Bad Memories, Remember or Just Forget It?

Aku suka bercerita, tapi tidak semua cerita berani aku utarakan ke dunia. Cerita-cerita yang menurutku private, kuceritakan ke dalam buku diary dan sudah kulakukan dari masa Sekolah Dasar. Banyak yang menganggap itu sesuatu yang memalukan, tapi tidak untukku. Menurutku, diary termasuk potongan kenangan yang mungkin tidak bisa disimpan seluruhnya ke dalam memori otak manusia. Di waktu luang, aku sering membaca kembali cerita-cerita yang pernah aku tulis sebelumnya. Sambil membaca, muncul perasaan hangat atau rasa geli di hati karena mengingat apa yang sudah telah terjadi di masa lalu.

Ceritanya tidak sembarang cerita. Dari dulu, aku berkomitmen untuk selalu menceritakan sebuah kebaikan daripada kesedihan, karena tidak layak untuk dikenang.

Di umurku yang ke-21, aku mengalami masa hidup paling buruk. Aku merasa sendirian, dijauhi, dan dikhianati. Banyak orang-orang yang selama ini aku kenal dengan “teman”, ternyata tidak bermakna seindah itu. Cerita bermulai pada saat aku mengetahui sisi gelap seseorang. Maaf mungkin terlalu kasar, aku sebut dia Evil. Evil tidak sendirian, dia punya banyak pengikut. Walaupun tragediku bersama Evil terasa seperti duniaku hancur lebur, aku juga harus merasa teruji dengan beberapa pengikutnya.

Ada pengikut Evil yang kurasa seperti racun, ya sebut aja Racun. Di depanku, Racun terasa seperti obat karena menjadi pendengar yang baik. Waktu itu, aku merasa Racun percaya padaku, tapi sebenarnya tidak. Dengan brutal dia berkata yang buruk di belakangku, termasuk menghinaku. Walaupun banyak kata-kata buruk yang diarahkan padaku semenjak tragedi Evil, aku selalu berusaha berlapang dada dengan tidak menghiraukannya, tapi aku tidak sanggup menerapkan hal itu pada Racun. Sejauh pengetahuanku, kata-kata Racun lah yang paling buruk dan kotor. Aku tidak bisa mentolerir hal itu. Tanpa ada pemberitahuan, kuputuskan untuk tidak lagi mengenalnya. Tapi hubunganku dengan Racun tidak berakhir semudah itu.

Racun mulai mengatakan ke orang-orang kalau kepribadianku semakin melenceng karena entah kenapa aku mengabaikannya. Sampai tadi ada yang bertanya padaku, “Kamu kenapa musuhan sama Racun?”

Apa? Musuhan? Ahahahahaha

Dia melanjutkan, “Aku pernah nanya ke Racun, tapi dia bilang ‘Gak musuhan kok. Sebenarnya Mita ada masalah sama orang lain tapi malah salah paham sama aku’ ”.

What? Salah paham? Semudah itu dia bilang ‘salah paham’ padahal kata-katanya tentangku sangat jelas penuh dengan keburukan.

Aku mengendalikan hatiku dan menjawab dengan santai, “Mungkin aku masih bisa haha-hihi dengan omongan orang-orang tentangku, tapi enggak ke Racun. Omongannya kelewatan, aku nggak bisa tolerir” jawabku.

“Emang Racun bilang apa?” tanyanya lagi.

Terus aku berpikir, ‘Oh iya, apa ya? Racun bilang apa?’. Hah?!! Aku lupa!!! Aku cuma ingat, Racun bicara kelewatan tentangku. Di depanku memberi rangkulan, tapi menancapkan pisau besar di punggungku. Aku cuma ingat itu. Aku cuma ingat omongannya pernah membuatku menangis dalam diam. Apa yang pernah dikatakannya? Apa yang pernah dilakukannya padaku? Aku tidak ingat sedikitpun…

Berusaha berpikir, dimana aku meninggalkan jejak kalimatnya. Tapi aku tidak pernah meninggalkan kata-katanya ke dalam bentuk tulisan di media sosial apalagi di dalam diary-ku. Tidak pernah. Kemudian aku ingat tujuan awal aku berkomitmen dengan tidak menulis sesuatu yang buruk… Agar aku tidak mengenangnya di kemudian hari.

Hatiku seperti menolak karena lupa pada kejahatannya…

Sekarang yang aku ingat hanya pada perasaan down dan sedih yang pernah kurasakan akibat kata-kata Racun, tidak dengan barisan kata-katanya. Aku mulai bertanya-tanya, kenapa aku harus melupakan perlakuan orang jahat padaku? Orang jahat yang tidak punya hati. Dengan ringan dia mengartikan ‘salah paham’ ke orang lain, padahal tidak sedangkal itu.

Kenangan buruk, haruskah diingat atau dilupakan saja?