman yang jaga, nggak usah, sayang. Nanti aja kita pikirin solusi yang lain," aku meralat outburst judes sebelumnya.

Mas mengangguk lalu meninggalkanku di dapur. Mungkin dalam hatinya ia berfikir, "Dasar wanita, penuh teka-teki dan misteri. Dikasih solusi malah ngambek."

Tapi dalam negosiasi me-time ini aku memiliki hidden agenda untuk mendidik suami tentang dinamika merawat anak, agar mengerti apa kebutuhan anak, bagaimana menyiapkannya, lalu menjadi semakin lihai dan lebih bisa diandalkan.

Seminggu kemudian aku dikejutkan oleh suara bel rumah. Rupanya ada paket yang datang dialamatkan untuk Mas. Paketnya kira-kira muat satu anak umur 15 tahun meringkuk di dalamnya. Baiklah, bukan paket tapi tepatnya kardus. Besar.

"Mas beli apa nih?" Aku bergumam sendiri. Dalam hati aku mencurigai bahwa kiriman ini adalah sebuah benda yang sudah lama Mas incar sejak mendarat di Manchester.

Aku memutuskan untuk menunggu Mas pulang kuliah sebelum membukanya.

"Wah, gede banget! Ini apa, Neng, isinya?" tanya Mas begitu pulang, membawa angin musim dingin masuk mengisi ruang dirumah. Aku membetulkan sweater yang dipakai Abdur dan memakaikan kaus kaki. Angin musim dingin selalu membuat rumah menjadi seperti kulkas ketika pintu dibuka. Maklum, rumah kami sudah tua.

Sementara itu Mas sudah sibuk membuka kardus, bahkan jaketnya pun belum sempat dilepas.

"Nah, taraaa! Ini dia, hadiah untuk Neng, nintendo Wii!" Mata Mas berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru. Ya, Mas memang masih anak kecil di dalam hati.

"Nintendo Wii? Buat aku? Gak salah tuh Mas, kadonya?"

"Iya, Neng. Nih, lihat. Ada guitar heroes, wah, ada Let's Dance juga! Ada balancing board, bisa olahraga, wah ada game racing juga, asyik!" Dalam hati aku berfikir bahwa ini kado yang lebih cocok untuk Mas, sepertinya.

"Kenapa, Mas, kok aku dibeliin Nintendo Wii?"

"Ya, biar Neng betah dirumah."

Rasanya ingin tepok jidat sekencang-kencangnya. Mas betul-betul sering di luar dugaan.

"Mas, sejak kapan aku suka main game?"

Mas berfikir sejenak, "Iya juga ya, Neng gak suka main game ya? Yaah, udah dibeli di eBay."

Alhamdulillah, barang yang dibeli adalah bekas, jadi harganya pun miring. Sebetulnya aku tersentuh Mas mau membelikan hadiah, tapi sekaligus terbesit rasa kecewa, karena Mas tidak tahu apa kesenanganku.

"Makasih, Mas, sudah dibeliin. Tapi bukannya kita lagi nabung ya? Untuk haji?"

"Iya juga ya." Pelan-pelan Mas melempem seperti balon kebocoran angin. Kasihan juga melihatnya, niatnya baik, ingin memberiku kejutan, tapi yang terfikir olehku adalah, uang yang dipakai bisa mendanai kami untuk vakansi singkat ke kota-kota dekat. Aku lebih suka jalan-jalan daripada main game dirumah. Sedangkan uang kami pas-pasan.

"Yaudah, yuk, dipasang aja Wii-nya, aku jago main Guitar Heroes loh," aku menantang Mas. Dengan itu Mas terpancing untuk kembali bergairah menyambut mainan barunya.

Beberapa hari kemudian, aku sedang menonton TV ketika ada iklan album baru Coldplay. Rupanya mereka akan konser di kota Manchester!

"Mas! Mas! Maaaaaas!" Aku lantas berteriak kegirangan.

"Apa, Neng, apa?" Mas buru-buru turun tangga dari lantai atas untuk menyahut teriakanku. Abdur terduduk menatapku dan Mas bergantian. Mungkin ia kebingungan melihat orangtuanya.

"Coldplay mau konser! Di Manchester! Aku harus nonton, Mas, pleeease, aku pengen nonton banget!"

"Astaghfirullah, Neng. Kirain ada apa teriak-teriak. Cuman konser doang ternyata."

"Mas, ini Coldplay. Coldplay, Mas!" Aku berusaha menerangkan betapa masifnya berita ini.

"Iya, iya, main dingin. Iya kan?" Hahaha," Mas menertawakan guyonannya sendiri. Renyah.

"Mas, aku pengen​ nonton banget, boleh ya?"

"Kapan sih?"

"Hmm, kayaknya Juni. Eh, berarti pas puasa ya? Hmm, tapi nanti kalo nonton, Abdur gimana ya?"

Perlahan aku mengurungkan niat untuk pergi nonton konser. Terlalu banyak yang harus dipersiapkan. Tapi sudah lama sekali aku tidak nonton konser, dan ini konser salah satu band yang aku sukai sejak SMA.

Aku mencoba membeli tiket konser menggunakan kode harga khusus, namun selalu gagal. Ya sudahlah, aku dengan terpaksa menerima kenyataan bahwa sekali lagi aku gagal nonton konser Coldplay, walau sedih dan kecewa tapi aku berusaha tidak memikirkannya.

Beberapa hari kemudian aku iseng memeriksa saldo bank melalui internet banking. Memang selama ini aku tidak terlalu memperhatikan arus kas masuk, hanya sibuk menekan arus kas keluar agar sesuai budget. Namun setelah melihat Mas membeli Nintendo Wii yang harganya cukup untuk memberi makan selama seminggu, aku jadi bertanya-tanya tentang posisi keuangan kami.

"Hah? Yang bener nih?" Aku terkejut melihat saldo bank yang biasanya pas-pasan sesuai budget, kali ini ada £3,500! Sungguh bagi kami itu angka yang bombastis. Kalau dirupiahkan akan setara dengan Rp. 70,000,000.

Mungkin ada diantara kalian yang berkomentar, "Haa, itu mah cuman gaji gue sebulan doang" atau "Itu mah omzet bisnis gue sehari."

Jika betul demikian, maka aku mengucapkan Alhamdulillah, teman-temanku diberi rejeki yang begitu banyak, semoga barokah.

"Mas, kita saldonya udah £3000 lebih nih!"

"Emang."

"Kok aku baru tau sih?"

"Iya, Neng, itu kan dari hasil Airbnb juga dari tabungan kita."

"Wah, kalo segini udah hampir separuh hutang kita nih."

Mas terdiam sesaat seperti sedang berfikir. "Bener juga ya, Neng."

Malamnya setelah selesai sholat isya, Mas mengajakku diskusi.

"Neng, gimana kalau kita habisin uangnya."

"Hah? Mau diabisin? Buat apaan?"

"Buat bayar hutang kita. Neng perlu berapa untuk biaya sehari-hari?"

"Ya, sisain aja sekitar £500 deh, untuk bulan ini juga buffer bulan depan."

Hatiku deg-degan. Sesaat aku menjadi takut harus hemat habis-habisan agar cukup dananya sampai bulan depan. Tapi prinsip yang ditanamkan oleh Papa sedari kecil adalah untuk melunasi hutang secepat mungkin, atau lebih baik jangan berhutang sama sekali.

Akhirnya kami memutuskan untuk membayar hutang kami, juga membayar uang sewa untuk beberapa bulan ke depan.

Saldo bank yang awalnya 4 digit dalam sekejap berubah menjadi 3. Bahkan jumlah buffer yang kuminta pun tidak dipenuhi, Mas hanya menyisakan £300. Aku sedikit khawatir bagaimana bertahan hidup sampai dapat kiriman living alowance. Tapi dengan terkirimnya uang kami kepada orang-orang yang lebih berhak, ada beban dalam hati yang semakin ringan.

Kondisi mentalku pun semakin membaik, aku jadi lebih sabar dengan Abdur dan lebih mensyukuri nikmat dan kesempatan langka dapat tinggal di luar negeri dengan rumah yang baik, makanan yang bergizi dan kasih sayang tanpa henti dari anak dan suami.

Oh, rupanya selama rejekiku tidak barokah karena punya uang tapi tidak bayar hutang, jadi aku menjadi stress. Membayar hutang menjadi salah satu obat hati. Teringat sebuah nasehat Rasulullah Saw diriwayatkan oleh HR Bukhori, " Barang siapa yang hutang uang kepada orang, lantas berkehendak untuk membayarnya maka Allah akan mempermudah jalannya untuk melunasinya. Barang siapa yang hutang dengan tujuan tidak membayar maka Allah akan membinasakannya."

Memang benar, jika kami berniat, maka Allah Swt. memberikan jalan keluar. Dan saat itu, kami tak menyangka akan merasakan romantisme matematika Allah dari arah yang tidak terduga yang mengantar kami ke tanah suci.