Eps 4: Dunia di Depan Pintu

#YodhaAmiNaikHaji

*ding* Path notification. Si A jalan-jalan keliling UK.

*Ding* Facebook notification. Si B jalan-jalan keliling Eropa.

*Ding* More notifications. C, D dan E wisata kuliner keliling Manchester.

Alangkah iri hatiku melihat kawan-kawan menikmati kesempatan langka tinggal di luar negeri. Disaat teman-teman bersenang-senang menikmati indahnya ciptaan Allah di dunia, aku berkutat dengan akuntansi biaya rumah tangga yang harus di press.

Boro-boro untuk jalan-jalan, untuk beli tempe saja harus bertapa di depan etalase kulkas WH Lung untuk mengukur kerelaan berpisah dengan £1.50.

Untuk menambah arus kas masuk, Mas mengusulkan untuk berbisnis Airbnb, dimana kami menyewakan kamar tamu kepada para traveler dengan harga bersaing dengan hotel.

Kerjaanku lantas bertambah berat. Selain merawat anak dan suami, memasak, mencuci, belanja, dan melipat baju (aku menyerah untuk menyetrika. Tidak, terima kasih!), kini aku pun harus menyiapkan kamar Airbnb dan sarapan ala western untuk para tamu.

Kendalanya, seprei hanya ada 2, dan kadang ada tamu back-to-back sehingga aku belum sempat mencuci.

"Mas, aku perlu seprei lebih banyak," protesku.

"Hmm, kalau pake yang ada dulu gimana?"

"Aduh, aku ga sempet nyucinya kalo tamu banyak."

"Kalo pakai seprei yang diwariskan teman-teman gimana?"

Kepalaku mendidih. Entah mengapa sejak kerjaanku bertambah, emosiku mudah meledak, dan setiap diskusiku dengan Mas pasti memicu amarah.

"Mas, yang itu kita aja yang pake, soalnya udah mulai belel. Kan malu kalo ada tamu sepreinya belel, nanti kalo rating turun gimana? Lagian itu gak sesuai sama standar aku. Apa susahnya sih ngeluarin sedikit uang untuk beli seprei? Emang Mas yang ganti seprei? Emang yang nyuci siapa? Mas ngerti pake mesin cuci gimana?"

Seperti biasa, ibu-ibu yang kekurangan piknik itu akan meledak dan merembet kemana-mana ketika keinginannya tidak dituruti. Percayalah, kami kuat nyerocos sampai semua kata di dalam kamus kami sebutkan.

"Oke. Oke." Mas menyerah dan menuruti kemauanku. Memang, Mas ini sangat hemat. Sampai kebangetan. Tapi itu cerita di episode berikutnya.

Awalnya aku sangat membenci beban kerja yang bertambah. Rasanya gak value added pada hidupku. Aku tambah capek 100x, tapi uangnya tidak bisa kunikmati untuk kesenanganku. Aku menjadi babu tanpa gaji.

Yang mengganjal di hati adalah keputusan Mas untuk menunda jalan-jalan demi menabung untuk haji. Padahal aku sangat ingin mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kusinggahi, seperti kota Venice.

Aku tidak ikhlas. Aku ingin jalan-jalan!

Namun Allah dengan romantisnya mendengar jeritan suara hambanya. Ya Allah, hamba ingin melihat dunia.

Aku tidak bisa keluar rumah, tetapi Allah membawa dunia ke dalam rumah.

Tamu-tamu kami beragam asalnya. Sepanyol, Prancis, Belgia, India, Amerika, Jerman, Korea, juga dari Indonesia.

Sebagai kota bola dan kota musik, banyak yang datang ke Manchester untuk menikmati aneka acara yang tersaji di metropolitan ini. Dan karena letak rumah yang strategis, akhirnya kamar Airbnb kami laris.

Kami mengatur jadwal Airbnb sedemikian rupa, sehingga setelah ada tamu akan ada jeda 1 hari untukku istirahat. Namun, setiap minggu minimal ada 3 tamu yang datang.

Rumahku jadi tempat singgah para traveler muda dan tua, meja makan di kala sarapan menjadi wadah pertukaran budaya dan pikiran.

Semakin lama, aku semakin menikmati menjado host Airbnb, mungkin karena jiwa melayuku yang suka memberikan pelayanan terbaik pada tamu tersalurkan.

"I really enjoyed my stay! Amy and Yodha were such lovely and accommodating host."

Review-review positif pun semakin mendongkrak kepercayaan diri dan self-worth yang kurasa meluntur karena transisi dari ibu berkarir menjadi ibu rumah tangga.

Tidak sedikit dari mereka yang menjadi kawan di facebook, dan terus menjadi kawan baik hingga saat ini.

Beberapa tamu kami diantaranya ada mahasiswa musik dari Austria yang mendapat beasiswa di Manchester Metropolitan University, researcher PHD nuklir dari USA, yang sedang ada seminar di University of Manchester, dua sahabat dari Belgia, yang menjadi sahabat sesama fans series Highlander, dan juga pasangan dari Indonesia yang super fans-nya Manchester City.

Bagai diisi ulang daya, aku jadi semakin bergairah menjalani hidup. Otakku juga mendapat stimulan karena mendiskusikan berbagai topik dari anak, politik, agama, musik, sejarah, dan budaya. Intellectually, I was satisfied.

Rasa puas juga disebabkan oleh bertambahnya tabungan kami, sehingga impian haji kami berubah dari "impossible" menjadi "potentially attainable".

Namun, ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Ada badai di hati yang membuatku berubah menjadi momster.

Aku jadi sering marah, sering menangis, meninggikan suara bahkan membentak-bentak Abdur. Sering rasanya isi hati dan kepala terlalu penuh sampai tumpah menjadi air mata histeris.

Airbnb, anak, suami, haji. Diatas tantangan itu semua, ditahun yang sama aku pun harus berperang melawan diriku sendiri.